Program ATENSI Kemensos Dorong Kemandirian Penyandang Disabilitas Psikososial di Jombang Hasilkan Karya Bernilai Ekonomi

Berita50 Dilihat

DetikSR.id Jakarta, Kementerian Sosial (Kemensos) terus memperkuat upaya pemberdayaan penyandang disabilitas psikososial melalui program Asistensi Rehabilitasi Sosial (ATENSI).

Program tersebut tidak hanya berfokus pada pemulihan sosial, tetapi juga membuka peluang usaha dan meningkatkan kemandirian ekonomi para penerima manfaat.

Hasil nyata dari program ini terlihat di Kabupaten Jombang, Jawa Timur. Penyandang disabilitas psikososial yang mendapatkan pendampingan melalui Pos Kesehatan Jiwa (Poskeswa) kini mampu menghasilkan berbagai produk bernilai ekonomi, mulai dari telur asin, tas makrame, hingga sapu berbahan serabut kelapa.

Aroma gurih telur asin yang baru matang memenuhi ruang pemberdayaan di Balai Desa Dukuhklopo, Kecamatan Peterongan.

Di sudut lain, sejumlah penyandang disabilitas tampak tekun menganyam tas, sementara peserta lainnya mengolah serabut kelapa menjadi sapu yang siap dipasarkan.

Produk-produk tersebut menjadi bukti bahwa penyandang disabilitas psikososial mampu berkarya dan mandiri ketika memperoleh kesempatan, pendampingan, serta dukungan yang berkelanjutan.

Kegiatan pemberdayaan itu mendapat perhatian langsung dari Penasihat Dharma Wanita Persatuan (DWP) Kementerian Sosial RI, Fatma Saifullah Yusuf, yang mengunjungi lokasi dalam rangka bakti sosial DWP Kemensos bersama Sentra Terpadu Prof. Dr. Soeharso Surakarta.

Fatma meninjau proses produksi, berdialog dengan para penerima manfaat, serta memberikan motivasi kepada keluarga dan pendamping agar terus mendukung proses pemulihan dan pemberdayaan penyandang disabilitas.

Salah satu lokasi yang dikunjungi adalah Poskeswa Mergo Waras binaan Puskesmas Dukuhklopo. Bersama Poskeswa Mantap Jiwa di Kecamatan Sumobito, fasilitas tersebut menjadi ruang rehabilitasi sosial yang memberikan layanan terapi, pelatihan keterampilan, hingga pendampingan usaha bagi penyandang disabilitas psikososial.

Di Poskeswa, para penyandang disabilitas psikososial tidak lagi dipanggil dengan label yang bersifat klinis. Mereka disapa sebagai “para tersayang”, akronim dari Terabaikan Kasih Sayang di Saat Jiwanya Goyang.

Menurut Fatma, penyebutan tersebut mengandung pesan bahwa setiap orang membutuhkan kasih sayang, perhatian, dan penerimaan, terutama ketika menghadapi persoalan kesehatan jiwa.

“Bagi saya, sebutan itu mengingatkan kita semua bahwa setiap orang membutuhkan kasih sayang, perhatian, dan penerimaan, terutama ketika sedang menghadapi masa-masa sulit dalam hidupnya,” ujar Fatma dalam keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, pada (12/7/2026).

Ia menegaskan, makna “para tersayang” tidak boleh berhenti sebagai sebuah julukan. Sebaliknya, istilah tersebut harus menjadi pengingat bahwa tidak boleh ada warga yang terabaikan hanya karena mengalami gangguan kesehatan jiwa maupun disabilitas.

“Mereka adalah bagian utuh dari masyarakat yang memiliki hak setara untuk bekerja, belajar, berkarya, dan hidup bermartabat,” katanya.

Fatma mengapresiasi proses rehabilitasi yang dilakukan Poskeswa karena tidak hanya menitikberatkan pada aspek medis, tetapi juga mendorong pemberdayaan ekonomi melalui program ATENSI Kemensos.

Melalui program tersebut, Kemensos mengintegrasikan layanan rehabilitasi sosial dengan pemenuhan kebutuhan dasar, terapi psikososial, bantuan kewirausahaan, hingga pendampingan usaha agar penerima manfaat mampu hidup lebih mandiri.

Sebagai bentuk dukungan nyata, DWP Kemensos bersama Sentra Terpadu Prof. Dr. Soeharso Surakarta menyalurkan bantuan ATENSI senilai Rp82.496.521 kepada 22 penerima manfaat, yang terdiri atas 21 penyandang disabilitas dan satu kelompok rentan.

Bantuan yang diberikan meliputi alat bantu aksesibilitas berupa dua unit kursi roda standar, satu unit kursi roda adaptif bagi penyandang cerebral palsy, serta empat unit sepeda adaptif.

Selain itu, sebanyak 15 penerima manfaat memperoleh bantuan kewirausahaan berupa modal usaha yang disesuaikan dengan potensi masing-masing.

Jenis usaha yang dikembangkan antara lain tambal ban, warung makan dan kopi, produksi telur asin, kerajinan tas makrame, usaha mebel dan kesenian jaranan, hingga usaha penjualan pakaian.

“Jangan pandang bantuan ini sebagai tujuan akhir. Jadikan ini pemantik semangat untuk terus melangkah menuju kemandirian dan peningkatan kualitas hidup,” pesan Fatma.

Selain penyaluran bantuan dan peninjauan ruang produksi, kegiatan bakti sosial juga menghadirkan layanan pemeriksaan kesehatan gratis yang dimanfaatkan sekitar 100 peserta, termasuk kader Posyandu.

Kegiatan tersebut dihadiri Penasihat dan Ketua Dharma Wanita Persatuan Kabupaten Jombang, Kepala Dinas Sosial, Kepala Dinas Kesehatan, jajaran Pemerintah Kabupaten Jombang, serta perwakilan Kementerian Sosial.

Kolaborasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, fasilitas layanan kesehatan, dan masyarakat dinilai menjadi faktor penting dalam menciptakan lingkungan yang inklusif sekaligus membuka kesempatan yang lebih luas bagi penyandang disabilitas psikososial untuk pulih, berkarya, dan hidup mandiri.

Ervinna

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *