ISW: Norman Joesoef Punya Modal Strategis untuk Transformasi Industri Pertahanan Nasional

Berita88 Dilihat

DetikSR.id Jakarta, 8 Agustus 2026 — Indonesia Strategic Watch (ISW) menyatakan dukungan penuh terhadap Norman Joesoef sebagai sosok yang dinilai memiliki modal strategis untuk mengisi posisi Wakil Menteri Pertahanan Republik Indonesia. ISW melihat pengalaman Norman di sektor industri pertahanan, teknologi, serta jejaring diplomasi internasional sebagai kombinasi yang relevan untuk membawa perspektif baru dalam pembangunan pertahanan nasional.

Koordinator Nasional ISW, Samuel Tampubolon mengatakan Indonesia membutuhkan figur yang tidak hanya memahami aspek birokrasi pertahanan, tetapi juga memiliki pengalaman langsung dalam membangun industri dan mengembangkan teknologi pertahanan. Menurutnya, perubahan lanskap keamanan global menuntut Indonesia memperkuat kemampuan nasional, tidak sekadar menjadi pengguna produk pertahanan dari luar negeri. “ISW mendukung penuh Norman Joesoef. Pengalaman industri, teknologi, dan jejaring internasional yang dimilikinya merupakan modal yang relevan untuk mempercepat transformasi pertahanan Indonesia,” ujar Samuel di Gedung Joeng 45, Menteng Jakarta Pusat

Salah satu modal utama Norman adalah rekam jejaknya sejak mendirikan Republikorp pada 2013. ISW menilai kiprah tersebut menunjukkan upaya membangun kapasitas industri pertahanan swasta nasional sekaligus memperluas konektivitas Indonesia dengan ekosistem industri pertahanan global. Dalam membangun jejaring tersebut, Norman disebut terlibat dalam komunikasi dan penjajakan kerja sama dengan perusahaan pertahanan strategis Turki, termasuk Roketsan dan Aselsan, antara lain terkait rudal permukaan ke permukaan Cakir dan sistem pertahanan udara Sungur.

Pengalaman tersebut, menurut ISW, menunjukkan kapasitas Norman dalam membangun diplomasi industri pertahanan, yakni mempertemukan kebutuhan strategis Indonesia dengan perkembangan teknologi dan kemampuan industri pertahanan global. Jejaring tersebut juga berkembang ke sektor teknologi nirawak. Melalui ajang SAHA Expo, Norman membangun komunikasi dan kemitraan strategis dengan CEO Baykar, Haluk Bayraktar, terkait pengembangan teknologi pesawat tempur nirawak, termasuk Bayraktar Kizilelma.

Selain Turki, Norman juga disebut memiliki jejaring penjajakan kerja sama dengan mitra strategis lainnya, termasuk India melalui teknologi rudal BrahMos serta Uni Emirat Arab melalui EDGE Group. Bagi ISW, kemampuan membangun komunikasi dengan berbagai pusat industri pertahanan dunia merupakan modal penting bagi Indonesia untuk memperluas diversifikasi mitra, memperkuat posisi tawar, serta membuka peluang transfer teknologi dan pengembangan kapasitas industri nasional.

ISW menilai diplomasi pertahanan ke depan tidak boleh berhenti pada transaksi pengadaan alutsista. Setiap kerja sama internasional harus menghasilkan manfaat strategis berupa transfer teknologi, peningkatan kualitas SDM, pengembangan riset bersama, penguatan industri komponen dalam negeri, serta peningkatan kemampuan produksi nasional. Dengan pendekatan tersebut, anggaran pertahanan dapat dikonversi menjadi investasi jangka panjang bagi kemandirian teknologi Indonesia.

Pengalaman Norman dalam jejaring diplomasi strategis juga menjadi nilai tambah. Norman disebut turut mendampingi delegasi Indonesia dalam pertemuan dengan Presiden Prancis Emmanuel Macron pada Mei 2026, serta terlibat dalam agenda Indonesia di India pada Juli 2026 dan diperkenalkan kepada Perdana Menteri India Narendra Modi. ISW menilai pengalaman tersebut dapat menjadi modal dalam memperkuat hubungan antara kepentingan industri pertahanan Indonesia dengan jejaring strategis internasional, sepanjang diarahkan sepenuhnya untuk kepentingan nasional dan tata kelola yang akuntabel.

“Jejaring internasional adalah modal awal. Yang lebih penting adalah bagaimana jejaring tersebut diterjemahkan menjadi teknologi, investasi, riset, peningkatan SDM, dan kapasitas industri dalam negeri. Jika dipercaya menjadi Wamenhan, kami berharap Norman mampu membawa pengalaman tersebut menjadi kekuatan strategis bagi Indonesia,” tegas Samuel.

ISW berpandangan, apabila Norman mendapatkan mandat sebagai Wamenhan, terdapat sejumlah agenda yang perlu didorong, mulai dari percepatan kemandirian industri pertahanan, penguatan riset dan inovasi, pengembangan AI dan sistem nirawak, perluasan kolaborasi pemerintah dengan industri dan perguruan tinggi, hingga memastikan seluruh kerja sama pertahanan berjalan dengan prinsip transparansi, profesionalisme, akuntabilitas, dan bebas konflik kepentingan.

Atas dasar rekam jejak tersebut, Indonesia Strategic Watch menyatakan dukungan penuh terhadap Norman Joesoef dan menilai dirinya memiliki modal strategis untuk membawa perspektif baru ke Kementerian Pertahanan. ISW berharap apabila mandat tersebut diberikan, Norman dapat memperkuat diplomasi pertahanan, mempercepat penguasaan teknologi, serta menjadikan industri pertahanan sebagai salah satu lokomotif kedaulatan teknologi dan kemandirian strategis Indonesia.(Red/RBT)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *