Diduga Membuat Keributan di Area Posyandu, Lurah Margasuka Jadi Sorotan

Berita Daerah107 Dilihat

DetikSR.id BANDUNG, — Belum genap 100 hari menjabat sebagai Lurah Margasuka, Darmawansyah menjadi sorotan setelah diduga membuat keributan di area Posyandu yang tengah digunakan untuk kegiatan Puskesmas Keliling, Selasa (5/5/2026).

Informasi yang dihimpun menyebutkan, insiden bermula ketika istri Lurah Margasuka yang juga menjabat sebagai Ketua TP PKK Kelurahan Margasuka, Regina, datang ke kegiatan tersebut dan mencoba untuk membicarakan beberapa program dengan dr. Ira selaku Kepala UPTD Puskesmas Cibolerang. Namun, pembicaraan program tersebut dianggap tidak mendapat respons sebagaimana yang diharapkannya, dimana mungkin dikarenakan dr. Ira saat itu tengah fokus menangani pasien dalam kegiatan pelayanan kesehatan masyarakat. Sejumlah pihak menilai kondisi tersebut merupakan bagian dari profesionalisme tenaga medis yang sedang menjalankan tugas sesuai etika kedokteran, prioritas pelayanan pasien serta menghindari kesalahan diagnosis yang dikhawatirkan dapat merugikan pasien.

Saat Regina ditanya oleh tim peliputan, tentang apakah dokter tersebut telah selesai memeriksa pasien dan siap untuk berkomunikasi, Regina menjawab bahwa saat itu pasien yang diperiksa telah berdiri. Dikarenakan akan ada keperluan lain, maka Regina berusaha untuk membicarakan program yang ingin dijalankan kepada dr. Ira sebelum pasien berikutnya diperiksa.

Akibat kejadian itu suasana kegiatan Puskesmas Keliling sempat memanas dan menarik perhatian warga yang berada di lokasi Posyandu.

Saat dikonfirmasi awak media , Darmawansyah didampingi Bhabinkamtibmas Aiptu Sopa serta Kasi Pemerintahan Kelurahan Margasuka, Budi Mulyadi, membenarkan adanya insiden tersebut. Ia mengakui menggebrak meja sambil berkata ” diam! ”

“Iya, saya dulu yang gebrak meja, biar bu dokternya diam maksudnya,” ujar Darmawansyah.

Darmawansyah juga menyampaikan pandangannya terkait kebiasaan komunikasi antar instansi di lapangan.

“Kalau dia menghargai saya sebagai lurah baru, sesibuk apa pun orang, apalagi kita levelnya setara, setidaknya dia sapa saya” tambahnya.

Ia juga menyinggung pentingnya kerja sama antara pihak kelurahan dan puskesmas dalam pelayanan masyarakat.

“Apalagi kalau kita sama-sama di lapangan, kita sama-sama butuh. Tapi jujur, kebanyakan puskesmas juga banyak membutuhkan kelurahan karena kami punya kader Posyandu dan lain-lain,” katanya kepada wartawan.

Di waktu berbeda, tim liputan mencoba mengonfirmasi Kepala UPTD Puskesmas Cibolerang, dr. Ira, di ruang kerjanya, Selasa (12/5/2026). Menurutnya, pada saat kejadian sekitar pukul 09.30 WIB, dirinya hendak memeriksa pasien pertama dalam kegiatan Puskesmas Keliling, Ketua TP PKK datang dan langsung mengajaknya berbicara terkait program tanpa memperkenalkan diri terlebih dahulu.

Namun, menurut Ira, sejumlah stafnya, sudah mengulurkan tangan untuk berjabat tangan akan tetapi ditolak oleh Ketua TP PKK dikarenakan dianggap kotor karena masih menggunakan sarung tangan.

Demi profesionalisme dan untuk menghindari kesalahan dalam pemeriksaan pasien, dirinya memilih tetap fokus menjalankan pelayanan kesehatan.

Menurut dr. Ira, situasi kemudian berkembang menjadi percekcokan antara dirinya dengan Ketua TP PKK Kelurahan Margasuka. Tidak lama setelah itu, Lurah Margasuka masuk ke ruangan pemeriksaan pasien dan menggebrak meja.

dr. Ira juga menyangkal pernyataan Lurah Margasuka yang menilai dirinya “jutek”.

“Ketemu aja baru pertama, kenapa harus judes? Jadi, jelas tidak ada masalah lain apapun sebelumnya, mereka (Lurah dan Ketua TP PKK) aja yang memperkenalkannya Bu Yosi kader Posyandu bukan yang bersangkutan langsung,”

“Alhamdulillah, saya sembilan tahun dinas di sini belum pernah ribut,” ucap dr. Ira.

“Selama ini saya bekerja tidak ada masalah dengan kelurahan, warga, ataupun siapa pun. Alhamdulillah, selama saya bertugas, termasuk ke luar daerah, semuanya baik-baik saja,” tambahnya.

Ia juga menjelaskan bahwa dalam prosedur pemeriksaan pasien seharusnya terdapat ruang khusus agar proses pelayanan tidak terganggu.

“Sebetulnya kami punya rahasia jabatan. Dalam prosedur pemeriksaan pasien harus ada ruangan khusus agar tidak terganggu dan meminimalisir kesalahan diagnosis, penginputan data, maupun pemberian resep,” terangnya.

Meski demikian, dr. Ira menegaskan dirinya tetap terbuka untuk membahas program pelayanan kesehatan bersama pihak kelurahan dalam waktu dan kondisi yang tepat.

“Bukan kami tidak ingin membicarakan program. Namun saya meminta di waktu dan kondisi yang tepat. Mau saya diundang ke kelurahan atau diperintah pun, saya siap demi kepentingan kesehatan masyarakat,” tandasnya. (Tim)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *