Budayantara Tegaskan Budaya Bukan Sekadar Pertunjukan, tetapi Gerakan Kemanusiaan

Budaya87 Dilihat

DetikSR.id Jakarta — Budayantara Media Digital Nusantara (BMDN) menegaskan komitmennya untuk menjadikan kebudayaan bukan sekadar pertunjukan seni dan tradisi, melainkan kekuatan untuk membangun solidaritas, menumbuhkan empati, serta memperjuangkan nilai-nilai kemanusiaan universal.

Gagasan tersebut mengemuka dalam diskusi antara Duta Besar Palestina untuk Indonesia, Abdalfatah A.K. Alsattari, bersama tim Budayantara di ruang Kedutaan Besar Palestina, Senin (19/10/2026). Pertemuan ini menjadi ruang dialog mengenai peran budaya dalam memperkuat solidaritas Indonesia–Palestina sekaligus membangun jembatan perdamaian lintas bangsa.

Bagi Budayantara, kebudayaan memiliki makna yang jauh lebih luas daripada seni pertunjukan, tarian, musik, pakaian adat, maupun tradisi. Di dalamnya terdapat nilai-nilai luhur yang membentuk karakter masyarakat, seperti gotong royong, kepedulian, persaudaraan, penghormatan terhadap perbedaan, dan semangat berbagi.

Nilai-nilai tersebut sejalan dengan konsep Humankind, yakni kemanusiaan universal yang menempatkan setiap manusia memiliki martabat, hak, dan nilai kehidupan yang harus dihormati tanpa memandang suku, agama, ras, kebangsaan, maupun latar belakang budaya.

Melalui pendekatan budaya, pesan kemanusiaan dapat disampaikan secara damai, inklusif, dan menyentuh hati masyarakat. Budaya menjadi bahasa bersama yang mampu mempertemukan perbedaan sekaligus membuka ruang dialog di tengah berbagai persoalan kemanusiaan dunia.

Pohon Solidaritas, Simbol Persahabatan Indonesia–Palestina

Dalam konteks tersebut, Renee Partina dari Budayantara menegaskan bahwa penanaman Pohon Solidaritas Kemanusiaan Indonesia–Palestina bukan sekadar kegiatan penghijauan, melainkan simbol kehidupan, harapan, persahabatan, dan komitmen terhadap perdamaian.

“Budaya harus hadir dalam kehidupan nyata. Bukan hanya ditampilkan di atas panggung, tetapi juga menjadi gerakan yang membangun kesadaran, menumbuhkan kepedulian, dan memperkuat solidaritas kemanusiaan,” demikian pesan yang ditekankan dalam gagasan Budayantara tersebut.

Menurut perspektif ini, solidaritas tidak cukup berhenti pada simpati atau pernyataan dukungan. Solidaritas perlu diwujudkan melalui tindakan nyata, edukasi publik, kegiatan sosial, pertukaran kebudayaan, serta diplomasi budaya yang berkelanjutan.

Indonesia dengan kekayaan budaya Nusantara memiliki peluang besar untuk mengambil peran dalam membangun komunikasi antarbangsa. Seni, tradisi, dan kearifan lokal dapat menjadi instrumen diplomasi yang memperkuat persaudaraan sekaligus menyuarakan nilai keadilan, kemerdekaan, dan perdamaian.

Budayantara Fest 2026: Dari Budaya Menuju Kemanusiaan

Komitmen tersebut akan menjadi bagian dari semangat Budayantara Fest 2026, yang digelar pada 24–25 Oktober 2026 di Hutan Kota Srengseng, Jakarta Barat, bersamaan dengan peringatan Milad ke-25 Ikatan Keluarga Besar Betawi (IKB) Jabodetabek.

Mengusung semangat solidaritas kemanusiaan dengan kekuatan budaya, kegiatan ini diarahkan untuk mempertemukan seni dan tradisi Betawi serta Nusantara dengan pesan kepedulian terhadap sesama manusia, termasuk solidaritas bagi rakyat Palestina.

Melalui penanaman Pohon Solidaritas Kemanusiaan, pertunjukan seni budaya, dialog publik, dan berbagai kegiatan masyarakat, Budayantara ingin menunjukkan bahwa kebudayaan dapat menjadi kekuatan sosial yang hidup, relevan, dan berdampak.

Budaya tidak hanya berbicara tentang masa lalu dan warisan leluhur, tetapi juga tentang bagaimana manusia merespons persoalan hari ini dan membangun masa depan yang lebih damai.

Cita Rasa Nusantara, Kehangatan Persaudaraan

Suasana pertemuan di Kedutaan Besar Palestina berlangsung hangat. Leli Elia turut menghadirkan keakraban melalui hidangan yang disajikannya, mempertemukan cita rasa Nusantara dengan suasana persahabatan lintas bangsa.

Di sekitar meja makan, perbedaan kebangsaan seolah melebur dalam kehangatan kebersamaan. Makanan menjadi medium sederhana yang memperlihatkan bagaimana budaya dapat membangun kedekatan, membuka percakapan, dan mempererat hubungan antarmanusia.

Momen tersebut menjadi pengingat bahwa diplomasi tidak selalu berlangsung melalui forum resmi atau pernyataan politik. Ia juga dapat tumbuh melalui percakapan, kebersamaan, seni, tradisi, dan pengalaman budaya yang dibagikan bersama.(*/Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *