Di Al-Azhar Kairo, Menbud Fadli Zon Dorong Bahasa Indonesia Jadi Jembatan Kebudayaan Indonesia-Mesir

Berita43 Dilihat

DetikSR.id Jakarta, Menteri Kebudayaan (Menbud) Republik Indonesia Fadli Zon mendorong penguatan peran bahasa Indonesia sebagai jembatan kebudayaan antara Indonesia dan Mesir. Menurutnya, bahasa tidak hanya berfungsi sebagai alat komunikasi, tetapi juga menjadi pintu masuk untuk memahami sejarah, identitas, pola pikir, serta keragaman kebudayaan suatu bangsa.

Hal tersebut disampaikan Fadli Zon saat memberikan kuliah umum kebudayaan di hadapan sekitar 250 mahasiswa Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Bahasa dan Penerjemahan Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir, pada (20/9/2026).

Pernyataan Fadli disampaikan dalam keterangan tertulis pada pada (21/9/2026). Fadli mengapresiasi Universitas Al-Azhar yang membuka Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia pada Oktober 2025. Ia menilai kehadiran program studi tersebut merupakan langkah strategis untuk memperkuat hubungan pendidikan dan kebudayaan antara Indonesia dan Mesir.

“Bahasa bukan sekadar alat komunikasi. Bahasa adalah pintu masuk untuk memahami kebudayaan, sejarah, cara berpikir, dan identitas suatu bangsa. Karena itu, keberadaan Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia di Al-Azhar memiliki arti yang sangat penting bagi hubungan Indonesia dan Mesir,” ujar Fadli.

Menurut Fadli, keberadaan program studi tersebut juga menunjukkan semakin luasnya minat terhadap Indonesia di lingkungan akademik internasional. Ia memberikan apresiasi kepada para mahasiswa yang memilih mempelajari bahasa dan sastra Indonesia di salah satu institusi pendidikan Islam tertua dan berpengaruh di dunia.

Ia menilai para mahasiswa tersebut memiliki posisi penting dalam membangun hubungan antarmasyarakat kedua negara.

“Saudara-saudara adalah bagian dari jembatan kebudayaan Indonesia dan Mesir. Ketika mempelajari bahasa Indonesia, sesungguhnya saudara juga sedang mempelajari Indonesia, masyarakatnya, sejarahnya, dan kebudayaannya yang sangat beragam,” kata Fadli.

Bahasa Indonesia dan Diplomasi Kebudayaan

Dalam kuliah umumnya, Fadli juga menyoroti potensi bahasa Indonesia untuk semakin berkembang di tingkat internasional. Besarnya jumlah penutur bahasa Indonesia, menurut dia, menjadi salah satu modal penting untuk memperluas penggunaannya di luar Indonesia.

“Bahasa Indonesia memiliki jumlah penutur yang sangat besar. Ini adalah kekuatan yang harus kita dorong agar bahasa Indonesia semakin dikenal, dipelajari, dan digunakan di dunia internasional,” ujarnya.

Fadli menyampaikan harapan agar bahasa Indonesia semakin memperoleh tempat dalam komunitas internasional. Ia bahkan mengemukakan cita-cita agar bahasa Indonesia suatu saat dapat menjadi salah satu bahasa resmi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

“Saudara-saudara adalah bagian dari masa depan bahasa Indonesia di dunia. Semakin banyak orang mempelajari bahasa Indonesia, semakin terbuka pula jalan untuk memperkenalkan kebudayaan Indonesia,” tuturnya.

Bagi Fadli, pengembangan bahasa Indonesia di luar negeri tidak dapat dipisahkan dari upaya memperkenalkan kebudayaan Indonesia secara lebih luas. Karena itu, ia mendorong mahasiswa Al-Azhar tidak berhenti pada penguasaan tata bahasa dan sastra, tetapi juga mempelajari Indonesia secara utuh.

Hal itu mencakup sejarah, seni, tradisi, kuliner, hingga perkembangan kebudayaan Indonesia kontemporer.

Indonesia dan Kekayaan Kebudayaan

Dalam kesempatan tersebut, Fadli memperkenalkan Indonesia sebagai negara dengan keragaman budaya yang sangat besar. Keragaman itu tercermin dari ribuan pulau, lebih dari 1.300 kelompok etnis, serta lebih dari 700 bahasa daerah yang berkembang di berbagai wilayah Indonesia.

“Indonesia adalah negara yang sangat beragam. Kita memiliki ribuan pulau, lebih dari 1.300 kelompok etnis, lebih dari 700 bahasa daerah, serta berbagai tradisi dan ekspresi budaya. Semuanya hidup dalam semangat Bhinneka Tunggal Ika,” jelasnya.

Menurut Fadli, keberagaman tersebut bukan semata-mata fakta demografis, melainkan bagian fundamental dari identitas dan kekayaan kebudayaan Indonesia.

Pengalaman Indonesia dalam menjaga kehidupan masyarakat yang beragam, lanjut dia, juga dapat menjadi bagian dari dialog kebudayaan dengan masyarakat internasional. Pertukaran pengetahuan mengenai budaya dapat membuka ruang pemahaman yang lebih luas di antara masyarakat kedua negara.

Fadli menilai Indonesia dan Mesir memiliki modal sejarah dan kebudayaan yang kuat untuk memperdalam hubungan tersebut. Kedua negara sama-sama memiliki sejarah peradaban yang panjang sehingga relasi bilateral tidak hanya dapat dibangun melalui diplomasi formal, tetapi juga melalui pertukaran pengetahuan, pendidikan, bahasa, seni, sastra, dan kebudayaan.

Di hadapan mahasiswa Al-Azhar, Fadli kembali mengingatkan panjangnya sejarah hubungan Indonesia dengan Mesir, khususnya hubungan intelektual antara masyarakat Nusantara dan Al-Azhar.

Menurutnya, hubungan tersebut telah berlangsung jauh sebelum Indonesia merdeka. Para ulama dan pelajar dari Nusantara datang ke Mesir untuk menuntut ilmu, kemudian kembali ke tanah air dengan membawa pengetahuan yang turut memberikan pengaruh terhadap perkembangan pendidikan, kehidupan keagamaan, dan kebudayaan di Indonesia.

“Hubungan Indonesia dengan Al-Azhar sudah berlangsung sangat lama. Para ulama dan pelajar Indonesia datang ke sini, belajar, kemudian kembali ke Indonesia dan memberikan kontribusi besar dalam pendidikan, kehidupan keagamaan, dan kebudayaan,” katanya.

Fadli juga mengingatkan posisi penting Mesir dalam sejarah kemerdekaan Indonesia. Mesir merupakan negara pertama yang mengakui kemerdekaan Indonesia.

Hubungan kedua negara kemudian berkembang dalam berbagai momentum sejarah, termasuk melalui Konferensi Asia Afrika dan Gerakan Non-Blok.

Sejarah panjang tersebut, menurut Fadli, menjadi fondasi penting bagi penguatan hubungan Indonesia-Mesir pada masa kini. Hubungan antarmasyarakat tidak hanya perlu dijaga melalui hubungan antarpemerintah, tetapi juga melalui interaksi generasi muda kedua negara.

Mahasiswa Sebagai Jembatan Kebudayaan

Karena itu, Fadli mengajak para mahasiswa untuk melihat diri mereka bukan semata-mata sebagai pembelajar bahasa Indonesia, melainkan sebagai bagian dari ekosistem hubungan kebudayaan Indonesia dan Mesir.

Penguasaan bahasa Indonesia, kata dia, dapat menjadi pintu masuk untuk memahami masyarakat Indonesia secara lebih mendalam. Dari bahasa, mahasiswa dapat mengenal karya sastra, sejarah, nilai-nilai sosial, seni, tradisi, hingga dinamika kebudayaan Indonesia masa kini.

“Pelajari Indonesia dengan sungguh-sungguh. Kenali bahasa, sastra, sejarah, dan kebudayaannya. Karena setiap kali saudara menggunakan bahasa Indonesia dan berbicara tentang Indonesia, sesungguhnya saudara sedang menjadi bagian dari jembatan yang menghubungkan masyarakat Mesir dan Indonesia,” ujar Fadli.

Ia berharap hubungan Indonesia dan Al-Azhar yang telah terjalin selama lebih dari satu abad dapat terus diperkuat dan diwariskan kepada generasi berikutnya. Menurutnya, generasi muda memiliki peran penting untuk memastikan hubungan tersebut tidak hanya bertahan, tetapi juga berkembang melalui kerja sama pendidikan dan kebudayaan.

“Terima kasih kepada Al-Azhar dan kepada seluruh mahasiswa yang telah memilih mempelajari bahasa dan sastra Indonesia. Kami menitipkan bahasa Indonesia dan kebudayaan Indonesia kepada saudara-saudara semua,” kata Fadli.

Ervinna

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *