Dari Lensa Jadi Warisan! Taman Safari Bawa Biodiversitas Indonesia Mendunia Lewat IAPVC 2026

Berita44 Dilihat

DetikSR.id Jakarta – Ajang International Animal Photo and Video Competition (IAPVC) 2026 yang digelar oleh Taman Safari Indonesia bukan lagi sekadar menjadi lomba fotografi satwa liar.
Memasuki tahun yang ke-35 ini, penyelenggaraan IAPVC telah berkembang menjadi bagian dari gerakan konservasi biodersitas yang mampu menjelaskan kekayaan biodiversitas nasional agar dikenal lebih luas di tingkat internasional.

Mengusung tema “From Lens to Legacy”, kompetisi ini menempatkan karya visual sebagai medium penting untuk membangun kesadaran publik terhadap pentingnya konservasi satwa liar endemik sekaligus memperkuat citra Indonesia sebagai negara dengan kekayaan alam yang luar biasa.

Board of Advisory Taman Safari Indonesia, Agus Santoso, mengatakan setiap karya yang lahir melalui lensa kamera tidak hanya menjadi dokumentasi visual, tetapi juga mampu menyampaikan pesan pentingnya konservasi kepada masyarakat luas.

“Tahun ini kita mengangkat tema From Lens To Legacy. Kami ingin mengajak semua pihak melihat bahwa karya visual bukan sekadar menangkap gambar, tetapi juga menyampaikan cerita, membangun kesadaran, dan meninggalkan warisan bermakna bagi generasi mendatang,” ujar Agus Santoso dalam peluncuran IAPVC 2026 di Jakarta, Sabtu (23/5/2026).

Menurutnya, keberadaan Kompetisi IAPVC selama tiga dekade lebih telah memberikan dampak nyata terhadap upaya konservasi di Indonesia. Melalui ribuan karya foto dan video satwa liar yang dihasilkan peserta dari berbagai daerah, publik internasional dapat melihat langsung keragaman hayati Indonesia yang selama ini menjadi salah satu kekuatan pariwisata nasional.

Tidak hanya itu, dalam IAPVC ke 35 ini, Panitia juga menggandeng Wild Captain International untuk berkolaborasi lintas negara dengan tujuan untuk memperluas pertukaran ide, inspirasi, dan semangat konservasi di tingkat global.

Kolaborasi tersebut sekaligus juga menjadi langkah strategis memperkenalkan biodiversitas Indonesia kepada komunitas fotografi dan pecinta alam dunia, sekaligus membuka ruang lebih luas bagi generasi muda untuk terlibat dalam gerakan pelestarian lingkungan melalui karya kreatif.

“Kompetisi ini bukan hanya soal memenangkan lomba, tetapi bagaimana karya visual mampu menjadi suara ajakan konservasi dan menginspirasi anak muda menjadi storyteller, content creator, sekaligus penjaga alam masa depan,” lanjut Agus.

Seiring meningkatnya jumlah peserta setiap tahun, objek satwa yang diabadikan dalam kompetisi juga semakin beragam. Hal itu dinilai menjadi indikator meningkatnya minat masyarakat terhadap fotografi satwa liar sekaligus kepedulian terhadap isu konservasi.

Pada penyelenggaraan tahun ini, cakupan IAPVC juga diperluas hingga kawasan Asia Tenggara dan Australia. Langkah tersebut memperkuat posisi IAPVC sebagai salah satu kompetisi visual satwa liar berskala internasional yang terus berkembang.

Selain menghadirkan sembilan kategori lomba fotografi dan video satwa liar, Taman Safari Indonesia juga meresmikan Komunitas Fotographer IAPVC sebagai wadah bagi para pecinta fotografi alam dan satwa untuk berbagi pengalaman, memperluas jejaring, serta memperkuat kampanye konservasi melalui karya visual.

Dalam kesempatan yang sama, pihak Taman Safari Indonesia turut mengumumkan bahwa bayi panda bernama Satrio Wiratama yang lahir di TSI Cisarua akan diperkenalkan secara resmi kepada masyarakat pada 30 Mei 2026 di Istana Panda TSI Cisarua.

Kehadiran bayi panda tersebut diharapkan semakin memperkuat edukasi konservasi satwa langka kepada publik, khususnya generasi muda Indonesia. (Red/JP)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *