DetikSR.id Beijing, Pemerintah Indonesia melalui Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mendorong penguatan kerja sama strategis dengan China di bidang kesehatan, khususnya dalam upaya pencegahan tuberkulosis (TB), pengembangan bioteknologi, hingga pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) dan teknologi digital.
Ajakan tersebut disampaikan Menkes Budi dalam pertemuan bilateral dengan Menteri Komisi Kesehatan Nasional China Lei Haichao di Beijing pada (27/3/2026).
Pertemuan ini menjadi bagian penting dari rangkaian kunjungan kerja Menkes ke China dalam rangka memperluas kemitraan kesehatan kedua negara.
Dalam keterangannya, Menkes Budi menegaskan bahwa Indonesia dan China memiliki kesamaan visi dalam meningkatkan kualitas layanan kesehatan dan memperkuat upaya pencegahan penyakit.
“China dan Indonesia memiliki banyak kesamaan prioritas di bidang kesehatan, khususnya dalam transformasi kualitas layanan kesehatan serta promosi pencegahan penyakit. Dalam mencapai tujuan tersebut, Indonesia dan China dapat saling belajar, sekaligus memajukan kerja sama yang saling menguntungkan,” ujar Budi.
Salah satu poin utama kerja sama yang dibahas adalah pengendalian tuberkulosis, penyakit menular yang masih menjadi tantangan besar di Indonesia.
Menkes Budi menilai pengalaman China dalam menurunkan prevalensi TB dari tingkat sedang ke rendah dapat menjadi pembelajaran penting bagi Indonesia.
“Indonesia dapat banyak belajar dari keberhasilan China dalam menurunkan status prevalensi TB,” tambahnya.
Kolaborasi ini diharapkan mencakup pertukaran pengetahuan, peningkatan kapasitas tenaga kesehatan, hingga penguatan sistem deteksi dini dan pengobatan TB.
Selain TB, Menkes juga menyoroti pentingnya transformasi digital dalam sistem kesehatan Indonesia.
Ia menyampaikan keinginan agar Indonesia dapat memanfaatkan keunggulan China dalam bidang teknologi, khususnya kecerdasan buatan dan sistem digital.
Beberapa bidang yang menjadi perhatian antara lain pengelolaan data klinis pasien, pemanfaatan AI dalam diagnosis penyakit, serta teknologi mutakhir seperti brain-to-computer interface (BCI) untuk penanganan stroke dan gangguan neurologis lainnya.
Dalam kesempatan terpisah saat menjadi pembicara kunci di forum internasional di Tsinghua University dan Chinese Academy of Engineering, Menkes menekankan pentingnya adaptasi teknologi oleh tenaga medis.
“AI tidak akan menggantikan dokter, tetapi dokter yang tidak memanfaatkan AI akan tertinggal,” tegasnya dalam forum The 2026 Zhongguancun Forum – World Digital Health Forum.
Kerja sama Indonesia–China juga mencakup pengembangan sumber daya manusia di sektor kesehatan.
Menkes Budi mengapresiasi dukungan pemerintah China dalam penyelenggaraan program fellowship bagi dokter Indonesia.
Dalam satu tahun terakhir, tercatat sebanyak 113 dokter spesialis Indonesia telah mengikuti program pelatihan di berbagai rumah sakit di China.
Program ini dinilai efektif dalam meningkatkan kompetensi tenaga medis Indonesia, terutama dalam penguasaan teknologi medis modern.
Selain itu, kedua menteri juga bertukar pandangan mengenai tantangan global dalam peningkatan layanan kesehatan masyarakat serta transformasi tenaga kesehatan di era digital.
Dalam kunjungan tersebut, Menkes turut didampingi Duta Besar RI untuk China dan Mongolia Djauhari Oratmangun serta Wakil Duta Besar RI di Beijing Irene.
Delegasi Indonesia juga mengadakan pertemuan dengan sejumlah pelaku industri di bidang alat kesehatan, farmasi, kecerdasan buatan, dan robotik.
Salah satu hasil konkret dari pertemuan tersebut adalah penandatanganan kesepakatan lanjutan antara perusahaan farmasi Indonesia Bio Farma dengan Sinovac terkait pengembangan dan produksi vaksin.
Kerja sama ini diharapkan dapat memperkuat kemandirian Indonesia dalam penyediaan vaksin serta meningkatkan kapasitas produksi nasional.
Sebagai langkah lanjutan, Menkes Budi juga mengundang Menteri Lei untuk menghadiri pertemuan joint committee meeting antara kementerian kesehatan Indonesia dan China yang rencananya akan digelar di Indonesia.
Pertemuan ini diharapkan dapat memperkuat koordinasi serta memastikan implementasi kerja sama berjalan lebih efektif dalam menghadapi tantangan kesehatan global yang semakin kompleks.
Hubungan kerja sama kesehatan antara Indonesia dan China sejatinya telah terjalin dalam beberapa tahun terakhir. Pada 25 Mei 2025, saat pertemuan Presiden Prabowo Subianto dengan Perdana Menteri China Li Qiang di Jakarta, kedua negara menandatangani sejumlah kesepakatan penting.
Kesepakatan tersebut mencakup pengembangan pengobatan tradisional Tiongkok serta kerja sama dalam penanggulangan tuberkulosis. Selain itu, kolaborasi juga dilakukan melalui kemitraan antar rumah sakit dan pertukaran tenaga kesehatan.
Dengan semakin eratnya kerja sama ini, Indonesia optimistis dapat mempercepat transformasi sistem kesehatan nasional, sekaligus meningkatkan kualitas layanan bagi masyarakat.
Kolaborasi dengan China diharapkan tidak hanya memberikan manfaat dalam jangka pendek, tetapi juga menjadi fondasi kuat bagi inovasi dan ketahanan sistem kesehatan di masa depan.
Ervinna






