Danantara Targetkan Merger Empat BUMN Karya Rampung Akhir November 2026, Restrukturisasi Utang Jadi Prioritas

Berita88 Dilihat

DetikSR.id Jakarta, Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) menargetkan penggabungan atau merger empat perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) sektor konstruksi atau BUMN Karya rampung paling lambat pada akhir November 2026.

Langkah konsolidasi tersebut menjadi bagian dari upaya pembenahan fundamental perusahaan pelat merah di sektor konstruksi, terutama untuk memperkuat struktur usaha dan menyelesaikan persoalan keuangan secara berkelanjutan.

Chief Operating Officer (COO) Danantara sekaligus Kepala Badan Pengaturan (BP) BUMN, Dony Oskaria, mengatakan proses merger tersebut mencakup dua kelompok perusahaan, yakni PT Nindya Karya (Persero) dengan PT Brantas Abipraya (Persero), serta PT Adhi Karya (Persero) Tbk dengan PT PP (Persero) Tbk.

Dony optimistis proses penggabungan keempat perusahaan tersebut dapat diselesaikan sesuai target karena kondisi dan tingkat kompleksitas restrukturisasinya relatif lebih mudah ditangani dibandingkan sejumlah BUMN Karya lainnya yang masih menghadapi tekanan keuangan berat.

“Ini kita harapkan nanti paling telat itu di akhir November sudah selesai,” ujar Dony dalam agenda Investor Daily Summit 2026 di Jakarta, pada (8/10/2026).

Menurut Dony, penggabungan perusahaan tidak boleh berhenti pada perubahan struktur organisasi atau penyatuan entitas bisnis. Proses tersebut harus menjadi bagian dari pembenahan menyeluruh agar perusahaan hasil merger tidak kembali menghadapi persoalan keuangan yang sama di kemudian hari.

Karena itu, setelah merger, Danantara akan melanjutkan langkah penyehatan melalui divestasi aset-aset yang tidak berkaitan langsung dengan kegiatan usaha utama atau non-core assets. Hasil pelepasan aset tersebut akan dialokasikan secara khusus untuk mengurangi sisa utang operasional perusahaan.

Setelah tahapan tersebut, restrukturisasi utang akan dilanjutkan dengan memperhitungkan kemampuan pembayaran masing-masing entitas. Pendekatan ini diharapkan dapat menghasilkan struktur keuangan yang lebih sehat, sekaligus mengurangi tekanan kewajiban yang selama ini membebani kinerja perusahaan.

Dony menegaskan, Danantara tidak ingin penyehatan BUMN hanya menghasilkan perbaikan di atas kertas tanpa menyentuh akar persoalan.

“Jadi, satu per satu perusahaan itu kita selesaikan secara baik karena saya tidak mau setelah hari ini cuma dipoles-poles, kemudian nanti menjadi problem lagi. Nah, perbaikan itu harus fundamental, harus benar-benar,” ungkapnya.

Pernyataan tersebut menegaskan bahwa agenda konsolidasi BUMN Karya tidak semata-mata berorientasi pada efisiensi jumlah perusahaan. Lebih jauh, restrukturisasi diarahkan untuk memastikan setiap entitas memiliki struktur bisnis, aset, dan kewajiban yang lebih proporsional dengan kapasitas operasionalnya.

Berbeda dengan empat perusahaan yang masuk dalam rencana merger, penyehatan PT Wijaya Karya (Persero) Tbk atau WIKA dan PT Waskita Karya (Persero) Tbk membutuhkan kajian lebih mendalam. Kedua perusahaan tersebut menghadapi persoalan keuangan yang lebih kompleks sehingga tidak dapat ditangani hanya melalui penggabungan usaha.

Dony mengungkapkan, WIKA memiliki beban utang sekitar Rp34 triliun yang belum diimbangi kecukupan aset penjamin atau underlying assets. Kondisi tersebut membuat penyelesaian kewajiban perusahaan memerlukan perhitungan yang cermat, terutama dalam menentukan sumber pembayaran utang dan kemampuan aset perusahaan menopang proses restrukturisasi.

Sementara itu, untuk Waskita Karya, Danantara masih mengevaluasi berbagai opsi penyehatan, termasuk kemungkinan mengoptimalkan portofolio aset jalan tol yang dikelola melalui Waskita Toll Road.

Optimalisasi aset menjadi salah satu aspek penting dalam pembahasan tersebut. Namun, keputusan akhir perlu mempertimbangkan nilai ekonomi aset, potensi arus kas, serta dampaknya terhadap kemampuan perusahaan memenuhi kewajiban keuangan.

“Kita mesti betul-betul melihat mesti diapain perusahaan ini, karena arah dari Pak Presiden, sekali kita melakukan perbaikan itu harus tuntas. Kita enggak mau setengah-setengah, hanya poles-poles, enggak ada gunanya. Ini yang agak memakan waktu,” kata Dony.

Danantara Pilih Pendekatan Berbeda Untuk Setiap Perusahaan

Dony menegaskan, penanganan BUMN Karya tidak dapat dilakukan dengan pendekatan seragam. Setiap perusahaan memiliki kondisi keuangan, komposisi aset, profil utang, dan prospek bisnis yang berbeda sehingga membutuhkan skema penyehatan yang disesuaikan dengan karakteristik masing-masing.

Menurut dia, empat perusahaan yang masuk dalam rencana merger relatif lebih mudah dikonsolidasikan. Sebaliknya, perusahaan dengan beban utang besar dan persoalan aset yang lebih rumit memerlukan evaluasi menyeluruh sebelum keputusan strategis diambil.

“Saya orangnya mesti teliti satu-satu, dilihat lagi future-nya akan kayak gimana dan sebagainya. Tapi kalau yang empat (BUMN-BUMN Karya yang cenderung lebih sehat) relatif mudah untuk kita lakukan (merger),” ucapnya.

Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa Danantara berupaya memisahkan agenda konsolidasi bisnis dari penyelesaian persoalan keuangan yang lebih mendasar. Merger dapat menjadi instrumen untuk memperkuat skala usaha dan menyederhanakan struktur perusahaan, tetapi tidak dengan sendirinya menghapus utang atau menjamin perbaikan kinerja operasional.

Ujian Sesungguhnya Ada Pada Penyelesaian Utang dan Kinerja Pascamerger

Target penyelesaian merger pada akhir November 2026 menjadi salah satu tahapan penting dalam penataan BUMN Karya. Meski demikian, keberhasilan konsolidasi pada akhirnya akan ditentukan oleh kemampuan perusahaan hasil merger memperbaiki kinerja operasional, meningkatkan produktivitas aset, serta mengelola kewajiban keuangan secara lebih disiplin.

Penggunaan hasil divestasi untuk membayar utang operasional juga perlu diikuti dengan pengelolaan arus kas yang sehat agar pelepasan aset tidak sekadar memberikan solusi jangka pendek. Perusahaan harus tetap memiliki kapasitas bisnis yang memadai untuk menghasilkan pendapatan dan memenuhi kewajiban setelah proses restrukturisasi berjalan.

Di sisi lain, penanganan WIKA dan Waskita akan menjadi ujian tersendiri bagi strategi penyehatan BUMN Karya. Besarnya kewajiban keuangan, kecukupan aset, serta kelayakan bisnis ke depan menjadi faktor penting dalam menentukan apakah restrukturisasi dapat menghasilkan perbaikan yang berkelanjutan.

Dengan demikian, agenda Danantara tidak hanya menyasar penyelesaian merger empat BUMN Karya, tetapi juga pembenahan struktur keuangan dan model bisnis perusahaan konstruksi milik negara secara lebih menyeluruh.

Tantangan berikutnya adalah memastikan seluruh langkah tersebut benar-benar menghasilkan perusahaan yang lebih sehat, produktif, dan mampu bertahan tanpa terus dibayangi persoalan utang yang berulang.

Ervinna

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *