Menbud Fadli Zon Kenang Kontribusi Syekh Yusuf Al-Makassari Bagi Peradaban Dunia, Dorong Diplomasi Budaya Indonesia

Berita105 Dilihat

DetikSR.id Jakarta, Menteri Kebudayaan Fadli Zon menegaskan bahwa warisan intelektual, spiritual, dan perjuangan Syekh Yusuf Al-Makassari (1626–1699) merupakan bukti penting kontribusi Nusantara terhadap perkembangan peradaban dunia.

Pemikiran dan perjuangan ulama besar asal Gowa, Sulawesi Selatan, tersebut tidak hanya membentuk sejarah Islam di Nusantara, tetapi juga meninggalkan pengaruh mendalam di Sri Lanka dan Afrika Selatan.

Penegasan itu disampaikan Fadli Zon dalam peringatan 400 tahun kelahiran Syekh Yusuf Al-Makassari yang digelar di Indonesia House Amsterdam (IHA), Amsterdam, Belanda, pada 9 Oktober 2026. Peringatan tersebut juga menjadi bagian dari komemorasi tokoh dan peristiwa bersejarah UNESCO untuk periode 2026–2027.

Menurut Fadli, peringatan empat abad kelahiran Syekh Yusuf tidak semata-mata menjadi momentum untuk mengenang tokoh sejarah, tetapi juga kesempatan untuk menegaskan kembali posisi Nusantara dalam jaringan intelektual, spiritual, dan kebudayaan dunia. Sosok Syekh Yusuf memperlihatkan bahwa masyarakat Nusantara sejak berabad-abad lalu telah menjadi bagian aktif dari pertukaran pengetahuan dan pembentukan peradaban lintas bangsa.

“Perjalanan Syekh Yusuf dari Gowa menuju berbagai pusat keilmuan di dunia Islam, hingga pengasingannya akibat perlawanan terhadap VOC, mencerminkan bagaimana gagasan dan nilai-nilai kemanusiaan dapat melampaui batas wilayah, kekuasaan, dan zaman,” kata Fadli Zon dalam keterangan tertulis, pada (10/10/2026).

Ia menilai, perjalanan hidup Syekh Yusuf menunjukkan bahwa ilmu pengetahuan dan kebudayaan telah menjadi jembatan penghubung antarmasyarakat jauh sebelum hubungan diplomatik modern terbentuk. Warisan tersebut, kata dia, tetap relevan untuk memperkuat dialog antarbangsa di tengah dinamika dunia saat ini.

“Warisan Syekh Yusuf terus menghubungkan masyarakat dari berbagai bangsa dan generasi,” ujarnya.

Ulama, Pemikir Sufi, Sekaligus Pejuang Antikolonial

Syekh Yusuf Al-Makassari lahir di Gowa, Sulawesi Selatan, pada 1626. Ia dikenal sebagai ulama besar, pemikir sufi, dan tokoh yang memiliki pengaruh luas dalam perkembangan tradisi keilmuan Islam. Perjalanan intelektualnya membawanya ke berbagai pusat pembelajaran di Nusantara, India, dan Timur Tengah, sehingga membentuk cakrawala pemikiran yang melampaui batas geografis dan politik.

Selain menekuni ilmu agama dan spiritualitas, Syekh Yusuf juga terlibat dalam perjuangan melawan ekspansi Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC), kongsi dagang Belanda yang memiliki kekuatan politik dan militer di Nusantara. Di Banten, ia bergabung dengan perlawanan Sultan Ageng Tirtayasa terhadap dominasi VOC.

Keterlibatannya dalam perjuangan tersebut menjadikan Syekh Yusuf bukan hanya figur penting dalam sejarah keislaman, melainkan juga bagian dari sejarah perlawanan terhadap kolonialisme di Indonesia.

Setelah ditangkap pada 1683, Syekh Yusuf diasingkan ke Ceylon kini Sri Lanka pada 1684. Pemerintah kolonial Belanda kemudian memindahkannya ke Tanjung Harapan, Afrika Selatan, pada 1693.

Namun, pengasingan tidak memutus pengaruhnya. Di tengah keterbatasan akibat pembuangan politik, Syekh Yusuf tetap menjalankan aktivitas keagamaan, mengajarkan nilai-nilai spiritual, dan membangun pengaruh di tengah masyarakat setempat.

“Di Afrika Selatan, ia terus mengajar dan berperan penting dalam membentuk komunitas Muslim awal yang terorganisasi, bahkan dikenal luas sebagai ‘Bapak Islam di Afrika Selatan’ (Father of Islam in South Africa),” kata Fadli.

Jejak pengaruh Syekh Yusuf, lanjutnya, masih dapat ditemukan hingga kini, antara lain melalui situs keramat yang dikaitkan dengan dirinya dan kawasan Macassar di dekat Cape Town. Nama kawasan tersebut merujuk pada daerah asal Syekh Yusuf di Nusantara dan menjadi salah satu penanda historis hubungan panjang antara Indonesia dan Afrika Selatan.

“Perjalanan Syekh Yusuf juga merupakan kisah perlawanan, pengasingan, dan keteguhan dalam memperjuangkan kemerdekaan. Pengasingan tidak membungkam beliau. Sebaliknya, gagasan dan ajarannya terus hidup serta memberikan pengaruh bagi masyarakat lintas generasi,” ujarnya.

Diplomasi Budaya dan Penguatan Memori Sejarah

Peringatan 400 tahun Syekh Yusuf di Amsterdam memiliki arti strategis karena Belanda merupakan bagian penting dari sejarah kolonial yang turut membentuk perjalanan hidup sang ulama. Penyelenggaraan kegiatan tersebut menjadi ruang untuk membaca kembali sejarah secara lebih mendalam sekaligus membangun dialog kebudayaan yang bertumpu pada pengetahuan, keterbukaan, dan pemahaman bersama.

Fadli Zon menegaskan, diplomasi budaya tidak cukup hanya dilakukan melalui pengenalan seni dan tradisi, tetapi juga perlu menghadirkan tokoh, gagasan, dan pengalaman sejarah Indonesia yang memiliki relevansi universal.

Melalui pengenalan Syekh Yusuf kepada masyarakat internasional, Kementerian Kebudayaan berupaya memperluas pemahaman mengenai kontribusi intelektual dan spiritual Nusantara, sekaligus membuka ruang kolaborasi dalam pelestarian warisan budaya dan pengembangan ilmu pengetahuan.

Rangkaian kegiatan peringatan tersebut meliputi pameran, diskusi panel bersama para ahli, serta pemutaran film untuk publik di Belanda. Kegiatan ini dirancang untuk memperkenalkan perjalanan hidup Syekh Yusuf dari berbagai perspektif, mulai dari jaringan keilmuan Islam, pemikiran tasawuf, perjuangan antikolonial, hingga pengaruhnya terhadap pembentukan identitas dan memori kolektif masyarakat lintas negara.

Pameran bertajuk “Sacred Journey of Syekh Yusuf Al-Makassari” berlangsung pada 9–15 Oktober 2026 di Indonesia House Amsterdam. Pameran tersebut menjadi salah satu sarana untuk menghadirkan kembali warisan sejarah Syekh Yusuf kepada publik internasional.

Selain pameran, Kementerian Kebudayaan juga menyelenggarakan seminar internasional secara hibrida bertajuk “Syekh Yusuf Al-Makassari: Collective Memories of Knowledge, Freedom, and Humanity Across the Indian Ocean.”

Seminar tersebut menghadirkan sejumlah akademisi dan pakar, antara lain Prof. Martin van Bruinessen, Prof. Muhammed Haron, Prof. Oman Fathurahman, Dr. Mukhlis PaEni, dan Dr. Suryadi.

Pembahasan difokuskan pada jaringan intelektual Syekh Yusuf, pemikiran spiritualnya, perlawanan terhadap kolonialisme, serta pembentukan memori kolektif yang menghubungkan masyarakat di kawasan Samudra Hindia.

Forum ini juga menjadi ruang untuk mendiskusikan bagaimana warisan sejarah dapat dipelajari secara lintas disiplin dan lintas negara.

Dengan demikian, Syekh Yusuf tidak hanya ditempatkan sebagai tokoh masa lalu, tetapi juga sebagai sumber pembelajaran mengenai kebebasan, keteguhan prinsip, pertukaran pengetahuan, dan nilai-nilai kemanusiaan.

Rumah Budaya Indonesia dan Museum Syekh Yusuf di Afrika Selatan

Sebagai bagian dari upaya memperkuat pelestarian warisan Syekh Yusuf, Kementerian Kebudayaan tengah mengembangkan rencana pendirian Rumah Budaya Indonesia (RBI) dan Museum Syekh Yusuf di kawasan Macassar, Cape Town, Afrika Selatan.

Menurut Fadli Zon, rencana tersebut diharapkan menjadi langkah konkret untuk menjaga kesinambungan warisan sejarah sekaligus memperkuat hubungan kebudayaan Indonesia dengan masyarakat Afrika Selatan.

“RBI dan Museum Syekh Yusuf ini diharapkan dapat menjadi pusat pelestarian sejarah, pendidikan, penelitian, serta penguatan hubungan kebudayaan Indonesia dengan masyarakat Afrika Selatan, termasuk komunitas Cape Malay, yang menurut Menteri Kebudayaan Afrika Selatan Gayton McKenzie saat ini berjumlah sekitar 2,7 juta orang,” ujarnya.

Keberadaan pusat kebudayaan dan museum tersebut diharapkan dapat menyediakan ruang bagi penelitian, dokumentasi sejarah, pengembangan program pendidikan, serta pertukaran pengetahuan antara akademisi, lembaga kebudayaan, dan masyarakat kedua negara.

Rencana ini juga memiliki arti penting dalam memperkuat hubungan Indonesia dengan komunitas Cape Malay, yang memiliki keterkaitan historis dengan perjalanan panjang Islam dan diaspora dari berbagai wilayah Asia ke Afrika Selatan.

Meski demikian, pengembangan pusat kebudayaan tersebut membutuhkan dukungan riset sejarah yang kuat, pengelolaan koleksi yang profesional, serta kerja sama berkelanjutan dengan lembaga dan komunitas setempat agar warisan Syekh Yusuf dapat dipelihara secara bertanggung jawab dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

Pelestarian Warisan Sebagai Amanat Konstitusi

Fadli Zon turut menegaskan bahwa pemajuan kebudayaan Indonesia merupakan amanat Pasal 32 ayat (1) Undang-Undang Dasar 1945, yang menyatakan bahwa negara memajukan kebudayaan nasional Indonesia di tengah peradaban dunia dengan menjamin kebebasan masyarakat dalam memelihara dan mengembangkan nilai-nilai budayanya.

Dalam konteks tersebut, pelestarian warisan Syekh Yusuf perlu dilakukan melalui langkah-langkah yang terarah, mulai dari perlindungan manuskrip, penguatan dokumentasi sejarah, pengembangan penelitian, hingga perluasan kerja sama kebudayaan internasional.

Upaya tersebut penting untuk memastikan bahwa peninggalan intelektual dan spiritual para tokoh Nusantara tidak hanya tersimpan sebagai catatan masa lalu, tetapi juga dapat diakses, dikaji, dan diwariskan kepada generasi mendatang.

Peringatan empat abad Syekh Yusuf, menurut Fadli, menjadi pengingat bahwa sejarah Indonesia memiliki dimensi global yang perlu terus diungkap melalui penelitian dan diplomasi kebudayaan.

Perjalanan hidup Syekh Yusuf menunjukkan bahwa keterbatasan geografis dan tekanan politik tidak selalu mampu menghentikan penyebaran gagasan, pengetahuan, dan nilai-nilai kemanusiaan.

“Melalui peringatan ini, kita berharap semakin banyak ruang dialog yang terbuka, pemahaman sejarah bersama semakin mendalam, serta hubungan kebudayaan dan masyarakat Indonesia-Belanda semakin kuat. Semoga peringatan 400 tahun Syekh Yusuf Al-Makassari terus menginspirasi pengembangan ilmu pengetahuan, perjuangan kebebasan, dan nilai-nilai kemanusiaan lintas bangsa dan generasi,” pungkas Fadli Zon.

Peringatan ini sekaligus menegaskan bahwa warisan Syekh Yusuf bukan semata-mata milik satu wilayah atau bangsa.

Jejak intelektual, spiritual, dan perjuangannya merupakan bagian dari sejarah bersama masyarakat di kawasan Samudra Hindia sebuah warisan yang menghubungkan Nusantara dengan dunia dan menempatkan pengalaman sejarah Indonesia dalam percakapan global tentang pengetahuan, kebebasan, serta martabat manusia.

Ervinna

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *