Oleh : Muslich Taman, Praktisi Pendidikan dan Penulis Buku
DetikSR.id Bogor- Ada banyak cara untuk mengubah dunia. Ada yang memilih menjadi pemimpin, guru, ulama, pengusaha, atau pegiat sosial. Tetapi ada satu jalan yang sering berjalan sunyi, tanpa sorotan, namun pengaruhnya dahsyat bisa menembus batas zaman: yaitu menulis. Bisa juga, keduanya berjalan bersama, beriringan. Tentu, akan lebih dahsyat dan luar biasa.
Dari kesadaran itulah Pondok Pesantren RAFAH Bogor, Jawa Barat, di bawah asuhan KH. M. Nasir Zein, MA, ini menyelenggarakan Pelatihan Menulis dengan tema Di Balik Aksara, Lahir Peradaban, pada Rabu, 12 Agustus 2026. Kegiatan yang berlangsung di aula serba guna ini bukan sekadar seminar tentang bagaimana merangkai kata. Lebih dari itu, kegiatan ini merupakan ikhtiar untuk mencetak para santri literat agar juara menulis, menjadi penulis hebat, serta menjadikan tulisan sebagai jalan dakwah dan jalan membangun peradaban umat di masa depan.
Sebab peradaban tidak hanya dibangun dengan gedung-gedung tinggi, teknologi canggih, atau kekuatan ekonomi. Peradaban juga dibangun oleh gagasan. Dan gagasan yang ditulis dengan baik dapat bertahan jauh lebih lama daripada suara lantang berbusa-busa yang hanya terdengar sesaat.
Menulis: Dakwah yang Menembus Zaman
Tulisan memiliki kekuatan yang luar biasa. Ia tidak mengenal jarak. Tidak terikat waktu. Ketika sebuah tulisan telah diterbitkan, ia dapat berjalan sendiri, berpindah dari satu tangan ke tangan yang lain, dibaca dari satu tempat ke tempat yang lain, bahkan diwariskan dari satu generasi kepada generasi berikutnya. Begitulah dakwah melalui tulisan.
Seorang penulis mungkin hanya duduk di sebuah kamar, ditemani buku, laptop, dan secangkir kopi. Tetapi dari ruangan kecil itu, gagasannya bisa menjelajah ke berbagai penjuru dunia. Apa yang ditulis hari ini mungkin baru dibaca puluhan tahun kemudian. Bahkan ketika sang penulis telah tiada, jasadnya telah dikuburkan di dalam liang lahat, karyanya masih tetap hidup, dipelajari, dikaji, dan memberikan manfaat kepada jutaan manusia.
Para ulama Islam telah memberikan teladan yang luar biasa dalam hal ini. Banyak karya ulama yang telah berusia ratusan tahun, tetapi hingga hari ini masih dibaca di masjid, pesantren, madrasah, perguruan tinggi, dan majelis ilmu. Tubuh mereka telah lama kembali ke tanah, tetapi ilmu yang mereka tuliskan tetap hidup, berdialog dengan para pembacanya.
Di sinilah menulis menemukan maknanya yang paling indah: menulis bisa menjadi amal jariyah. Selama tulisan itu memberikan manfaat, selama ilmu di dalamnya dipelajari, selama ada manusia yang tercerahkan olehnya, selama ada hati yang tergerak menjadi lebih baik karenanya, selama itu pula aliran kebaikannya dapat terus mengalir.
Maka, siapa tahu, satu tulisan sederhana yang dibuat seorang santri hari ini kelak menjadi cahaya bagi banyak orang?
Dari Aula Pesantren RAFAH Menuju Dunia
Semangat itulah yang terasa kuat dalam pelatihan menulis di Pondok Pesantren RAFAH. Kegiatan menghadirkan penulis nasional Dr. Muslich Taman, seorang penulis yang telah menghasilkan lebih dari 10 buku dan ratusan artikel yang tersebar di berbagai media nasional. Yang dengan profesi menulisnya, pernah mendapat kesempatan menghadiri Pameran Buku Islam Internasional di Mesir selama dua kali, pada tahun 2006 dan 2007.
Seminar tidak hanya dihadiri para Ustadz, tetapi juga para santri pegiat literasi dan pengurus perpustakaan pondok pesantren. Suasana aula pun terasa hidup. Pertanyaan bermunculan. Para peserta tampak antusias menyimak, mencatat, dan sesekali tertegun senyum ketika narasumber menyelipkan pengalamannya dan cerita ringan dalam penyampaian materi.
Salah seorang peserta yang menarik perhatian adalah Muhammad Yusuf, santri asal Bengkulu sekaligus aktivis literasi. Ia mengaku telah memiliki beberapa karya buku, meski masih berupa catatan tangannya. Ia memiliki tekad sederhana tetapi kuat: setiap hari harus membaca buku, selain buku pelajaran. Tidak sekadar membaca, ia juga mencatat poin-poin penting dari buku yang dibacanya secara khusus dalam buku diary miliknya.
Kebiasaan kecil itu menjadi modal besar bagi seorang calon penulis.
Muhammad Yusuf memiliki cita-cita menjadi penulis hebat yang mampu menginspirasi dunia. Penulis yang produktif dan inspiratif. Ketika ia menyampaikan pertanyaan kritis dalam forum, narasumber pun memberikan apresiasi berupa hadiah buku berjudul Guru Sang Arsitek Masa Depan.
Hadiah itu mungkin sederhana. Tetapi bagi seorang santri yang sedang menanam mimpi menjadi penulis, sebuah buku bisa menjadi bahan bakar yang luar biasa. Menjadi motivasi yang kuat.
Tidak Perlu Menunggu Hebat untuk Mulai Menulis
Salah satu pesan penting yang disampaikan Dr. Muslich Taman adalah bahwa menulis tidak harus dimulai dengan menunggu menjadi hebat.
Justru, seseorang menjadi hebat karena terus menulis.
Langkah pertama yang harus dilakukan untuk menulis adalah menentukan topik. Pilih sesuatu yang dekat dengan kehidupan, dikuasai, atau memang ingin dipelajari.
Kedua, mengumpulkan data. Penulis yang baik tidak hanya mengandalkan perasaan dan pendapat, tetapi juga membutuhkan fakta, referensi, pengalaman, dan informasi valid yang dapat dipertanggungjawabkan.
Ketiga, membuat kerangka tulisan. Kerangka akan membantu gagasan tetap berada di jalurnya sehingga tulisan tidak ke mana-mana.
Keempat, mulai menulis. Menulis dan menulis. Jangan terlalu sibuk memikirkan apakah kalimat pertama sudah sempurna. Tulis saja. Ide yang masih berantakan bisa diperbaiki kemudian.
Kelima, mengedit dan memoles tulisan. Di sinilah tulisan yang biasa dapat berubah menjadi tulisan yang enak dibaca. Kata-kata yang berlebihan dipangkas, kalimat yang kaku diperbaiki, dan gagasan diperjelas.
Keenam, kirimkan tulisan ke media. Jangan menyimpan tulisan hanya di laptop atau di dalam buku catatan. Biarkan gagasan itu bertemu dengan pembaca.
Karena tulisan yang tidak pernah dibaca ibarat benih yang tidak pernah ditanam.
Dari RAFAH, Menulis untuk Masa Depan
Seminar akhirnya ditutup dengan semangat yang terasa masih menyala. Muhammad Irsyad Kamal, santri senior yang punya cita-cita melanjutkan studi ke Eropa, dan sekaligus Ketua Panitia, berharap ilmu yang diperoleh dalam kegiatan ini, tidak berhenti sebagai catatan seminar.

Ia berharap ilmu itu segera dipraktikkan, langsung diaplikasikan, dan pada akhirnya mampu melahirkan para penulis yang inspiratif sekaligus produktif.
Harapan serupa disampaikan Muhammad Darul, santri yang memiliki cita-cita masuk akademi militer. Ia ingin mengejar cita-cita tersebut mengikuti jejak sang kakek, tetapi juga menyimpan mimpi lain: pingin bisa menulis dan memiliki karya buku.
Dua cita-cita itu tidak harus saling bertentangan. Sebab seorang prajurit pun membutuhkan gagasan. Seorang pemimpin membutuhkan wawasan. Dan sebuah bangsa membutuhkan generasi yang mampu berpikir sekaligus menuangkan pikirannya dalam aksara.
Hal yang sama dirasakan Mahyaya dan Hasan, dua santri penghapal Al-Quran ini, juga bertekad untuk menjadi penulis. Agar kelak bisa mewariskan ilmu dan jejak kehidupan kepada anak cucu serta generasi setelahnya.
Barangkali dari aula sederhana Pondok Pesantren RAFAH hari ini, sedang tumbuh para penulis yang kelak namanya dikenal luas.
Barangkali ada sebuah buku besar yang suatu hari nanti lahir dari catatan kecil seorang santri.
Dan barangkali, dari tangan para santri inilah akan lahir gagasan-gagasan yang ikut menerangi perjalanan umat.
Sebab pada akhirnya, di balik aksara, lahir peradaban.
Dan setiap peradaban besar selalu dimulai dari satu gagasan —lalu dituliskan, diwariskan, dan terus dihidupkan oleh generasi setelahnya. Wallahu a`lam bis shawab.(*/Rhidayat-MT).






