Raksasa Aluminium Rusia Rusal Siap Bangun Pabrik Alumina di Kalimantan, Perizinan Investasi Hampir Final

Berita198 Dilihat

DetikSR.id Jakarta, Perusahaan aluminium raksasa asal Rusia, United Company RUSAL (UC Rusal), berencana melakukan investasi besar di Indonesia dengan membangun fasilitas hilirisasi pengolahan bauksit menjadi alumina di Kalimantan.

Rencana investasi tersebut disampaikan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia. Ia mengatakan, proses perizinan investasi Rusal di Indonesia saat ini telah mendekati tahap final.

Menurut Bahlil, kehadiran Rusal di Indonesia akan diarahkan pada pengembangan industri hilir mineral, khususnya pengolahan bauksit menjadi alumina. Investasi tersebut juga akan melibatkan pengusaha nasional melalui skema kerja sama dengan perusahaan dalam negeri.

“Dengan Rusal ya, mereka akan membangun hilirisasi dari bauksit untuk menjadi alumina, dan itu di daerah Kalimantan,” kata Bahlil di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, pada (11/9/2026).

Ia menjelaskan, pemerintah tengah menyelesaikan berbagai proses administratif dan perizinan yang diperlukan agar investasi perusahaan asal Rusia tersebut dapat segera direalisasikan.

“Untuk urusan perizinannya sudah tahap hampir final, dan kita memang melakukan kolaborasi dan mereka melakukan kerja sama dengan pengusaha dalam negeri,” tutur Bahlil.

Rencana investasi Rusal tersebut menjadi salah satu hasil dari kunjungan Presiden Prabowo Subianto ke Rusia. Komitmen investasi itu mencerminkan semakin terbukanya peluang kerja sama ekonomi antara Indonesia dan Rusia, khususnya di sektor industri pengolahan mineral.

Presiden Prabowo sebelumnya telah menyinggung rencana masuknya Rusal ke Indonesia ketika menghadiri Eastern Economic Forum (EEF) 2026 di Vladivostok, Rusia.

Dalam forum tersebut, Prabowo menyampaikan bahwa Rusal akan melakukan ekspansi investasi ke Indonesia dan mengembangkan fasilitas pengolahan bersama kelompok usaha nasional.

“Rusal akan masuk secara besar-besaran ke Indonesia, Rusal akan mengembangkan pabrik pengolahan bersama dengan kelompok usaha Indonesia,” ujar Prabowo dalam EEF di Vladivostok.

Investasi tersebut dinilai sejalan dengan kebijakan pemerintah Indonesia yang terus mendorong hilirisasi sumber daya alam. Pengolahan bauksit menjadi alumina di dalam negeri diharapkan dapat meningkatkan nilai tambah komoditas mineral sebelum dipasarkan ke industri lanjutan.

Dalam kesempatan yang sama, Prabowo secara terbuka mengundang kalangan pengusaha Rusia untuk meningkatkan investasi dan membangun industri bersama di Indonesia.

Ajakan tersebut disampaikan Prabowo saat menghadiri EEF ke-11 yang berlangsung di Far Eastern Federal University (FEFU), Vladivostok, Rusia, pada 3 September 2026.

Dalam forum tersebut, Prabowo hadir sebagai tamu kehormatan utama.
Di hadapan para kepala negara, kepala pemerintahan, pejabat, dan pelaku usaha yang hadir, Prabowo menegaskan bahwa Indonesia membuka peluang yang luas bagi kerja sama ekonomi dengan Rusia.

Kerja sama tersebut, kata Prabowo, tidak hanya terbatas pada perdagangan, tetapi juga mencakup investasi, produksi bersama, pembangunan industri, serta penciptaan nilai tambah di dalam negeri.

“Datanglah ke Indonesia. Bekerjalah bersama kami. Berproduksilah bersama kami. Mari kita membangun industri bersama. Mari kita menciptakan nilai bersama,” kata Prabowo.

Prabowo juga menekankan posisi strategis Indonesia sebagai salah satu pintu masuk menuju pasar ASEAN dan kawasan Indo-Pasifik.

Menurutnya, investasi dan pembangunan industri di Indonesia memberikan peluang bagi perusahaan Rusia untuk memperluas jangkauan bisnis, tidak hanya ke pasar domestik, tetapi juga ke negara-negara lain di kawasan.

“Dan dari Indonesia, mari kita bersama-sama menjangkau pasar ASEAN dan Indo-Pasifik yang lebih luas,” ujarnya.

Dengan rencana masuknya Rusal dan pengembangan fasilitas pengolahan bauksit menjadi alumina di Kalimantan, pemerintah berharap kerja sama investasi tersebut dapat memperkuat ekosistem industri mineral nasional.

Selain meningkatkan nilai tambah sumber daya alam, investasi tersebut berpotensi memperluas kapasitas industri pengolahan di dalam negeri serta memperkuat keterlibatan pelaku usaha nasional dalam rantai industri mineral.

Pemerintah pun terus mendorong agar investasi asing yang masuk ke Indonesia tidak hanya berorientasi pada eksploitasi bahan mentah, tetapi mampu menciptakan proses produksi bernilai tambah, membuka peluang kerja sama dengan perusahaan nasional, dan memperkuat basis industri dalam negeri.

Ervinna

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *