Kejar Target E20, Danantara Siapkan Investasi Pabrik Bioetanol Berbasis Tebu

Berita347 Dilihat

DetikSR.id Jakarta, Danantara mulai mengarahkan investasi ke sektor bioetanol sebagai bagian dari strategi memperkuat ketahanan energi nasional sekaligus mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor bensin.

Setelah pengembangan biodiesel B50 dinilai mampu menekan kebutuhan impor solar, Danantara kini melihat bioetanol sebagai instrumen berikutnya dalam upaya meningkatkan pemanfaatan energi berbasis sumber daya domestik.

Investasi tersebut tidak hanya diarahkan pada penyediaan bahan baku, tetapi juga mencakup pembangunan fasilitas pengolahan bioetanol dari sisi hulu hingga hilir.

Chief Operating Officer (COO) Danantara, Dony Oskaria, mengatakan penguatan ketahanan energi merupakan salah satu fokus investasi yang tengah didorong Danantara.

Menurut dia, pengalaman Indonesia dalam menjalankan program biodiesel dapat menjadi pijakan untuk mengembangkan bahan bakar nabati lainnya.

“Sebenarnya tadi kita berdiskusi mengenai peran Danantara berkaitan dengan investasi yang kita lakukan. Salah satunya dalam rangka mewujudkan ketahanan energi,” ujar Dony, pada (3/10/2026).

Dony menilai keberhasilan pengembangan biodiesel hingga B50 menunjukkan bahwa bahan bakar nabati memiliki ruang besar untuk mengurangi ketergantungan terhadap energi fosil dan impor.

Langkah berikutnya diarahkan ke sektor bensin melalui pengembangan bioetanol. Pemerintah secara bertahap menargetkan peningkatan kadar campuran etanol dalam bensin, dimulai dari E20 dan dalam jangka panjang diarahkan menuju E50.

“Nah, untuk bensin ini kan beberapa negara sudah menerapkannya, bahkan ada yang sudah E50. Kita juga, dalam rangka menjadikan negara berswasembada energi, mulai memikirkan langkah awal dari E20 terlebih dahulu,” tutur Dony.

Tebu Jadi Kunci Bahan Baku

Pengembangan bioetanol tersebut tidak dapat dilepaskan dari kesiapan bahan baku. Dony menyebut tebu dan produk samping pengolahan tebu, seperti molase, menjadi salah satu sumber utama bahan baku etanol.

Karena itu, pengembangan industri bioetanol akan berjalan beriringan dengan penguatan sektor pertanian, khususnya perluasan dan peningkatan produktivitas perkebunan tebu di dalam negeri.

“Bahan baku etanol ini terutama berasal dari molase atau tebu. Karena itu, ke depannya pemerintah akan menggencarkan proses penanaman tebu yang kita harapkan menjadi bagian dari transisi energi nasional,” sambung Dony.

Dengan pendekatan tersebut, pengembangan bioetanol tidak hanya ditempatkan sebagai proyek energi, tetapi juga sebagai pembangunan ekosistem industri baru yang menghubungkan sektor pertanian, perkebunan, manufaktur, hingga distribusi bahan bakar.

Danantara Buka Opsi Bangun Pabrik Bioetanol

Untuk memastikan ketersediaan pasokan, Danantara membuka peluang terlibat langsung dalam pembangunan fasilitas pengolahan bioetanol.

Dony mengamini bahwa pembangunan pabrik menjadi salah satu opsi investasi yang sedang didorong. Investasi tersebut diharapkan menciptakan rantai pasok terintegrasi, mulai dari penyediaan lahan dan penanaman tebu hingga pengolahan bahan baku menjadi etanol.

“Ya, termasuk pembangunan pabrik. Mulai dari menanam hingga membangun pabrik etanol. Kami berharap pemerintah dapat menyelesaikan seluruh investasi etanol dalam kurun tiga tahun ke depan,” jelas dia.

Rencana tersebut menunjukkan bahwa tantangan pengembangan bioetanol tidak hanya terletak pada pembangunan fasilitas pengolahan. Ketersediaan bahan baku dalam jumlah besar dan berkelanjutan menjadi faktor yang sama pentingnya.

Tanpa penguatan sektor hulu, peningkatan kapasitas pabrik berpotensi tidak diikuti dengan pasokan bahan baku yang memadai. Karena itu, pembangunan industri bioetanol perlu dilakukan secara terintegrasi agar kebutuhan bahan baku dan kapasitas pengolahan dapat tumbuh secara beriringan.

Pemerintah sebelumnya menyiapkan agenda penyediaan lahan dalam skala besar untuk mendukung pengembangan komoditas tebu sebagai bahan baku bioetanol.
Luas lahan yang disiapkan disebut dapat mencapai sekitar 2 juta hektare.

Lahan tersebut diharapkan menopang peningkatan produksi tebu nasional sekaligus menyediakan bahan baku bagi industri bioetanol dalam negeri.

Produksi etanol selanjutnya diarahkan untuk memenuhi kebutuhan campuran bensin, sejalan dengan target implementasi E20 dan rencana peningkatan kadar campuran secara bertahap hingga E50.

Bagi Danantara, pengembangan bioetanol menjadi bagian dari agenda investasi yang lebih besar: membangun kapasitas energi domestik sekaligus menciptakan ekosistem industri yang dapat mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap pasokan energi dari luar negeri.

Jika pengembangan tebu, fasilitas pengolahan, dan kebijakan pencampuran bahan bakar dapat berjalan beriringan, bioetanol berpotensi menjadi salah satu pilar baru dalam strategi ketahanan energi Indonesia, melanjutkan peran bahan bakar nabati yang sebelumnya diperkuat melalui program biodiesel.

Ervinna

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *