DetikSR.id Jakarta, Kepedulian dan solidaritas sosial kembali diuji di tengah masyarakat perkotaan. Seorang warga Koja, Jakarta Utara, Heni Anggraeni (54), kini tengah berjuang melawan penyakit serius berupa tumor tulang agresif pada femur kiri yang disertai fraktur patologis. Kondisi tersebut membuatnya harus menahan nyeri hebat berkepanjangan serta hidup dalam keterbatasan aktivitas dan ekonomi.
Berdasarkan hasil pemeriksaan Radiologi dan Kedokteran Nuklir Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), Kementerian Kesehatan RI, yang dilakukan pada 25 Juli 2025, ditemukan adanya lesi litik ekspansil agresif di daerah epimetafisis distal tulang paha kiri (os femur).
Temuan medis tersebut menunjukkan penipisan dan diskontinuitas korteks tulang, disertai pembentukan tulang baru serta penebalan jaringan lunak di sekitar area terdampak.

Hasil pemeriksaan itu mengarah pada diagnosis tumor tulang agresif dengan komplikasi patah tulang akibat penyakit (fraktur patologis). Kondisi tersebut menyebabkan tulang menjadi rapuh dan mudah patah, meski tanpa benturan berat.
Akibat penyakit yang dideritanya, Heni kini mengalami keterbatasan aktivitas yang sangat signifikan.
Untuk menjalani kehidupan sehari-hari, ia lebih banyak terbaring dan bergantung pada bantuan keluarga maupun orang di sekitarnya. Rasa nyeri yang terus-menerus, ditambah keterbatasan ekonomi, membuat proses pengobatan menjadi tantangan berat bagi keluarga.

Sebelumnya, Heni telah memperoleh surat rujukan BPJS Kesehatan dari RS Islam Jakarta untuk menjalani pemeriksaan dan penanganan lanjutan di RSCM, khususnya oleh dokter spesialis ortopedi. Rujukan tersebut berlaku sebagai rujukan penuh rawat jalan dan sempat menjadi harapan besar bagi Heni untuk segera mendapatkan penanganan medis yang optimal.
Namun demikian, harapan tersebut hingga kini belum sepenuhnya terwujud. Sejak Agustus 2025, Heni masih menunggu kepastian jadwal operasi di RSCM. Hingga awal tahun 2026, undangan atau informasi resmi terkait pelaksanaan operasi belum juga diterima oleh pihak keluarga.
Ketidakpastian tersebut menimbulkan keresahan, tidak hanya bagi pasien, tetapi juga keluarga dan warga sekitar. Pasalnya, operasi yang dibutuhkan merupakan tindakan medis penting yang berkaitan langsung dengan keselamatan, kualitas hidup, serta peluang kesembuhan pasien.
“Sejak Agustus 2025 kami diminta menunggu undangan operasi dari RSCM. Sampai sekarang belum ada kepastian. Setiap kali ditanya, jawabannya masih menunggu antrean,” ujar salah satu anggota keluarga Heni saat ditemui di kediamannya.
Lamanya antrean operasi di rumah sakit rujukan nasional seperti RSCM memang kerap menjadi keluhan masyarakat.
Tingginya jumlah pasien dari berbagai daerah di Indonesia, keterbatasan ruang operasi, serta jadwal tenaga medis sering disebut sebagai faktor utama panjangnya waktu tunggu. Meski demikian, warga berharap adanya kejelasan informasi dan transparansi estimasi waktu bagi pasien yang kondisinya membutuhkan penanganan segera. Kondisi Heni turut mengetuk hati warga lingkungan RT 010/01 Rawa Badak Selatan, Kecamatan Koja.

Bambang Setiyono,Selaku RW 01,
mengajak masyarakat dan pihak terkait untuk bersama-sama memberikan dukungan moral maupun bantuan nyata.
“Bu Heni adalah warga kami yang saat ini benar-benar membutuhkan perhatian dan bantuan. Penyakit yang dideritanya sangat berat, bukan hanya secara fisik, tetapi juga secara mental dan ekonomi. Kami berharap ada kepedulian dari berbagai pihak, baik pemerintah, dermawan, maupun lembaga sosial, agar pengobatan beliau bisa berjalan maksimal,” ujar Bambang Setiyono
Ia menambahkan, warga sekitar selama ini telah berupaya membantu semampunya, namun keterbatasan ekonomi membuat dukungan tersebut belum mencukupi untuk kebutuhan pengobatan jangka panjang.
“Kami sebagai RW tentu tidak tinggal diam, tapi biaya pengobatan penyakit seperti ini tidak kecil. Harapan kami, ada tangan-tangan baik yang tergerak untuk membantu sesama,” tambahnya.
Keprihatinan juga disampaikan oleh Pengurus RW 01 Rawa Badak Selatan, yang berharap pemerintah dan pihak rumah sakit dapat merespons lebih cepat kondisi warganya. Menurut mereka, seluruh tahapan prosedur kesehatan telah dijalani sesuai ketentuan, mulai dari pemeriksaan awal, rujukan, hingga pemeriksaan lanjutan di RSCM.
“Setelah semua tahapan pemeriksaan dan prosedur kesehatan diikuti, seharusnya tinggal menunggu jadwal operasi. Tapi sampai sekarang undangan operasi dari RSCM belum juga datang,” tegas Bambang Setiyono
Ia menekankan pentingnya penentuan skala prioritas pasien, terutama bagi mereka yang telah lama merasakan kesakitan. Konsumsi obat pereda nyeri dalam jangka panjang, menurutnya, berpotensi menimbulkan penyakit lain dan memperburuk kondisi kesehatan pasien.
“Kalau RSCM yang mendorong, seharusnya pemerintah pusat juga hadir, karena RSCM menangani pasien dari seluruh Indonesia. Kami berharap ada solusi agar pasien tidak terus-menerus berada dalam ketidakpastian,” katanya.
Hingga berita ini diturunkan, pihak RSCM belum memberikan keterangan resmi terkait kepastian jadwal operasi bagi Heni Anggraeni.
Warga dan keluarga berharap adanya evaluasi menyeluruh terhadap sistem antrean operasi agar pelayanan kesehatan, khususnya bagi pasien dengan kondisi berat, dapat berjalan lebih cepat, transparan, dan berkeadilan.
Kisah Heni Anggraeni menjadi potret nyata bahwa penyakit berat bisa menimpa siapa saja. Di tengah keterbatasan, harapan akan kesembuhan tetap menyala berkat kepedulian dan solidaritas sosial.
Dukungan moral, doa, serta bantuan nyata dari berbagai pihak sangat diharapkan agar Heni dapat menjalani pengobatan dengan layak dan memperoleh kesempatan untuk pulih.
Red-Ervinna






