Bendera Merah Putih Berkibar di KRI Sriwijaya-100, Panglima TNI Resmikan Kapal Induk Pertama TNI AL

Berita139 Dilihat

DetikSR.id Jakarta, Bendera Merah Putih berkibar di atas kapal induk ITS Giuseppe Garibaldi yang kini berganti nama menjadi Kapal Republik Indonesia (KRI) Sriwijaya-100, pada (24/9/2026). Pengibaran bendera tersebut menjadi bagian dari prosesi peresmian nama baru kapal perang yang bersandar di Dermaga 107, Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara.

Berdasarkan pantauan di lokasi, Bendera Merah Putih dikibarkan sekitar pukul 08.55 WIB di bagian ujung dek kapal. Prosesi berlangsung khidmat dan diikuti oleh jajaran pejabat tinggi Tentara Nasional Indonesia (TNI), TNI Angkatan Laut (TNI AL), anggota DPR, serta sejumlah pejabat publik.

Tiga personel TNI AL terlihat menjalankan tugas dalam prosesi tersebut, yakni sebagai pengerek, pembawa, dan pembentang bendera. Bendera Merah Putih perlahan dinaikkan ke tiang kapal seiring berkumandangnya lagu kebangsaan Indonesia Raya.

Pengibaran bendera ini menjadi salah satu momen penting dalam rangkaian upacara yang menandai pengukuhan identitas baru kapal induk tersebut sebagai bagian dari kekuatan pertahanan maritim Indonesia.

Panglima TNI Resmikan KRI Sriwijaya-100

Setelah prosesi pengibaran bendera selesai, Panglima TNI Jenderal TNI Agus Subiyanto selaku inspektur upacara secara resmi mengukuhkan perubahan nama ITS Giuseppe Garibaldi menjadi KRI Sriwijaya-100.

Dalam upacara tersebut, Agus menyatakan kapal itu resmi masuk ke jajaran TNI AL.

“Pada hari ini, Kamis, 24 September 2026, saya Jenderal TNI Agus Subiyanto, Panglima TNI, dengan ini saya resmikan KRI Sriwijaya-100 masuk jajaran TNI AL,” kata Agus saat membacakan pernyataan peresmian kapal.

Pengukuhan ini menandai babak baru bagi kapal yang sebelumnya dikenal sebagai ITS Giuseppe Garibaldi. Dengan nama barunya, KRI Sriwijaya-100 membawa identitas Indonesia sekaligus menjadi bagian dari agenda penguatan kekuatan pertahanan dan kemaritiman nasional.

Kepala Staf TNI Angkatan Laut (KSAL) Laksamana TNI Muhammad Ali menjelaskan bahwa nama Sriwijaya dipilih karena memiliki keterkaitan erat dengan sejarah kejayaan maritim Nusantara.

Menurut Ali, Sriwijaya merupakan salah satu kerajaan maritim besar dalam sejarah Indonesia yang memiliki pengaruh luas terhadap jalur perdagangan dan kekuasaan laut di kawasan Asia Tenggara.

“Sriwijaya kerajaan maritim Indonesia yang tertua ya. Lebih tua dari Majapahit. Makanya dipilih itu,” kata Ali seusai acara peresmian nama KRI Sriwijaya-100 di Dermaga 107, Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara, pada (24/9/2026).

Ali mengatakan, Sriwijaya pada masa kejayaannya dikenal sebagai kekuatan maritim yang memiliki pengaruh besar terhadap wilayah Nusantara. Warisan sejarah tersebut menjadi salah satu pertimbangan dalam penamaan kapal induk pertama TNI.

Ia berharap penggunaan nama Sriwijaya dapat menghidupkan kembali semangat kejayaan maritim Indonesia serta memperkuat orientasi pembangunan kekuatan laut nasional.

“Harapannya dengan penamaan itu, kita akan mengembalikan keemasan atau kejayaan kemaritiman Nusantara seperti yang lalu ya,” ujar Ali.

Dalam rangkaian upacara, narator turut menjelaskan latar belakang historis pemilihan nama Sriwijaya.

Kerajaan Sriwijaya disebut berpusat di sekitar wilayah Palembang dan berkembang sejak sekitar abad ke-7 hingga abad ke-13 Masehi. Kerajaan tersebut tumbuh sebagai kekuatan politik, perdagangan, dan keagamaan yang memiliki pengaruh luas di kawasan Nusantara dan Asia Tenggara.

Letaknya yang strategis memungkinkan Sriwijaya menguasai sejumlah jalur perdagangan penting, khususnya di kawasan Selat Malaka. Pengaruhnya kemudian menjangkau berbagai wilayah di Sumatera, Semenanjung Malaya, Jawa, hingga kawasan Asia Tenggara lainnya.

“Penguasaannya terhadap jalur perdagangan laut dan kemampuannya membangun jaringan hubungan antardaerah, menunjukkan peran besar Sriwijaya dalam membentuk konektivitas wilayah Kepulauan Nusantara pada masa lampau,” jelas narator dalam upacara tersebut.

Sejarah Sriwijaya juga kerap dikaitkan dengan pembentukan identitas Indonesia sebagai negara kepulauan. Setelah Indonesia merdeka, warisan kerajaan maritim itu semakin sering dihadirkan dalam narasi pembangunan identitas nasional, termasuk dalam gagasan Wawasan Nusantara.

“Oleh karena itu, nama Sriwijaya tidak hanya merepresentasikan kejayaan sebuah kerajaan masa lampau, tetapi juga menjadi simbol kekuatan maritim, persatuan wilayah, dan orientasi Indonesia sebagai bangsa kepulauan,” tutur narator.

Sejumlah Pejabat Hadiri Upacara

Upacara peresmian KRI Sriwijaya-100 dihadiri sejumlah pejabat tinggi TNI. Di antaranya Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jenderal TNI Maruli Simanjuntak, KSAL Laksamana TNI Muhammad Ali, dan Kepala Staf Angkatan Udara (KSAU) Marsekal TNI Mohamad Tonny Harjono.

Sejumlah anggota DPR dan pejabat publik lainnya juga terlihat hadir dalam prosesi tersebut.

Pengibaran Bendera Merah Putih dan pengukuhan nama KRI Sriwijaya-100 menjadi bagian penting dari rangkaian upacara yang menandai perubahan identitas kapal induk ITS Giuseppe Garibaldi menjadi kapal perang dengan nama dan simbol Indonesia.

Ervinna

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *