Menaker Yassierli Dorong Pekerja Indonesia Tingkatkan Inovasi dan Penguatan Adaptasi di Tengah Transformasi Dunia Industri

Berita72 Dilihat

DetikSR.id Jakarta, Menteri Ketenagakerjaan Yassierli menekankan pentingnya penguatan kemampuan adaptasi dan inovasi bagi para pekerja Indonesia dalam menghadapi dinamika geopolitik, geoekonomi global, serta perkembangan teknologi yang berlangsung sangat cepat. Hal tersebut disampaikannya dalam keterangan resmi di Jakarta, pada (19/5/2026).

Menurut Yassierli, dunia kerja saat ini terus mengalami perubahan akibat perkembangan teknologi digital, otomatisasi industri, hingga pemanfaatan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).

Karena itu, para pekerja dituntut untuk tidak hanya mampu mengikuti perubahan, tetapi juga aktif menciptakan inovasi dalam lingkungan kerja masing-masing.
“Produktivitas kita mungkin sudah baik, tetapi filosofi seorang pekerja yang inovatif adalah selalu ada ruang untuk melakukan perbaikan dan inovasi,” ujar Yassierli.

Ia menjelaskan bahwa perkembangan teknologi seperti komputer, AI, serta sensor digital seharusnya tidak dipandang sebagai ancaman bagi tenaga kerja, melainkan sebagai alat bantu yang dapat meningkatkan produktivitas, efisiensi, dan kualitas pekerjaan.
Yassierli mengaku banyak mempelajari budaya kerja Jepang, khususnya konsep continuous improvement atau perbaikan berkelanjutan yang diterapkan dalam dunia industri.

Menurutnya, budaya tersebut sangat relevan diterapkan di Indonesia guna meningkatkan daya saing tenaga kerja nasional.
“Saya belajar cukup lama di bidang teknik industri dan banyak belajar dari budaya kerja Jepang tentang continuous improvement atau perbaikan secara berkelanjutan,” katanya.

Ia menambahkan bahwa semangat untuk terus memperbaiki cara kerja harus menjadi budaya di setiap perusahaan dan individu pekerja. Dengan begitu, kualitas hasil kerja akan terus meningkat dari waktu ke waktu.
“Selalu ada pertanyaan, bulan depan apa cara yang lebih baik yang bisa dilakukan agar pekerjaan menjadi lebih produktif dan berkualitas,” ujarnya.

Selain menekankan inovasi, Menaker juga mengingatkan pentingnya peningkatan kompetensi pekerja agar tetap relevan di tengah transformasi industri dan digitalisasi yang terus berkembang pesat.

Menurutnya, inovasi tidak akan berjalan optimal tanpa dukungan kemampuan dan keterampilan baru.
“Inovasi dan produktivitas membutuhkan kompetensi baru. Karena itu, semangat untuk terus belajar harus selalu dijaga,” kata Yassierli.

Ia juga menyoroti pentingnya penerapan prinsip no one left behind dalam dunia ketenagakerjaan. Pemerintah, perusahaan, dan seluruh pemangku kepentingan diminta memastikan seluruh pekerja memperoleh kesempatan yang sama untuk berkembang melalui program peningkatan keterampilan (upskilling) dan pelatihan ulang (reskilling).

“Jangan sampai ada satu pun karyawan yang tertinggal. Semua berhak mendapatkan upskilling dan reskilling,” tegasnya.

Lebih lanjut, Yassierli menilai budaya inovasi di sejumlah perusahaan industri di Indonesia telah berkembang dengan baik, termasuk di lingkungan industri elektronik seperti panasonic. Namun, menurutnya, semangat inovasi tersebut perlu diperkuat secara lebih luas dan melibatkan seluruh unsur perusahaan, termasuk manajemen dan serikat pekerja.

Ia menilai perpaduan budaya disiplin kerja Jepang dengan nilai kekeluargaan khas Indonesia menjadi kekuatan tersendiri dalam membangun lingkungan kerja yang produktif dan harmonis.
“Ada budaya dan semangat untuk tumbuh bersama menuju tujuan bersama. Kombinasi disiplin ala Jepang dan kekeluargaan ala Indonesia ini sangat bagus dan melahirkan berbagai inovasi secara kultural,” ujar Yassierli.

Menaker berharap semangat adaptasi, pembelajaran berkelanjutan, dan inovasi dapat menjadi fondasi utama dalam menghadapi tantangan dunia kerja masa depan, sekaligus meningkatkan daya saing tenaga kerja Indonesia di tingkat global.

Ervinna

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *