Wamentan Dampingi Presiden Prabowo Sidak Gudang Bulog Danurejo, Pastikan Cadangan Beras Nasional Aman

Nasional46 Dilihat

DetikSR.id Jakarta, Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Sudaryono mendampingi Presiden Prabowo Subianto melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke Kompleks Gudang Perum Bulog Danurejo, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, guna memastikan ketersediaan Cadangan Beras Pemerintah (CBP) tetap aman dan siap disalurkan untuk menjaga stabilitas pasokan serta harga pangan nasional.

Sudaryono mengatakan, kunjungan tersebut merupakan bentuk komitmen pemerintah dalam memastikan langsung kondisi stok pangan nasional di lapangan.

Menurutnya, Presiden Prabowo tidak hanya ingin menerima laporan administratif, tetapi juga mengecek langsung kesiapan cadangan beras yang tersimpan di gudang Bulog.
“Bapak Presiden tidak hanya menerima laporan di atas kertas, tetapi ingin melihat secara langsung stok beras yang tersimpan di gudang. Hal ini dilakukan guna memastikan cadangan pangan benar-benar tersedia, aman, dan siap disalurkan kepada masyarakat apabila dibutuhkan,” ujar Sudaryono dalam keterangannya di Jakarta, (18/4/2026).

Wamentan menegaskan, langkah Presiden melakukan sidak menunjukkan keseriusan pemerintah dalam menjaga ketahanan pangan nasional, terutama di tengah situasi global yang masih dibayangi krisis energi serta ketidakpastian geopolitik di sejumlah kawasan dunia.

Menurut Sudaryono, pemerintah ingin memastikan Indonesia tetap berada dalam posisi kuat, baik dari sisi ketersediaan pasokan maupun stabilitas harga pangan di dalam negeri.
“Dalam kondisi tersebut, pemerintah dalam hal ini Bapak Presiden ingin memastikan bahwa Indonesia tetap berada dalam posisi yang kuat, baik dari sisi pasokan maupun stabilitas harga pangan,” katanya.

Dalam peninjauan tersebut, Presiden dan rombongan melihat langsung kondisi gudang Bulog Danurejo yang memiliki kapasitas penyimpanan hingga 7.000 ton dan saat ini terisi penuh.
Kondisi tersebut dinilai mencerminkan kesiapan stok beras pemerintah untuk memenuhi kebutuhan masyarakat, khususnya di wilayah Jawa Tengah dan sekitarnya.

Sudaryono menambahkan, sidak dilakukan secara mendadak tanpa pemberitahuan sebelumnya agar pemerintah mendapatkan gambaran nyata mengenai kondisi gudang dan ketersediaan stok.
“Jadi kunjungan ini bersifat mendadak, jadi tidak ada pemberitahuan, langsung mampir, sehingga ingin mengetahui sebetulnya atau catatan sebetulnya seperti apa,” tuturnya.

Ia juga mengungkapkan bahwa inspeksi serupa sebelumnya telah dilakukan di sejumlah daerah lain.
“Kemarin saya juga sudah sidak di gudang Bulog tempat lain, termasuk Pak Mentan sidak di Makassar, di Bone, dan lain-lain itu penuh semua. Itu menjadi catatannya,” tambah Sudaryono.

Lebih lanjut, Sudaryono menyampaikan bahwa dari sisi produksi, kinerja sektor pertanian nasional menunjukkan tren sangat positif. Produksi beras nasional sepanjang 2025 tercatat meningkat 4,07 juta ton atau 13,29 persen dibanding tahun sebelumnya.

Peningkatan tersebut didorong oleh bertambahnya luas panen serta berbagai kebijakan pemerintah dalam memperkuat sektor pertanian nasional.

Wamentan mengungkapkan, hingga April 2026, Cadangan Beras Pemerintah telah mencapai sekitar 4,8 juta ton, tertinggi sepanjang sejarah Indonesia, dan terus bergerak menuju angka 5 juta ton.

Menurutnya, capaian tersebut menjadi fondasi utama pemerintah dalam menjaga stabilitas pasokan dan harga pangan nasional.
“Cadangan Beras Pemerintah hingga April 2026 mencapai sekitar 4,8 juta ton, tertinggi sepanjang sejarah, dan terus bergerak menuju 5 juta ton. Capaian ini menjadi fondasi utama dalam menjaga stabilitas pasokan dan harga di dalam negeri,” jelasnya.

Selain stok pemerintah, ketahanan pangan nasional juga didukung oleh beras yang beredar di masyarakat serta potensi panen yang masih akan berlangsung hingga akhir tahun.

Sudaryono memaparkan, beras yang beredar di masyarakat diperkirakan hampir 12 juta ton, sementara potensi panen dalam waktu dekat juga sekitar 12 juta ton.

Dengan demikian, total kekuatan stok beras nasional diperkirakan mencapai sekitar 28 juta ton, setara dengan ketahanan pangan hingga 11 bulan ke depan.
“Secara total, kekuatan stok beras nasional mencapai sekitar 28 juta ton setara dengan ketahanan pangan hingga 11 bulan ke depan,” katanya.

Pemerintah juga terus memperkuat peran Bulog sebagai instrumen utama dalam menjaga keseimbangan harga, baik di tingkat petani maupun konsumen.

Bulog ditugaskan menyerap 4 juta ton setara beras sepanjang 2026, meningkat dibanding target tahun sebelumnya sebesar 3 juta ton.
Sudaryono yang juga Ketua Umum Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) menegaskan, Bulog memiliki peran strategis sebagai penyangga harga dalam sistem pangan nasional.

Ia menjelaskan, Bulog menyerap sekitar 10 hingga 15 persen dari total produksi beras nasional. Dengan produksi sekitar 34,5 juta ton, maka cadangan yang dikelola Bulog berada di kisaran 3,6 hingga 3,7 juta ton sebagai buffer stock nasional.
“Jadi harga di tingkat petani dijaga melalui HPP, dan di tingkat konsumen dijaga melalui HET agar keduanya tidak dirugikan,” jelasnya.

Penguatan peran Bulog juga didukung kebijakan pemerintah, termasuk Instruksi Presiden terkait percepatan serapan gabah nasional.

Sudaryono menyebutkan, target serapan sebesar 3 juta ton pada 2025 didukung alokasi anggaran sekitar Rp16,5 triliun.
“Untuk mengelola pangan negara, dibutuhkan aturan yang kuat dan dukungan anggaran yang memadai. Karena itu, peran Bulog terus diperkuat,” pungkasnya.

Ervinna

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *