Bau Busuk dan Gunungan Sampah 6 Meter di Pasar Induk Kramat Jati Capai 6.970 Ton, Krisis Armada Picu Keluhan Warga

Berita171 Dilihat

DetikSR.id Jakarta, Tumpukan sampah setinggi sekitar enam meter menggunung di kawasan Pasar Induk Kramat Jati, memicu keluhan warga dan pedagang akibat bau menyengat yang mengganggu aktivitas sehari-hari. Kondisi ini disebut sebagai dampak langsung dari keterbatasan armada pengangkut sampah yang telah berlangsung sejak awal Maret.

Pihak Perumda Pasar Jaya mengungkapkan bahwa total sampah yang menumpuk di lokasi tersebut mencapai sekitar 6.970 ton. Jumlah tersebut setara dengan kurang lebih 410 truk tronton, mencerminkan skala persoalan yang kini dihadapi salah satu pusat distribusi pangan terbesar di ibu kota.

Manager Humas Perumda Pasar Jaya, Topik Hidayatulloh, menjelaskan bahwa penumpukan sampah dipicu oleh kendala teknis dalam penyediaan armada pengangkutan sejak 9 Maret 2026.

Ia menegaskan bahwa pihaknya telah berkoordinasi dengan Dinas Lingkungan Hidup Jakarta untuk mempercepat penanganan.
“Kami terus berupaya mengatasi kondisi ini. Dalam dua hari ke depan diharapkan ada progres signifikan,” ujar Topik dalam keterangannya, (29/3/2026).

Sebagai langkah darurat, sebanyak 33 truk tronton telah dikerahkan untuk mengangkut sampah dari lokasi. Armada tersebut terdiri dari 20 unit yang dioperasikan pada hari sebelumnya dan 13 unit tambahan yang mulai beroperasi hari ini. Meski demikian, jumlah tersebut dinilai masih belum mencukupi untuk mengejar volume sampah yang terus bertambah setiap harinya.

Selain upaya jangka pendek, Perumda Pasar Jaya juga tengah mempersiapkan solusi struktural. Salah satunya adalah pengadaan lima unit truk sampah mandiri dengan kapasitas masing-masing 16 meter kubik.

Armada baru ini ditargetkan mulai beroperasi pada akhir April 2026 guna memperkuat sistem pengangkutan internal.
Tak hanya itu, kerja sama dengan pihak ketiga juga akan dioptimalkan untuk mempercepat distribusi dan pengangkutan sampah ke tempat pembuangan akhir.

Langkah ini diharapkan mampu mencegah terulangnya penumpukan dalam skala besar seperti saat ini.
Dalam jangka panjang, Perumda Pasar Jaya berencana mengadopsi teknologi pengolahan sampah berkelanjutan.

Uji coba teknologi thermal hydrolysis serta sistem MASARO (Manajemen Sampah Zero) tengah disiapkan sebagai solusi inovatif untuk mengolah sampah langsung dari sumbernya, sehingga mengurangi ketergantungan pada pengangkutan konvensional.

Di sisi lain, kondisi di lapangan menunjukkan situasi yang memprihatinkan. Tumpukan sampah tidak hanya menjulang tinggi hingga melampaui lampu penerangan jalan dan kendaraan truk, tetapi juga menimbulkan bau busuk yang menyengat akibat pembusukan limbah buah dan sayuran.

Ironisnya, pada Minggu pagi belum terlihat aktivitas pengangkutan di lokasi. Hanya terdapat papan peringatan yang dipasang oleh Kementerian Lingkungan Hidup sebagai penanda kondisi darurat lingkungan.

Warga sekitar menjadi pihak yang paling terdampak. Sugiat (55), salah satu warga yang tinggal di sekitar pasar, mengaku aktivitasnya terganggu akibat bau menyengat yang terus tercium sepanjang hari.
“Lebih banyak dampaknya, jelas mengganggu. Baunya itu menyengat sekali. Kalau yang punya penyakit pernapasan bisa langsung sesak,” ujarnya.

Sugiat juga mengungkapkan bahwa kondisi serupa bukan kali pertama terjadi. Pada Januari lalu, penumpukan sampah sempat terjadi akibat minimnya armada pengangkut.
“Waktu itu sempat bersih, tapi ya kembali lagi. Harusnya tiap hari minimal 15 mobil angkut, tapi yang jalan paling enam atau tujuh,” tambahnya.

Situasi ini menyoroti persoalan klasik dalam pengelolaan sampah perkotaan, khususnya di pusat distribusi besar seperti Pasar Induk Kramat Jati. Tanpa perbaikan sistemik, baik dari sisi armada, manajemen, maupun teknologi pengolahan, potensi krisis serupa dikhawatirkan akan terus berulang dan berdampak luas pada kesehatan masyarakat serta lingkungan.

Ervinna

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *