Menko Polkam Djamari Chaniago: Indonesia Dorong China Perkuat Sentralitas ASEAN dan Stabilitas Asia Tenggara

Berita133 Dilihat

DetikSR.id Jakarta, Indonesia berharap China terus memainkan peran konstruktif dalam menjaga stabilitas dan perdamaian di Asia Tenggara, sekaligus mendukung terwujudnya Sentralitas ASEAN sebagai prinsip penting dalam arsitektur kawasan.

Harapan tersebut disampaikan Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan (Menko Polkam) Djamari Chaniago dalam sambutannya pada perayaan Hari Nasional ke-77 Republik Rakyat China (RRT) di Jakarta, pada (22/9/2026).

“Indonesia akan terus memperkuat Sentralitas ASEAN dan mendorong arsitektur kawasan yang terbuka, inklusif, transparan, dan berorientasi pada kerja sama,” kata Djamari.

Menurut dia, dalam kerangka tersebut, Indonesia berharap kemitraan dengan China dapat terus memberikan kontribusi positif bagi terbentuknya kawasan Asia Tenggara yang damai, stabil, inklusif, dan sejahtera.

“Dalam konteks tersebut, Indonesia berharap bahwa kemitraan dengan China dapat terus memberikan kontribusi positif bagi terciptanya kawasan yang damai, stabil, inklusif, dan sejahtera,” ujarnya.

Djamari
menegaskan, Indonesia memandang hubungan bilateral dengan China memiliki arti strategis dalam mendukung perdamaian dan stabilitas kawasan. Namun, stabilitas tersebut, menurut dia, tidak dapat dibangun melalui pendekatan yang eksklusif.

Sebaliknya, stabilitas kawasan perlu ditopang dialog yang berkelanjutan, rasa saling percaya, penghormatan terhadap hukum internasional, serta kemampuan seluruh negara untuk mengelola perbedaan secara damai.

“Kepercayaan antara Indonesia dan China dibangun melalui konsistensi, transparansi, komunikasi, dan kerja sama nyata,” kata Djamari.

Djamari menilai hubungan Indonesia-China saat ini memiliki dimensi yang semakin luas. Kemitraan kedua negara tidak hanya bertumpu pada perdagangan dan investasi, tetapi juga berkembang ke sektor politik dan keamanan, konektivitas maritim, hubungan antarmasyarakat, serta koordinasi dalam menghadapi berbagai tantangan global.

Perluasan kerja sama tersebut dinilai sejalan dengan semakin kompleksnya dinamika kawasan dan dunia yang membutuhkan komunikasi strategis antarpemerintah.

Dalam konteks hubungan bilateral, Djamari juga menyambut pelaksanaan Dialog Strategis Komprehensif (Comprehensive Strategic Dialogue/CSD) Indonesia-China pada 21 Agustus 2026 di Jakarta.

Forum tersebut merupakan mekanisme bilateral baru di tingkat menteri luar negeri yang dibentuk setelah kunjungan Menteri Luar Negeri RI Sugiono ke Beijing pada April 2025. CSD dirancang untuk mengidentifikasi capaian kerja sama sekaligus menetapkan prioritas strategis hubungan kedua negara ke depan.

Pada hari yang sama, Indonesia dan China juga menggelar pertemuan tingkat menteri melalui mekanisme dialog “2+2” yang mempertemukan menteri luar negeri dan menteri pertahanan kedua negara.

Pertemuan 2+2 tersebut membahas penguatan kerja sama politik, pertahanan, dan keamanan, baik dalam konteks bilateral maupun perkembangan di tingkat regional dan global.

Bagi Djamari, pelaksanaan dua forum strategis tersebut menunjukkan pentingnya menjaga saluran komunikasi di tengah dinamika geopolitik yang terus berubah.

Dialog strategis, kata dia, juga diperlukan untuk membangun rasa saling percaya sehingga perbedaan kepentingan dapat dikelola melalui komunikasi dan kerja sama, bukan berkembang menjadi sumber ketegangan.

Sementara itu, Kuasa Usaha China untuk Indonesia Zhou Kan menegaskan komitmen Beijing untuk terus bekerja sama dengan Jakarta dalam menjalankan berbagai kesepakatan yang telah dicapai kedua negara.

Zhou menyebut pelaksanaan CSD perdana Indonesia-China dan pertemuan tingkat menteri dalam format 2+2 sebagai capaian penting dalam perkembangan hubungan bilateral kedua negara.

“Mekanisme Dialog Strategis Komprehensif China-Indonesia telah diluncurkan di Jakarta bulan lalu, dengan pertemuan tingkat menteri dalam format ‘2+2’ antara Indonesia dan China sukses dilaksanakan di waktu yang sama,” kata Zhou.

Menurut Zhou, China dan Indonesia merupakan negara tetangga sekaligus mitra yang memiliki kepentingan bersama untuk menjaga hubungan yang stabil dan terus berkembang.
Ia menegaskan Beijing siap memperluas kerja sama konkret dengan Jakarta di berbagai bidang.

“Kami juga siap memajukan Kemitraan Strategis Komprehensif China-Indonesia ke taraf yang lebih tinggi lagi serta bekerja sama mewujudkan komunitas China-Indonesia dengan masa depan bersama,” ujarnya.

Komitmen tersebut sejalan dengan hasil pertemuan tingkat tinggi kedua negara pada Agustus lalu. Dalam pertemuan dengan Presiden Prabowo Subianto pada 21 Agustus, Menteri Luar Negeri China Wang Yi juga menyampaikan kesiapan Beijing untuk mengimplementasikan berbagai kesepakatan penting serta memperluas kerja sama di bidang politik, ekonomi, energi dan mineral, militer, serta keamanan.

Sentralitas ASEAN dan hubungan Indonesia-China
Bagi Indonesia, penguatan hubungan dengan China berjalan beriringan dengan upaya mempertahankan ASEAN sebagai pusat arsitektur kawasan.

Posisi tersebut menempatkan dialog dan kerja sama sebagai instrumen utama dalam menjaga stabilitas Asia Tenggara, sekaligus membuka ruang bagi negara-negara di kawasan untuk mengelola perbedaan kepentingan secara konstruktif.

Dengan hubungan Indonesia-China yang semakin multidimensional, Jakarta berharap kemitraan kedua negara tidak hanya menghasilkan manfaat bilateral, tetapi juga memberikan kontribusi yang lebih luas terhadap perdamaian, stabilitas, keterbukaan, dan kesejahteraan kawasan Asia Tenggara.

Indonesia dan China kini memiliki sejumlah kanal komunikasi strategis, termasuk CSD serta mekanisme 2+2, yang dapat menjadi ruang untuk membahas isu bilateral sekaligus persoalan regional dan global.

Bagi Jakarta, keberlanjutan komunikasi tersebut menjadi salah satu elemen penting dalam membangun kepercayaan dan mencegah perbedaan kepentingan berkembang menjadi ketegangan terbuka.

Ervinna

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *