9.059 Ton Sampah Dihasilkan Jakarta Setiap Hari, Pemprov DKI Dorong Pengurangan Food Waste, Warga Diajak Bijak Pangan

Berita102 Dilihat

DetikSR.id Jakarta, Timbulan sampah di DKI Jakarta mencapai sekitar 9.059 ton per hari. Hampir separuh dari total timbulan tersebut merupakan sampah organik yang didominasi oleh sisa makanan atau food waste.
Kondisi ini menjadi tantangan serius bagi pemerintah dalam mengelola sampah perkotaan yang terus meningkat.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta, Dudi Gardesi Asikin, mengatakan tingginya volume sampah sisa makanan perlu mendapat perhatian bersama.

Menurutnya, upaya mengurangi food waste harus dimulai dari sumbernya, baik dari rumah tangga maupun tempat usaha.

“Semakin sedikit makanan yang terbuang, semakin kecil pula volume sampah yang harus dikumpulkan, diangkut, dan diolah. Karena itu, pengurangan sisa makanan harus menjadi bagian dari kebiasaan sehari-hari masyarakat Jakarta,” kata Dudi dalam keterangannya, pada (25/7/2026).

Dudi menjelaskan, pengurangan sampah sisa makanan akan memberikan dampak langsung terhadap sistem pengelolaan sampah di Jakarta.

Berkurangnya timbulan sampah dari sumber berarti dapat mengurangi beban pemerintah dalam proses pengumpulan, pengangkutan, hingga pengolahan sampah setiap harinya.

Selain itu, pengurangan food waste juga dinilai penting untuk mendorong pengelolaan sampah yang lebih berkelanjutan.

Sampah organik, khususnya sisa makanan, apabila tidak dikelola dengan baik dapat menimbulkan berbagai persoalan lingkungan dan menambah beban fasilitas pengolahan serta tempat pemrosesan akhir.

Dudi mengajak masyarakat untuk mengambil peran melalui berbagai langkah sederhana yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Beberapa di antaranya adalah merencanakan belanja sesuai kebutuhan, mengambil makanan dalam porsi secukupnya, menghabiskan makanan yang telah diambil, serta mengolah kembali bahan pangan yang masih layak dikonsumsi.

Masyarakat juga didorong untuk memilah sampah organik dan anorganik sejak dari rumah. Dengan pemilahan dari sumber, sampah dapat lebih mudah dikelola dan diolah sesuai jenisnya sehingga tidak seluruhnya berakhir di tempat pemrosesan akhir.

“Sampah sisa makanan yang terus meningkat memberikan beban besar terhadap sistem pengelolaan sampah perkotaan. Karena itu, pengurangannya harus dimulai dari kebiasaan sehari-hari dalam mengelola pangan,” ujar Dudi.

Sebagai bagian dari upaya tersebut, Pemprov DKI Jakarta menggulirkan Gerakan Warga Jakarta Bijak Pangan yang dipadukan dengan Gerakan Pilah Sampah.

Melalui gerakan ini, masyarakat diajak mengubah pola konsumsi dan pengelolaan pangan, mulai dari merencanakan kebutuhan makanan, mencegah makanan terbuang, memanfaatkan bahan pangan yang masih layak, hingga memilah sampah sejak dari sumber.

Program tersebut dilaksanakan melalui kolaborasi Pemprov DKI Jakarta bersama Indonesia Business Council for Sustainable Development (IBCSD), dengan melibatkan berbagai komunitas serta pelaku usaha, khususnya sektor hotel, restoran, dan katering atau HORECA.

Dudi mengatakan kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, komunitas, dan dunia usaha diperlukan untuk menciptakan sistem pengelolaan sampah yang lebih efektif dan berkelanjutan.

“Kolaborasi ini menjadi bagian dari upaya membangun sistem pengelolaan sampah yang lebih efektif dan berkelanjutan,” katanya.

Sementara itu, Executive Director IBCSD Indah Budiani mengatakan Gerakan Warga Jakarta Bijak Pangan bertujuan mengubah cara pandang masyarakat terhadap sisa makanan.

Menurutnya, food waste bukan sekadar persoalan sampah, tetapi juga persoalan perilaku konsumsi yang sebenarnya dapat dicegah melalui perubahan kebiasaan sehari-hari.

“Masyarakat dapat menerapkan kebiasaan sederhana, seperti merencanakan belanja sesuai kebutuhan, menyimpan pangan dengan benar agar lebih tahan lama, mengolah kembali makanan yang masih layak, hingga menyalurkannya kepada mereka yang membutuhkan,” kata Indah.

Ia menilai perubahan kebiasaan di tingkat rumah tangga dapat memberikan dampak signifikan apabila dilakukan secara konsisten oleh jutaan warga Jakarta.

Upaya tersebut tidak hanya berkontribusi terhadap pengurangan timbulan sampah, tetapi juga dapat membantu masyarakat menghemat pengeluaran rumah tangga karena makanan yang dibeli dapat dimanfaatkan secara optimal.

Di sisi lain, pengelolaan pangan yang lebih bijak juga dinilai dapat memperkuat kepedulian sosial. Bahan pangan yang masih layak konsumsi dapat dimanfaatkan kembali atau disalurkan kepada pihak yang membutuhkan, sehingga tidak langsung berakhir sebagai sampah.

“Melalui keterlibatan pemerintah, masyarakat, komunitas, dan dunia usaha, jumlah sisa makanan yang berakhir menjadi sampah dapat terus ditekan sejak dari sumber,” tandas Indah.

Dengan timbulan sampah yang mencapai sekitar 9.059 ton per hari, pengurangan sampah dari sumber menjadi salah satu langkah penting dalam menghadapi persoalan persampahan di Jakarta.

Perubahan perilaku masyarakat dalam mengelola makanan, disertai kebiasaan memilah sampah sejak dari rumah dan tempat usaha, diharapkan dapat membantu mengurangi beban pengelolaan sampah sekaligus mendorong terciptanya Jakarta yang lebih bersih dan berkelanjutan.

Ervinna

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *