Wali Kota Lubuklinggau Minta Maaf kepada Atlet Disabilitas, Tegaskan Prestasi Mereka Tetap Dihargai

Berita Daerah54 Dilihat

DetikSR.id LUBUKLINGGAU – Polemik keluhan atlet catur penyandang disabilitas yang tergabung dalam National Paralympic Committee Indonesia (NPCI) Kota Lubuk Linggau, Sumatera Selatan (Sumsel), akhirnya mendapat tanggapan langsung dari Wali Kota Lubuk Linggau, H. Rachmat Hidayat.

Wali Kota yang akrab disapa Yoppy Karim itu menyampaikan permohonan maaf atas terjadinya miskomunikasi terkait pemberian bonus atlet. Ia menegaskan, pemerintah kota tetap menghargai perjuangan dan prestasi para atlet disabilitas yang telah mengharumkan nama daerah.

Permohonan maaf tersebut disampaikan Yoppy kepada wartawan, Rabu (4/11/2026). Ia mengakui, persoalan yang berkembang menjadi perbincangan di media sosial itu perlu menjadi bahan evaluasi, terutama dalam membangun komunikasi antara pemerintah dan insan olahraga.

“Terkait atlet NPCI ini, saya mohon maaf karena tidak sesuai dengan yang diharapkan. Saya tidak pernah mengabaikan prestasi mereka. Yang jelas, ini miskomunikasi,” ungkap Yoppy.

Ia menjelaskan, belum tersedianya anggaran bonus pada APBD induk bukan berarti pemerintah tidak memberikan perhatian kepada atlet. Kondisi kemampuan keuangan daerah serta kebijakan efisiensi anggaran menjadi pertimbangan utama.
Namun, Pemkot Lubuk Linggau terus mengupayakan agar anggaran penghargaan bagi atlet berprestasi dapat dialokasikan melalui APBD Perubahan (APBD-P) 2026.

“Karena kemampuan postur APBD kita belum mampu, tetapi seiring proses berjalan, anggaran bertambah sehingga baru bisa dianggarkan di perubahan. Bonus ini untuk atlet NPCI maupun cabang olahraga di bawah KONI,” jelasnya.

Yoppy juga memaparkan kronologi penyerahan bonus yang sebelumnya menjadi sorotan. Kegiatan tersebut dilaksanakan setelah rapat paripurna, bertepatan dengan selesainya proses pengadaan seragam gratis pada akhir Oktober.

Saat itu, APBD Perubahan masih dalam tahap evaluasi. Setelah dipastikan anggaran dapat digunakan untuk pemberian bonus atlet, Pemkot kemudian berkoordinasi dengan Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD), Dispora, KONI, serta NPCI.

Menurutnya, penyerahan seragam gratis dan bonus atlet akhirnya dilaksanakan dalam satu rangkaian kegiatan.
“Setelah keluar hasil evaluasi, sempat ditanyakan apakah anggaran tersebut bisa digunakan untuk bonus atlet. Ternyata bisa. Kemudian minggu berikutnya baru direalisasikan. Kami koordinasikan dengan Dispora, lalu mengundang KONI dan NPCI untuk pemberian bonus atlet. Akhirnya kegiatan itu dibuat sekaligus,” bebernya.

Di sisi lain, Yoppy mengakui adanya kekurangan dalam pengemasan acara. Ia menilai, kegiatan tersebut semestinya dikomunikasikan secara lebih jelas kepada publik sebagai agenda penyerahan seragam gratis sekaligus pemberian bonus bagi atlet berprestasi.
“Kesalahannya mungkin dalam pengemasan acara. Seharusnya kegiatan itu dikemas untuk keseluruhan. Bukan hanya pembagian seragam gratis. Di baliho seharusnya tertulis penyerahan seragam gratis dan pemberian bonus untuk atlet berprestasi,” tegasnya.

Lebih jauh, Yoppy menegaskan bahwa atlet penyandang disabilitas memiliki tempat dan perhatian yang sama dalam pembangunan olahraga di Kota Lubuk Linggau.

Ia mengaku sebagai pencinta olahraga dan berharap seluruh atlet, tanpa terkecuali, mendapatkan kesempatan untuk berkembang serta memperoleh penghargaan atas perjuangan mereka.
“Saya ini pencinta olahraga dan sangat perhatian, apalagi dengan teman-teman disabilitas. Dari awal kami dilantik, kami sudah memberdayakan teman-teman disabilitas,” ujarnya.

Terkait keluhan yang lebih dahulu mencuat melalui media sosial, Yoppy berharap ke depan komunikasi langsung dapat lebih dikedepankan agar setiap persoalan bisa dibicarakan dan dicarikan solusi bersama.

“Yang disayangkan itu curhatnya di media sosial. Seharusnya bisa audiensi, sehingga persoalan seperti ini bisa kita komunikasikan dan cari jalan keluarnya bersama,” katanya.

Mengenai besaran bonus, Yoppy tidak menampik bahwa nilai yang diberikan tahun ini lebih kecil dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Kondisi tersebut merupakan dampak dari penyesuaian kemampuan keuangan daerah dan kebijakan efisiensi anggaran.

Ia menegaskan, perbedaan nominal bonus tidak boleh dimaknai sebagai berkurangnya penghargaan pemerintah terhadap prestasi atlet.
“Ketika menyampaikan sambutan, saya juga sudah menyampaikan permohonan maaf karena bonus atlet kali ini tidak sebesar sebelumnya. Ini karena kondisi efisiensi anggaran. Jadi, bukan berarti prestasi mereka tidak dihargai, tetapi disesuaikan dengan kemampuan keuangan daerah,” jelasnya.
Yoppy memastikan penyaluran bonus bagi atlet berprestasi, baik dari NPCI maupun cabang olahraga di bawah naungan KONI, mulai dilakukan pada pekan ini.

Ia berharap polemik tersebut dapat menjadi momentum untuk memperbaiki komunikasi dan meningkatkan perhatian terhadap seluruh atlet.
Sebab, di balik setiap prestasi, ada perjuangan, kerja keras, serta pengorbanan yang layak mendapatkan penghargaan. Bagi atlet penyandang disabilitas, kesempatan dan pengakuan menjadi bagian penting untuk terus menumbuhkan semangat berprestasi serta mengharumkan nama Kota Lubuk Linggau. ( Rif’at Achmad )

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *