Harhubnas 2026, Menhub Dudy: Bangun Transportasi Indonesia Bukan Pekerjaan Mudah, Keselamatan Jadi Prioritas Utama

Berita109 Dilihat

DetikSR.id Jakarta, Menteri Perhubungan (Menhub) Dudy Purwagandhi menegaskan pembangunan transportasi Indonesia bukan pekerjaan mudah. Di tengah tuntutan konektivitas yang semakin luas dan kebutuhan mobilitas masyarakat yang terus meningkat, keselamatan harus ditempatkan sebagai prinsip utama dalam setiap penyelenggaraan transportasi.

Pesan tersebut disampaikan Dudy saat memimpin Upacara Hari Perhubungan Nasional (Harhubnas) 2026 di Kantor Kementerian Perhubungan, Jakarta, pada (17/9/2026).

Menurut Dudy, tantangan sektor transportasi tidak hanya berkaitan dengan pembangunan infrastruktur dan penyediaan sarana angkutan. Pemerintah juga dituntut memastikan setiap layanan transportasi berlangsung aman, andal, terintegrasi, serta mampu menjangkau seluruh lapisan masyarakat.

“Membangun transportasi Indonesia bukan pekerjaan mudah, menuntut kita untuk terus memperkuat keselamatan, memperluas konektivitas antardaerah dan menghadirkan sistem transportasi yang andal serta berkelanjutan,” ujarnya.

Dudy mengatakan harapan masyarakat terhadap layanan transportasi yang aman, andal, dan berkeselamatan terus meningkat. Karena itu, peringatan Harhubnas tidak boleh berhenti sebagai seremoni tahunan.

Momentum tersebut, kata dia, harus digunakan untuk mengevaluasi kualitas pelayanan sekaligus memperbarui komitmen seluruh insan perhubungan kepada masyarakat.

Dudy menaruh perhatian khusus terhadap aspek keselamatan. Berbagai musibah transportasi yang terjadi dalam beberapa waktu terakhir, menurut dia, menjadi pengingat bahwa keselamatan tidak boleh diperlakukan hanya sebagai bagian dari prosedur administratif.

Atas berbagai peristiwa tersebut, Dudy menyampaikan duka cita kepada para korban dan keluarga yang ditinggalkan.

“Atas nama pribadi dan keluarga besar Kementerian Perhubungan, saya kembali menyampaikan duka cita yang mendalam kepada para korban dan keluarga yang ditinggalkan,”
katanya.

Ia menegaskan keselamatan harus menjadi nilai yang melekat dalam setiap pengambilan keputusan dan pelaksanaan tugas di sektor transportasi.

“Keselamatan adalah tanggung jawab moral. Lebih dari itu, keselamatan adalah harga diri Insan Perhubungan,” tegasnya.

Menurut Dudy, penegasan tersebut semakin penting karena insan perhubungan bekerja dalam lingkungan yang semakin kompleks. Di satu sisi, konektivitas harus terus dijaga agar mobilitas masyarakat dan distribusi barang tidak terganggu. Di sisi lain, aspek keselamatan tidak boleh dikompromikan.

Karena itu, petugas di lapangan harus memiliki keberanian untuk menghentikan operasi apabila kondisi dinilai tidak aman. Namun, penghentian tersebut harus diikuti langkah cepat untuk mencari alternatif sehingga mobilitas masyarakat maupun distribusi bantuan tidak terputus.

Dudy juga mengingatkan bahwa transportasi tidak dapat dipandang semata-mata sebagai persoalan kendaraan dan infrastruktur.

Transportasi memiliki fungsi yang lebih luas sebagai penghubung masyarakat, wilayah, pusat produksi, hingga pasar. Konektivitas yang baik, menurutnya, diperlukan untuk menekan biaya angkut dan biaya logistik sekaligus memperluas pemerataan pembangunan.

Dalam konteks tersebut, Presiden Prabowo Subianto menekankan pentingnya konektivitas antara pusat-pusat produksi dan permukiman. Kebijakan transportasi harus mampu memberikan nilai tambah bagi aktivitas ekonomi sekaligus memastikan hasil pembangunan dapat dirasakan lebih luas.

Harhubnas 2026 mengusung tema “Menghubungkan Indonesia untuk Masa Depan Lebih Maju.” Tema tersebut menggambarkan peran transportasi dalam mempertemukan keluarga, membuka kesempatan kerja, membawa bahan pangan, menggerakkan industri, serta menghadirkan layanan negara hingga wilayah terdepan, terluar, dan terpencil (3T).

Dengan demikian, keberhasilan sektor transportasi tidak cukup diukur dari bertambahnya jalan, terminal, pelabuhan, bandara, stasiun, maupun armada. Ukuran lainnya adalah seberapa jauh konektivitas tersebut mampu memperlancar pergerakan manusia dan barang serta menurunkan hambatan biaya dan waktu.

Dudy menyebut tugas insan perhubungan ke depan semakin berat. Pemerintah harus memastikan layanan transportasi perintis tetap berjalan, memperkuat angkutan massal perkotaan, membangun integrasi antarmoda, serta membenahi sistem logistik secara berkelanjutan.

Tantangan tersebut menjadi semakin kompleks karena kebutuhan mobilitas masyarakat terus berkembang. Pertumbuhan aktivitas ekonomi juga menuntut sistem transportasi yang mampu bergerak lebih cepat, efisien, tetapi tetap mengutamakan keselamatan.

Dalam kondisi tertentu, terutama ketika terjadi bencana atau gangguan operasional, insan perhubungan dituntut tidak hanya menjalankan prosedur, tetapi juga mampu mengambil keputusan secara cepat dan tepat untuk menjaga konektivitas.

Transformasi digital juga menjadi bagian penting dalam pembenahan sektor transportasi. Dudy menilai perkembangan teknologi dapat membuat pengawasan semakin transparan dan efektif, meningkatkan kepatuhan, memperkuat keselamatan perjalanan, serta menciptakan sistem logistik yang lebih tertib.
Namun, ia mengingatkan teknologi bukan jawaban atas seluruh persoalan pelayanan publik.

“Namun secanggih apa pun teknologi, ujung dari pelayanan publik tetaplah manusia. Aplikasi, sistem pengawasan, serta infrastruktur terbaik pada akhirnya berpulang kepada integritas kita,” imbuhnya.

Karena itu, menurut Dudy, pemanfaatan teknologi harus berjalan beriringan dengan kualitas sumber daya manusia. Respons terhadap kebutuhan masyarakat, ketangguhan menghadapi situasi darurat, serta tanggung jawab terhadap keselamatan dan keamanan harus tercermin dalam pekerjaan sehari-hari.

“Tanggap terhadap kebutuhan masyarakat, tangguh menghadapi tantangan, serta bertanggung jawab terhadap keselamatan dan keamanan jasa perhubungan harus terlihat dalam cara kita bekerja setiap hari,” tutupnya.

Untuk memperkuat budaya keselamatan, momentum Harhubnas 2026 juga diarahkan menjadi pengingat bagi seluruh insan perhubungan agar menjadikan September sebagai Bulan Keselamatan Transportasi.

Langkah tersebut diarahkan bukan sekadar menjadi agenda satu bulan, melainkan menjadi bagian dari upaya membangun budaya keselamatan yang diterapkan secara konsisten sepanjang tahun.

Pesan Dudy menempatkan keselamatan dan konektivitas sebagai dua agenda yang harus berjalan beriringan.
Transportasi harus tetap mampu menghubungkan masyarakat dan menggerakkan perekonomian, tetapi setiap keputusan operasional tetap harus berpijak pada keselamatan.

Pada akhirnya, pembangunan transportasi nasional tidak hanya berbicara tentang seberapa jauh pemerintah membangun infrastruktur dan memperluas jaringan.

Tantangan yang lebih mendasar adalah memastikan seluruh jaringan tersebut benar-benar aman, terintegrasi, andal, dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

Dalam kerangka itulah Harhubnas 2026 menjadi momentum untuk menegaskan kembali bahwa transportasi merupakan bagian penting dari pelayanan publik sekaligus fondasi konektivitas dan pemerataan pembangunan Indonesia.

Ervinna

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *