Kemenpar Pastikan Rehabilitasi Desa Adat Sade Berjalan Aman dan Berkelanjutan, Pemulihan Ekonomi Warga Jadi Prioritas

Berita123 Dilihat

DetikSR.id Jakarta, Kementerian Pariwisata (Kemenpar) memastikan rehabilitasi dan pemulihan Desa Adat Sade di Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB), pascakebakaran dilakukan secara menyeluruh, aman, dan berkelanjutan.

Pemulihan tidak hanya difokuskan pada pembangunan kembali bangunan yang terdampak, tetapi juga pada perlindungan warisan budaya, penguatan ekonomi masyarakat, serta peningkatan keselamatan warga dan wisatawan.

Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana menegaskan, keberhasilan rehabilitasi Desa Adat Sade harus diukur dari kemampuan masyarakat untuk kembali menjalankan kehidupan sosial dan budaya, memulihkan aktivitas ekonomi, serta mengembangkan pariwisata tanpa mengabaikan aspek keselamatan.

“Ukuran keberhasilan kita bukan hanya seberapa banyak bangunan yang kembali berdiri, melainkan saat masyarakat kembali berdaya, budaya tetap hidup, ekonomi bergerak, dan wisatawan dapat berkunjung dengan aman,” kata Widiyanti dalam keterangan yang dikonfirmasi di Jakarta, pada (12/10/2026).

Dalam kunjungannya ke Desa Adat Sade pada (11/10/2026), Widiyanti menjelaskan bahwa proses rekonstruksi telah dimulai sejak 3 September 2026. Tahap tersebut ditandai dengan ritual adat Nyemulak atau Tanjak Teken sebagai simbol peletakan batu pertama pembangunan kembali kawasan bersama para mitra.

Dimulainya rekonstruksi menjadi langkah awal untuk memulihkan fungsi Desa Adat Sade sebagai ruang hidup masyarakat Sasak sekaligus salah satu destinasi wisata budaya yang memiliki daya tarik khas di Lombok.

Rekonstruksi Berbasis Adat dan Keselamatan

Kemenpar memprioritaskan pembangunan kembali fasilitas yang memiliki fungsi penting bagi kehidupan sosial, keagamaan, dan pelestarian budaya masyarakat. Pekerjaan tahap awal mencakup pembangunan masjid, sekenam atau ruang berkumpul masyarakat, museum semipermanen, serta penyediaan kamar mandi dan toilet yang layak.

Rekonstruksi selanjutnya dirancang secara menyeluruh dengan mempertahankan karakteristik arsitektur rumah adat, tata ruang tradisional, dan pola kehidupan masyarakat Sasak yang menjadi identitas Desa Adat Sade.

Pendekatan tersebut penting untuk memastikan pembangunan kembali tidak menghilangkan keaslian kawasan. Sebagai desa adat yang memiliki nilai budaya dan daya tarik wisata, Sade bukan sekadar kumpulan bangunan tradisional, melainkan ruang hidup yang menyimpan pengetahuan lokal, tradisi, dan identitas masyarakat yang diwariskan lintas generasi.

Namun, pelestarian warisan budaya perlu berjalan seiring dengan peningkatan standar keselamatan. Pengalaman kebakaran menjadi pengingat bahwa perlindungan terhadap masyarakat dan wisatawan harus menjadi bagian mendasar dalam perencanaan kawasan wisata berbasis permukiman tradisional.

Karena itu, pembangunan kembali Desa Adat Sade diarahkan untuk mengintegrasikan sistem perlindungan terhadap risiko kebakaran dan kesiapsiagaan menghadapi keadaan darurat, tanpa menghilangkan karakter asli kawasan.

Aspek yang menjadi perhatian meliputi penyediaan sistem proteksi kebakaran, jalur evakuasi yang jelas, ketersediaan pasokan air dan alat pemadam kebakaran, perbaikan sanitasi, serta pembangunan infrastruktur pendukung penanganan keadaan darurat.

Penerapan langkah-langkah tersebut diharapkan dapat meningkatkan ketangguhan kawasan terhadap risiko bencana, sekaligus memberikan rasa aman dan nyaman bagi masyarakat yang tinggal di dalamnya maupun wisatawan yang berkunjung.

Rp817,5 Juta Untuk Menggerakkan Kembali Ekonomi Warga

Selain memulihkan infrastruktur, Kemenpar menempatkan pemulihan ekonomi masyarakat sebagai bagian penting dari rehabilitasi. Pemerintah telah menyalurkan bantuan modal usaha dan peralatan kerja dengan nilai keseluruhan mencapai Rp817,5 juta.

Bantuan tersebut meliputi 15 unit alat tenun gedogan, modal kerja bagi 69 usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), 70 paket bahan baku tenun, serta 43 paket peralatan kerajinan non-tenun.

Dukungan ini ditujukan untuk membantu masyarakat kembali menjalankan kegiatan produktif, khususnya para perajin dan pelaku UMKM yang menggantungkan penghasilan pada kerajinan tradisional dan aktivitas ekonomi berbasis pariwisata.

Pemulihan kegiatan usaha menjadi penting karena dampak kebakaran tidak hanya berkaitan dengan kerusakan fisik, tetapi juga berpotensi mengganggu mata pencaharian warga. Tanpa dukungan ekonomi yang memadai, proses pemulihan masyarakat dapat berjalan lebih lambat meskipun pembangunan fisik mulai dilakukan.

Melalui bantuan permodalan, peralatan, dan bahan baku, masyarakat diharapkan dapat kembali memproduksi serta memasarkan hasil kerajinan tanpa harus menunggu seluruh proses rekonstruksi selesai.

Langkah tersebut sekaligus menjadi upaya menjaga keberlangsungan keterampilan tradisional masyarakat Sasak, terutama kerajinan tenun yang memiliki nilai ekonomi sekaligus merepresentasikan identitas budaya dan pengetahuan lokal yang diwariskan secara turun-temurun.

Pelatihan Untuk Meningkatkan Daya Saing Pariwisata

Sebagai bagian dari pemulihan jangka panjang, Kemenpar juga menyiapkan program pelatihan untuk meningkatkan kapasitas masyarakat lokal dalam mengelola kegiatan pariwisata dan mengembangkan usaha kreatif berbasis budaya.

Program tersebut mencakup peningkatan kompetensi pemandu wisata lokal, penerapan standar keselamatan dan pelayanan wisata, pembaruan katalog produk kerajinan, penguatan identitas dan citra produk melalui branding, serta pemanfaatan pemasaran digital untuk menjangkau pasar yang lebih luas.

Peningkatan kapasitas tersebut diharapkan dapat memperkuat posisi produk lokal dan meningkatkan kualitas pengalaman wisatawan. Dengan kemampuan promosi yang lebih baik, perajin dan pelaku UMKM berpeluang memperluas pasar, tidak hanya melalui kunjungan langsung wisatawan, tetapi juga melalui saluran pemasaran digital.

Di sisi lain, penguatan kompetensi pelayanan dan keselamatan menjadi bagian penting dalam membangun kembali kepercayaan wisatawan. Destinasi yang menawarkan pengalaman budaya autentik perlu didukung pengelolaan yang profesional, fasilitas yang memadai, serta kesiapan menghadapi situasi darurat.

Kemenpar juga tengah mempersiapkan peluncuran kembali Desa Adat Sade sebagai destinasi wisata budaya. Persiapan tersebut diarahkan untuk memastikan kesiapan masyarakat, fasilitas pendukung, dan standar keselamatan sebelum aktivitas kunjungan kembali berjalan secara optimal.

Masyarakat Adat Harus Menjadi Pelaku Utama

Widiyanti menegaskan bahwa masyarakat adat Sade harus menjadi pelaku utama dalam setiap tahapan pemulihan. Keterlibatan warga diperlukan agar proses rekonstruksi tetap menghormati nilai-nilai adat, mempertahankan kearifan lokal, dan menjawab kebutuhan nyata masyarakat.

Prinsip tersebut menjadi penting agar rehabilitasi tidak semata-mata berorientasi pada pemulihan daya tarik wisata, tetapi juga memperkuat keberlanjutan kehidupan masyarakat sebagai pemilik dan penjaga warisan budaya.

Dalam konteks pariwisata berbasis komunitas, masyarakat lokal bukan sekadar pihak yang terdampak atau penerima bantuan. Mereka merupakan pemegang pengetahuan budaya, pelaku ekonomi kreatif, sekaligus pihak yang menentukan bagaimana tradisi diwariskan dan diperkenalkan kepada pengunjung.

Karena itu, keberhasilan rehabilitasi Desa Adat Sade akan sangat bergantung pada keseimbangan antara pembangunan fisik, pemulihan mata pencaharian, pelestarian tradisi, dan penerapan standar keselamatan yang memadai.

Ke depan, pemulihan Desa Adat Sade diharapkan tidak hanya mengembalikan fungsi kawasan sebagai destinasi wisata budaya, tetapi juga menciptakan lingkungan yang lebih aman, tangguh, dan berdaya saing.

Dengan pendekatan yang mengutamakan masyarakat, rehabilitasi ini diharapkan menjadi momentum untuk memperkuat keberlanjutan budaya Sasak sekaligus memastikan manfaat pariwisata dapat dirasakan secara langsung oleh warga setempat.

Ervinna

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *