DetikSR.id Jakarta – Kiageng Arif Wicaksono (atau kerap disapa sebagai Bopo Arif Wicaksono) adalah pemangku padepokan atau juru kunci sekaligus keturunan dari Eyang Djoego (Mbah Djoego).
Berikut adalah narasi singkat mengenai beliau dan kegiatannya:
Siapa Beliau: Kiageng Arif Wicaksono? Beliau merupakan figur penting yang memegang peran sebagai sesepuh, pemangku, sekaligus juru kunci di Padepokan/Pesanggrahan Eyang Djoego yang terletak di Desa Jugo, Kecamatan Kesamben, Kabupaten Blitar, Jawa Timur.
Kegiatan Utama:
1.Melestarikan Warisan Leluhur & Tradisi:
Kiageng Arif Wicaksono memimpin berbagai kegiatan adat dan ritual tahunan, seperti prosesi haul Eyang Djoego serta tradisi napak tilas perjalanan Eyang Djoego menuju Gunung Kawi menyambut bulan Sura. Kiageng Arif Wicaksono adalah sobat lama Sesepuh Sastrajendra Living Academy – Toni Junus Kanj. Gung.
2.Pengelolaan Wisata Religi & Budaya:
Gerakan nyata Kiageng Arif Wicaksono adalah mengelola kompleks pesanggrahan yang menjadi pusat ziarah, tempat pelestarian sejarah perjuangan pengikut Pangeran Diponegoro, serta simbol akulturasi budaya Nusantara dan Tionghoa. Mbah Djoego adalah seorang pejuang kepercayaan Pangeran Diponegoro.
3.Memberikan Edukasi Spiritual: Menyambut para peziarah serta meluruskan pemahaman publik agar memaknai ziarah di padepokan sebagai sarana penyucian diri, olah batin, serta ngalap berkah yang berlandaskan nilai-nilai luhur, meluruskan mitos yang terdistorsi.
Gunung Kawi mendapat stigma tempat pesugihan. Namun justru keliru karena pihak juru kunci dan keluarga keturunan (pemangku Pesarean Gunung Kawi) tegas membantah adanya praktik pesugihan hitam di sana.
Area makam Eyang Djoego dan murid kinasihnya, Raden Mas Iman Soedjono, pada hakikatnya adalah tempat ziarah wisata religi dan simbol akulturasi budaya Nusantara-Tionghoa. Peziarah yang datang diajarkan untuk berdoa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan mengambil teladan hidup dari perjuangan serta kebaikan Eyang Djoego, bukan untuk mencari kekayaan secara mistis.
Tradisi Ngalap Berkah & Doa Berkelimpahan:
Pada masa hidupnya, Eyang Djoego dikenal dermawan dan memiliki karomah untuk membantu pengobatan serta mendoakan keberhasilan usaha warga. Banyak pedagang atau warga dari berbagai etnis (termasuk warga Tionghoa) yang sowan meminta petunjuk bisnis dan doa. Ketika doa dan petunjuk beliau membuahkan hasil (usahanya sukses/sugih), peziarah kembali untuk bersyukur.
Pergeseran Menjadi Mitos Klenik:
Seiring berjalannya waktu dan maraknya desas-desus masyarakat pada dekade 1970–1990-an, tradisi ziarah mendoakan leluhur ini dipelintir oleh oknum-oknum tertentu. Istilah “ngalap berkah” diidentikkan secara instan dengan pesugihan hitam (perjanjian dengan makhluk halus, tumbal, atau pohon dewandaru yang menggugurkan daun keberuntungan).
Kiageng Arif Wicaksono berkiprah untuk mengembalikan budaya yang luhur itu. Ungkapnya:
“Nggih tetap kita laksanakan juga kita gebyar budaya, ajaran Jawa, jangan cuma bilang -ayo bangkit ayo bangkit- tapi tidak ada implementasinya..”.
Sama dengan perjuangan pelestarian Budaya Spiritual dari Sastrajendra Living Academy yakni bersama membangun mental spiritual bangsa.
(Red/SLA)












