Menjaga Bahtera Rumah Tangga di Tengah Luasnya Samudra Kehidupan

Berita90 Dilihat

Oleh : Dr. Muslich Taman, Humas SMAN I Rumpin, KCD Wil.1 Disdik Prov Jabar, Penulis Buku: Kado Keluarga Bahagia

DetikSR.id Bogor – Hidup ini seperti perjalanan panjang. Kita mungkin bertemu banyak manusia di sepanjang jalan, tetapi hanya sedikit yang bersedia berjalan bersama kita ketika langkah mulai berat. Mereka itulah keluarga—orang-orang yang tidak hanya hadir ketika kita berhasil, tetapi tetap menggenggam tangan kita ketika kita jatuh.

Berumah tangga bukan sekadar hidup bersama. Ia adalah perjalanan panjang mengarungi samudera kehidupan.

Ada hari ketika laut begitu tenang. Langit cerah, angin bersahabat, dan bahtera melaju dengan mudah. Tetapi ada pula saat ketika awan mendadak gelap, ombak meninggi, badai menghantam, dan arah perjalanan seolah kehilangan kepastian.

Begitulah rumah tangga.

Tidak setiap hari dipenuhi tawa. Ada hari-hari ketika suami pulang membawa tubuh yang lelah. Ada saat istri merasa penat dengan pekerjaan rumah, anak-anak, dan berbagai urusan yang tak pernah selesai. Ada persoalan ekonomi, perbedaan cara berpikir, campur tangan keluarga, kebutuhan anak, hingga persoalan kecil yang jika tidak dibicarakan dengan baik dapat menjelma menjadi persoalan besar.

Di situlah kualitas sebuah pernikahan sesungguhnya diuji.

Sebab tugas suami dan istri bukan sedikit. Ada nafkah yang harus diperjuangkan, anak-anak yang harus dididik, rumah yang harus dirawat, orang tua yang harus dihormati, kebutuhan keluarga yang harus dipenuhi, dan yang tidak kalah penting: hati pasangan yang harus terus dijaga.

Semua itu tidak mungkin selalu dipikul seorang diri.

Suami dan istri memang memiliki peran dan kewajiban masing-masing. Namun, perbedaan peran bukan alasan untuk saling melepaskan. Justru karena itulah keduanya dipertemukan: agar dapat saling melengkapi, saling membantu, dan saling menguatkan.

Ironisnya, banyak bahtera rumah tangga justru retak bukan karena badai besar, melainkan karena kebocoran-kebocoran kecil yang dibiarkan terlalu lama.

Percakapan yang semakin jarang. Perhatian yang semakin hilang. Pesan yang tak lagi penting untuk dibalas. Keluhan yang dianggap berlebihan. Pasangan yang sedang lelah tetapi tidak ditanya. Suami yang membutuhkan dukungan tetapi hanya menemukan tuntutan. Istri yang membutuhkan pelukan tetapi justru mendapatkan kritikan.

Hal-hal yang tampak sepele itu, jika terus berulang, perlahan menciptakan jarak dan menjadi badai.

Yang dahulu terasa dekat menjadi asing. Yang dahulu menjadi tempat bercerita berubah menjadi tempat menyimpan kecewa. Dan yang paling menyedihkan, dua orang yang tinggal di bawah atap yang sama, bisa menjalani kehidupan seperti dua kapal yang berlayar tanpa lagi saling melihat.

Karena itu, jangan menunggu rumah tangga berada di ambang karam untuk mulai saling menjaga.

Bicaralah sebelum diam berubah menjadi jarak. Dengarkan sebelum keluhan berubah menjadi luka. Minta maaf sebelum ego menjadi tembok. Berikan perhatian sebelum pasangan merasa tidak lagi dibutuhkan.

Sesekali, letakkan HP dan laptop. Duduklah berdua. Tatap mata pasangan dan tanyakan dengan tulus, “Bagaimana harimu?” atau “Apa yang sedang kamu rasakan?”

Sebab terkadang pasangan tidak membutuhkan solusi yang rumit. Ia hanya ingin didengar. Tidak selalu membutuhkan hadiah mahal. Ia hanya ingin merasa dihargai. Tidak selalu membutuhkan perjalanan jauh. Ia hanya ingin ditemani melewati hari-hari yang melelahkan.

Dalam Islam, pernikahan bukan sekadar ikatan dua manusia, tetapi amanah yang mengandung ketenteraman, kasih sayang, dan rahmat. Maka menjaga pasangan dalam suka dan duka adalah bagian dari menjaga amanah itu.

Bahtera rumah tangga tidak harus selalu berlayar dalam laut yang tenang. Yang terpenting adalah suami dan istri tidak berhenti memegang kemudi bersama.

Ketika badai datang, jangan saling menyalahkan. Perkuat tali. Ketika ombak meninggi, jangan saling meninggalkan. Ketika arah terasa kabur, berhentilah sejenak, bermusyawarah, lalu tentukan kembali tujuan.

Dan ketika salah satu mulai lelah, jangan berkata, “Itu tugasmu.”

Katakanlah, “Mari kita hadapi bersama.”

Sebab pada akhirnya, pernikahan bukan tentang siapa yang paling banyak berkorban. Bukan pula tentang siapa yang paling benar. Pernikahan adalah tentang dua manusia yang setiap hari belajar menjadi lebih dewasa dalam mencintai.

Tidak ada suami yang sempurna. Tidak ada istri yang tanpa kekurangan. Tetapi rumah tangga yang kuat bukan dibangun oleh dua manusia sempurna. Ia dibangun oleh dua manusia yang mau saling memahami, saling memaafkan, saling memperbaiki, dan tidak mudah menyerah satu sama lain.

Jika hari ini bahtera rumah tangga sedang berada di laut yang tenang, bersyukurlah dan nikmati kebersamaan.

Jika sedang dihantam badai, jangan buru-buru meninggalkan bahtera.

Perbaiki layarnya. Kuatkan kemudinya. Rapatkan genggaman. Berdoalah.

Sebab boleh jadi, badai itu bukan datang untuk menenggelamkan bahtera, melainkan untuk mengajarkan dua orang yang ada di dalamnya, bagaimana cara berlayar lebih kuat.

Dan kelak, ketika rambut mulai memutih, langkah tak lagi sekuat dahulu, anak-anak telah memiliki kehidupan mereka sendiri, barangkali yang tersisa hanyalah dua orang tua yang duduk berdampingan, saling memandang, di rumah yang sunyi, lalu tersenyum atau haru, mengenang perjalanan panjang yang pernah mereka lalui.

Saat itu mereka akan memahami satu hal: ternyata yang paling indah dari sebuah pernikahan bukanlah karena perjalanan itu selalu tenang, melainkan karena di tengah luasnya samudera kehidupan, mereka tetap memilih untuk saling menjaga—hingga bahtera itu akhirnya sampai dengan selamat di pelabuhan tujuan.

Dan semoga pelabuhan terakhir itu adalah tempat di mana cinta yang dijaga di dunia menjadi jalan menuju ridha Allah Ta’ala dan pertemuan kembali dalam kehidupan yang abadi.

Tujuan pernikahan bukan sekadar bertahan sampai tua.

Lebih dari itu, saling menemani dalam ketaatan, saling menguatkan dalam kebaikan, dan akhirnya berlabuh bersama di tempat terbaik yang Allah janjikan. Jannah-Nya. Amin.(Rhidayat-Mt).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *