Menko Pangan Dorong Teknologi Pirolisis Lengkapi PSEL Untuk Percepat Penanganan Sampah Nasional

Berita62 Dilihat

DetikSR.id Jakarta, Menteri Koordinator (Menko) Bidang Pangan Zulkifli Hasan mendorong pemanfaatan teknologi pirolisis sebagai salah satu solusi untuk melengkapi Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) dalam mempercepat penanganan persoalan sampah nasional.

Menurut Zulkifli Hasan atau yang akrab disapa Zulhas, kapasitas fasilitas PSEL yang saat ini tengah dikembangkan belum mampu mengolah seluruh timbulan sampah di Indonesia. Karena itu, pemerintah perlu mendorong penggunaan berbagai teknologi pengolahan sampah yang dapat saling melengkapi dan menghasilkan nilai tambah, termasuk mengubah sampah menjadi sumber energi.

“Persoalan sampah tidak bisa lagi ditangani dengan cara biasa. Kita membutuhkan percepatan melalui intervensi teknologi. Karena itu, selain pembangunan PSEL, pemerintah juga mendorong pemanfaatan teknologi pirolisis agar semakin banyak sampah yang dapat diolah menjadi energi,” kata Zulhas dalam keterangan resmi yang diterima di Jakarta, pada (9/8/2026).

Ia menjelaskan, implementasi Peraturan Presiden Nomor 109 Tahun 2025 telah mendorong percepatan pembangunan fasilitas PSEL di sejumlah daerah. Pemerintah menargetkan pembangunan PSEL di 13 lokasi sebagai bagian dari upaya memperkuat sistem pengelolaan sampah sekaligus mengurangi beban tempat pemrosesan akhir (TPA).

Salah satu fasilitas yang menjadi bagian dari pengembangan tersebut berada di Kota Palembang dan ditargetkan mulai beroperasi pada Oktober 2026.

Meski demikian, Zulhas mengungkapkan bahwa seluruh fasilitas PSEL tersebut diperkirakan baru mampu menangani sekitar 22 persen dari total timbulan sampah nasional. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pembangunan PSEL perlu diiringi dengan teknologi pengolahan lainnya agar cakupan penanganan sampah dapat diperluas.

Salah satu teknologi yang kini didorong pemerintah adalah pirolisis. Teknologi tersebut merupakan proses pengolahan material melalui pemanasan pada kondisi minim atau tanpa oksigen dan dapat dimanfaatkan untuk mengolah sampah tertentu, termasuk sampah yang telah menumpuk di TPA.

Melalui teknologi tersebut, sampah dapat dikonversi menjadi produk yang memiliki nilai guna dan berpotensi dimanfaatkan sebagai bahan bakar terbarukan yang setara dengan solar.

Pemerintah memperkirakan penerapan teknologi pirolisis secara lebih luas berpotensi membantu menangani sekitar 20 persen persoalan sampah nasional.

Dengan demikian, kombinasi PSEL dan pirolisis diharapkan dapat memperluas kapasitas pengolahan sampah sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap metode penimbunan di TPA.

Zulhas mengatakan pengembangan teknologi pirolisis juga dilakukan melalui kolaborasi antara pemerintah, TNI Angkatan Darat, dan pemerintah daerah.

Kolaborasi tersebut diwujudkan melalui pengembangan proyek percontohan di lima wilayah.
Kelima wilayah tersebut meliputi Kota Bogor, Kabupaten Bogor, Kota Semarang, Kota Bekasi, dan DKI Jakarta.

Menurut Zulhas, pengembangan proyek percontohan tersebut diharapkan menjadi bagian dari langkah konkret untuk menguji sekaligus memperluas penerapan teknologi pengolahan sampah menjadi energi di berbagai daerah.

Kolaborasi itu juga diarahkan untuk mendukung percepatan Proyek Strategis Nasional (PSN) PSEL Bogor Raya 1, sekaligus memperkuat ekosistem pengelolaan sampah yang terintegrasi dari tingkat daerah hingga nasional.

Zulhas menegaskan keberhasilan pembangunan dan pengoperasian fasilitas pengolahan sampah sangat bergantung pada dukungan pemerintah daerah.

Dukungan tersebut antara lain berupa penyediaan lahan, percepatan proses perizinan, serta kepastian pasokan sampah bagi fasilitas pengolahan.

Kepastian pasokan menjadi faktor penting karena fasilitas pengolahan sampah membutuhkan ketersediaan bahan baku secara berkelanjutan agar dapat beroperasi secara optimal dan ekonomis.

Selain menghasilkan energi dan produk turunan bernilai ekonomi, pengembangan teknologi pengolahan sampah juga diharapkan dapat mengurangi volume sampah yang berakhir di TPA.

Percepatan tersebut dinilai semakin penting mengingat penumpukan sampah di sejumlah TPA dapat menimbulkan berbagai persoalan lingkungan dan sosial. Pada musim kemarau, timbunan sampah juga berpotensi meningkatkan risiko terjadinya kebakaran di kawasan TPA.

Karena itu, pemerintah mendorong agar pengelolaan sampah tidak hanya berorientasi pada pembuangan akhir, tetapi bergeser menuju pendekatan pengolahan dan pemanfaatan kembali sehingga sampah dapat menjadi sumber energi dan memiliki nilai ekonomi.

“Kita ingin persoalan sampah tidak hanya selesai, tetapi juga mampu menghasilkan manfaat ekonomi dan energi bagi masyarakat. Dengan gotong royong dan kerja cepat, target itu dapat kita capai,” ujar Zulhas.

Pemerintah berharap sinergi antara pembangunan PSEL, pemanfaatan teknologi pirolisis, serta dukungan pemerintah daerah dapat mempercepat transformasi pengelolaan sampah nasional. Langkah tersebut sekaligus diharapkan mampu mengurangi beban TPA, meningkatkan pemanfaatan sampah sebagai sumber energi, dan menciptakan manfaat ekonomi bagi masyarakat.

Ervinna

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *