Kemensos Ungkap Penyebab Perubahan Desil DTSEN, 12 Juta Data Baru Dari BKKBN Jadi Pemicu

Berita74 Dilihat

DetikSR.id Jakarta, Kementerian Sosial (Kemensos) mengungkap penyebab terjadinya perubahan peringkat kesejahteraan atau desil dalam Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN) Volume 3. Perubahan tersebut terjadi setelah adanya penambahan sekitar 12 juta data baru dari Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN).

Menteri Sosial (Mensos) Saifullah Yusuf atau Gus Ipul mengatakan, masuknya jutaan data baru tersebut menjadi salah satu faktor yang menyebabkan posisi desil sejumlah penduduk mengalami perubahan cukup signifikan.

Menurutnya, data dari BKKBN yang baru masuk belum seluruhnya melalui proses verifikasi dan validasi ketika DTSEN Volume 3 digunakan. Kondisi tersebut menyebabkan adanya pergeseran peringkat kesejahteraan dalam pemeringkatan data secara nasional.

“Baru masuk 12 juta data baru dari BKKBN yang belum dilakukan verifikasi dan validasi. Sehingga loncat-loncat,” kata Gus Ipul dalam keterangannya pada (4/9/2026).

Gus Ipul menegaskan pemerintah terus melakukan pembenahan terhadap DTSEN untuk memastikan data yang digunakan sebagai dasar kebijakan sosial semakin akurat dan mencerminkan kondisi masyarakat yang sebenarnya.

Kemensos melakukan konsolidasi dan pemutakhiran data bersama pemerintah daerah, termasuk melalui proses verifikasi dan validasi terhadap data yang masuk.
Menurut Gus Ipul, proses tersebut saat ini terus berjalan dan data yang sebelumnya mengalami perubahan cukup tajam mulai ditata kembali.

“Nah sekarang sudah distabilkan, dirapikan, diverifikasi dan validasi. Insyaallah dalam waktu 1-2 minggu ke depan, data ini akan makin akurat,” ujarnya.

Pemutakhiran DTSEN menjadi penting karena data tersebut digunakan pemerintah untuk mendukung penargetan berbagai program sosial dan kebijakan yang berkaitan dengan kesejahteraan masyarakat.

Gus Ipul juga meminta masyarakat tidak langsung menyimpulkan bahwa perubahan desil akan menyebabkan bantuan sosial (bansos) dihentikan.

Ia menegaskan, perubahan posisi desil dalam DTSEN tidak serta-merta membuat seseorang langsung dicoret dari daftar penerima bantuan sosial. Penetapan penerima bantuan tetap dilakukan sesuai mekanisme dan periode penyaluran yang berlaku.

“Tidak serta-merta orang yang sekarang desilnya berubah, itu otomatis dicoret (bansosnya). Karena masih menunggu penetapan pada awal bulan penyaluran,” kata Gus Ipul.

Ia menjelaskan, perubahan desil yang terjadi dalam proses pemutakhiran data tidak secara otomatis menghilangkan hak masyarakat atas bantuan yang sedang diterima.

“Sekarang ini kan ada lonjakan-lonjakan, itu tidak otomatis (bansos) hilang. Sementara untuk PBI itu setiap bulan sekali,” ujarnya.

Dengan demikian, masyarakat yang mendapati perubahan desil tidak perlu langsung menganggap dirinya telah kehilangan status sebagai penerima bantuan.

Pemerintah masih melakukan proses pemutakhiran, verifikasi, dan validasi sebelum penetapan penerima dilakukan.

Sementara itu, Tenaga Ahli Menteri Sosial Bidang Perencanaan dan Evaluasi Kebijakan Strategis Andy Kurniawan menjelaskan bahwa desil dalam DTSEN tidak dapat dimaknai secara sederhana sebagai ukuran seseorang kaya atau miskin.

Desil juga tidak dapat digunakan untuk menentukan besaran penghasilan seseorang secara langsung.
Menurut Andy, desil merupakan pemeringkatan relatif tingkat kesejahteraan penduduk secara nasional. Setelah penduduk diurutkan berdasarkan indikator kesejahteraan, masyarakat kemudian dibagi ke dalam 10 kelompok yang disebut desil.

“Desil itu bukan sertifikat kaya dan miskin. Desil tidak bisa disamakan secara ekuivalen dengan penghasilan. Desil 1 penghasilannya sekian atau desil 10 penghasilannya sekian, itu tidak bisa,” kata Andy.

Artinya, seseorang yang berada pada desil tertentu tidak otomatis memiliki jumlah penghasilan tertentu. Posisi desil menggambarkan posisi relatif seseorang atau keluarga dibandingkan penduduk lainnya dalam keseluruhan pemeringkatan.

Andy menambahkan, karena desil merupakan ukuran yang bersifat relatif, posisi seseorang dalam pemeringkatan dapat berubah meskipun kondisi ekonominya sendiri tidak mengalami perubahan secara signifikan.

Perubahan tersebut dapat terjadi ketika terdapat perubahan pada data masyarakat lain yang masuk dalam pemeringkatan. Dengan bertambahnya data baru dan diperbaruinya sejumlah indikator, posisi relatif seseorang dapat ikut bergeser.

Karena itu, perubahan dari satu desil ke desil lainnya tidak selalu berarti kondisi ekonomi seseorang tiba-tiba membaik atau memburuk.
“Jadi, perubahan desil itu harus dilihat dalam konteks pemeringkatan relatif. Ketika ada data baru atau perubahan pada data penduduk lainnya, posisi seseorang dalam pemeringkatan nasional juga dapat berubah,” jelas Andy.

Kemensos kini terus melakukan penyempurnaan DTSEN melalui proses verifikasi dan validasi secara berkelanjutan. Pemerintah daerah juga dilibatkan untuk membantu memastikan data masyarakat sesuai dengan kondisi faktual di lapangan.

Langkah tersebut dilakukan agar DTSEN dapat menjadi basis data yang semakin akurat dalam mendukung penyaluran bantuan sosial dan pelaksanaan berbagai program perlindungan sosial pemerintah.

Pemerintah berharap proses konsolidasi dan pemutakhiran data dalam beberapa waktu ke depan dapat mengurangi perubahan yang terlalu tajam pada peringkat desil serta meningkatkan ketepatan sasaran program sosial.

Dengan demikian, perubahan desil yang terjadi pada DTSEN Volume 3 tidak semata-mata menunjukkan perubahan kondisi ekonomi masyarakat, tetapi juga berkaitan dengan proses pembaruan, penambahan, verifikasi, dan pemeringkatan data secara nasional.

Ervinna

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *