Katedral Jakarta Ajak Umat Cintai Wastra Nusantara dan Lingkungan Dalam Perayaan Paskah 2026

Berita143 Dilihat

DetikSR.id Jakarta, Perayaan Paskah 2026 di Gereja Katedral Jakarta berlangsung dengan nuansa yang berbeda dan penuh makna. Tidak hanya menjadi momentum religius bagi umat Katolik, perayaan tahun ini juga mengusung pesan kuat tentang kecintaan terhadap lingkungan hidup serta pelestarian wastra Nusantara sebagai bagian dari identitas budaya bangsa.

Humas Keuskupan Agung Jakarta dan Katedral Jakarta, Susyana Suwadie, menjelaskan bahwa tema Paskah tahun ini diangkat dari Arah Dasar Keuskupan Agung Jakarta yang kelima, yakni kepedulian terhadap keutuhan alam ciptaan.
Menurut Susyana, seluruh umat diajak untuk menjalani apa yang disebut sebagai “pertobatan ekologis”, sebuah refleksi spiritual yang mendorong manusia untuk memperlakukan bumi sebagai rumah bersama yang harus dijaga dan dilestarikan.

“Di sini semua umat diajak untuk melakukan pertobatan ekologis, yaitu bagaimana menjadikan bumi kita sebagai rumah kita bersama. Intinya bagaimana Katedral mencoba untuk tetap selalu mendukung dan mencintai wastra Nusantara kita,” ujarnya di kompleks Katedral, (3/4/2026).

Komitmen terhadap lingkungan tidak hanya berhenti pada pesan moral, tetapi diwujudkan melalui berbagai langkah konkret. Salah satunya adalah penggunaan material daur ulang dalam dekorasi liturgi Paskah.

Susyana menjelaskan bahwa ornamen seperti Bukit Golgota dibuat dari batu-batuan sisa pembangunan, bukan material baru. Selain itu, berbagai elemen dekoratif juga memanfaatkan kertas bekas dan bahan ramah lingkungan lainnya.
Tidak hanya itu, menjelang Pekan Suci, pihak Katedral juga melakukan aksi penghijauan dengan menanam 16 pohon palem di sekitar area patung Kristus Raja.

Langkah ini menjadi simbol harapan, kehidupan baru, sekaligus kepedulian terhadap ekosistem.
“Inisiatif ini merupakan wujud nyata pengamalan ajaran untuk mencintai sesama dan alam semesta, termasuk dengan membiasakan kegiatan daur ulang sampah,” tambahnya.

Selain isu lingkungan, Katedral Jakarta juga mengajak umat untuk mencintai dan melestarikan wastra Nusantara. Penggunaan kain tradisional dalam rangkaian liturgi dan dekorasi menjadi simbol penghormatan terhadap kekayaan budaya Indonesia.

Pesan ini sekaligus mengingatkan bahwa iman tidak terpisah dari budaya, melainkan dapat berjalan beriringan dalam membangun identitas bangsa yang berakar pada nilai-nilai luhur.

Dalam rangkaian Tri Hari Suci Paskah 2026, Katedral Jakarta menyediakan sekitar 5.000 kursi setiap harinya bagi umat yang ingin mengikuti ibadah secara langsung. Salah satu puncaknya adalah ibadah Jumat Agung yang digelar pada hari ini.

Ibadat Jumat Agung dilaksanakan setelah prosesi Jalan Salib yang diadakan sebanyak tiga kali, yaitu pukul 12.00 WIB, 15.00 WIB, dan 18.00 WIB. Seluruh rangkaian ibadah ini diselenggarakan secara hibrida, memadukan kehadiran langsung dan siaran daring.

Misa pukul 12.00 WIB dipimpin oleh Yusuf Edi Mulyono, pukul 15.00 WIB oleh Makarius Marsono, dan pukul 18.00 WIB oleh Yohanes Deodatus.
“Untuk pendaftaran registrasi itu sudah penuh di pukul 12.00 WIB dan pukul 15.00 WIB, kecuali pukul 18.00 WIB mungkin tersisa sedikit,” ungkap Susyana.

Penyelenggaraan ibadah secara hibrida merupakan bentuk kepedulian terhadap umat lanjut usia maupun mereka yang sedang sakit, sehingga tetap dapat mengikuti perayaan secara aman dan nyaman.

Bagi umat yang hadir langsung, Katedral Jakarta telah menyiapkan sejumlah titik parkir strategis, antara lain di Masjid Istiqlal yang terhubung melalui Terowongan Silaturahmi menuju Katedral. Selain itu, fasilitas parkir juga tersedia di Sekolah Ursula, Kantor Pos, serta area sekitar Lapangan Banteng.

Perayaan Paskah 2026 di Katedral Jakarta menjadi refleksi mendalam bahwa iman tidak hanya diwujudkan dalam ritual, tetapi juga dalam tindakan nyata menjaga lingkungan dan melestarikan budaya bangsa.

Melalui ajakan untuk mencintai wastra Nusantara dan merawat bumi, Katedral Jakarta menegaskan bahwa spiritualitas modern harus mampu menjawab tantangan zaman mengintegrasikan nilai keagamaan dengan kepedulian sosial dan ekologis demi masa depan yang berkelanjutan.

Ervinna

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *