Pramono Tinjau Fasilitas Pengolahan Sampah Ciangir, Tekan Volume Sampah Jakarta, Siapkan Alternatif Baru Kurangi Beban Bantargebang

Berita124 Dilihat

DetikSR.id Jakarta, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta terus memperkuat upaya penanganan persoalan sampah yang selama ini menjadi tantangan besar ibu kota. Salah satu langkah yang akan dilakukan adalah meninjau fasilitas pengolahan sampah di Ciangir, Tangerang, Banten, yang dinilai memiliki potensi sebagai alternatif baru dalam sistem pengelolaan sampah Jakarta.

Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, mengatakan dirinya dijadwalkan mengunjungi fasilitas tersebut pada pekan depan untuk melihat secara langsung proses pengolahan sampah yang telah dipilah dari sumbernya. Dalam kunjungan itu, ia akan mempelajari berbagai metode pengelolaan sampah, termasuk pengolahan sampah organik menjadi kompos yang dinilai dapat mengurangi volume sampah yang berakhir di tempat pembuangan akhir.

Menurut Pramono, fasilitas pengolahan sampah di Ciangir berpotensi menjadi bagian dari solusi jangka panjang dalam mengurangi ketergantungan Jakarta terhadap tempat pengolahan dan pemrosesan akhir sampah yang selama ini menampung limbah dari ibu kota.

“Sampah, dengan pemilahan sampah kemudian kita akan juga yang sudah dipisahkan untuk kompos dan sebagainya di Ciangir, karena minggu depan saya akan ke sana, itu juga akan menjadi alternatif baru,” ujar Pramono dalam keterangannya pada (5/6/2026).

Pramono menjelaskan bahwa Pemprov DKI Jakarta saat ini terus mencari berbagai terobosan untuk menekan jumlah sampah yang dikirim ke TPST Bantargebang.

Selama bertahun-tahun, fasilitas tersebut menjadi lokasi utama penampungan sampah Jakarta dan menghadapi tekanan akibat tingginya volume sampah yang masuk setiap hari.
Untuk mengatasi persoalan tersebut, pemerintah mulai mengedepankan konsep pengelolaan sampah dari sumbernya. Melalui pendekatan ini, sampah dipilah dan diolah sedini mungkin, baik di lingkungan rumah tangga, pasar tradisional, kawasan komersial, maupun sektor hotel, restoran, dan kafe (horeka).

Langkah tersebut diharapkan dapat mengurangi volume sampah yang harus diangkut ke fasilitas pengolahan akhir, sekaligus meningkatkan nilai ekonomi dari sampah yang masih dapat dimanfaatkan.

Selain menjajaki kerja sama dengan fasilitas pengolahan sampah di Ciangir, Pemprov DKI Jakarta juga tengah menyiapkan program pengolahan sampah menjadi bahan bakar atau waste to fuel.

Program ini dirancang sebagai bagian dari strategi pengelolaan sampah yang lebih modern dan berkelanjutan.
Pengembangan teknologi tersebut diharapkan dapat mendukung operasional pengelolaan sampah di Bantargebang maupun di fasilitas pengolahan sampah berbasis Refuse Derived Fuel (RDF).

Pramono juga menyampaikan bahwa operasional RDF Rorotan saat ini menunjukkan perkembangan positif. Pemerintah sengaja membatasi jumlah sampah yang diolah agar tidak menimbulkan kembali persoalan bau yang sebelumnya sempat menjadi keluhan warga sekitar.

“Dan karena sudah kita tangani lebih baik, memang sekarang ini saya menahan untuk tidak lebih dari 1.000 supaya bau itu tidak ada,” ujarnya.

Menurut Pramono, berbagai langkah perbaikan yang dilakukan telah memberikan hasil yang cukup baik. Keluhan masyarakat terkait gangguan bau dari fasilitas RDF Rorotan kini disebut hampir tidak lagi terdengar.

“Dan komplain masyarakat di Rorotan juga hampir tidak ada,” katanya.

Dalam upaya mempercepat pengurangan volume sampah, Pemprov DKI Jakarta juga membuka peluang bagi berbagai pihak untuk terlibat dalam pengelolaan sampah langsung dari sumbernya.

Pemerintah memberikan dukungan dan persetujuan kepada pelaku usaha, komunitas, maupun institusi yang memiliki inovasi pengolahan sampah di tingkat lokal.
Pengolahan dapat dilakukan di berbagai lokasi seperti pasar, kawasan permukiman, pusat perbelanjaan, hingga sektor horeka. Selama mampu mengurangi jumlah sampah yang dikirim ke Bantargebang, pemerintah siap memberikan dukungan terhadap inisiatif tersebut.

“Saya sekarang memberikan izin, memberikan persetujuan, siapa saja yang akan mengelola sampah tidak perlu di tempat pembuangan sampah tapi di ujung. Apakah di pasar, apakah di rumah tangga, di horeka, dan sebagainya. Selama bisa mengurangi sampah yang dikirimkan ke Bantargebang kami setujui,” ujar Pramono.

Pemprov DKI Jakarta menilai pengelolaan sampah dari sumbernya merupakan salah satu kunci untuk menciptakan sistem pengelolaan sampah yang lebih efektif dan berkelanjutan.

Semakin banyak sampah yang dapat dipilah, didaur ulang, diolah menjadi kompos, atau dimanfaatkan sebagai bahan bakar alternatif, maka semakin kecil pula beban yang harus ditanggung fasilitas pengolahan akhir.

Melalui pengembangan fasilitas baru, penerapan teknologi pengolahan modern, serta kolaborasi dengan berbagai pihak, Pemprov DKI Jakarta berharap dapat menekan volume sampah yang dibuang ke Bantargebang sekaligus menciptakan sistem pengelolaan sampah yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan bagi masa depan Jakarta.

Ervinna

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *