Menlu RI-Filipina Perkuat Kemitraan Strategis, Bahas Energi, Pertahanan Hingga Status Warga Keturunan

Berita43 Dilihat

DetikSR.id Jakarta, Pemerintah Republik Indonesia (RI) dan Filipina menegaskan komitmen untuk memperkuat hubungan bilateral melalui kerja sama di berbagai sektor strategis dalam pertemuan ke-8 Joint Commission for Bilateral Cooperation (JCBC) yang berlangsung di Kementerian Luar Negeri RI, Jakarta, pada (23/4/2026).

Pertemuan tersebut dipimpin langsung oleh Menteri Luar Negeri RI Sugiono bersama Menteri Luar Negeri Filipina Theresa Lazaro. Agenda utama membahas penguatan kemitraan di bidang ekonomi, energi, pertahanan, keamanan maritim, hingga isu konsuler terkait warga keturunan kedua negara.

Menlu Sugiono mengatakan, pertemuan JCBC ke-8 mencerminkan eratnya hubungan Indonesia dan Filipina sebagai negara bertetangga dekat, sesama negara kepulauan, serta anggota pendiri ASEAN.
“Pertemuan kita hari ini mencerminkan kemitraan yang kuat antara Indonesia dan Filipina. Diskusi kita berfokus pada satu tujuan utama, yaitu memastikan bahwa kerja sama bilateral memberikan manfaat nyata bagi seluruh masyarakat,” ujar Sugiono dalam konferensi pers bersama.

Ia juga menegaskan dukungan penuh Indonesia terhadap keketuaan Filipina di ASEAN tahun ini. Menurutnya, kedua negara memiliki tanggung jawab bersama menjaga persatuan dan sentralitas ASEAN di tengah situasi global yang semakin dinamis dan kompleks.

Dalam sektor ekonomi, Indonesia dan Filipina sepakat memperkuat kerja sama perdagangan dan investasi melalui penggunaan mata uang lokal dalam transaksi bilateral, penguatan sistem pembayaran digital berbasis QR, serta peningkatan konektivitas kawasan perbatasan.

Wilayah yang menjadi fokus pengembangan konektivitas meliputi Manado, Bitung, Davao, dan General Santos guna mendorong arus barang, jasa, dan mobilitas masyarakat lintas negara.

Di bidang energi, kedua negara menyoroti pentingnya kolaborasi sebagai dua produsen nikel terbesar dunia. Indonesia dan Filipina membuka peluang kerja sama dalam pengembangan mineral kritis, termasuk melalui kemitraan Nickel Alliance guna memperkuat rantai pasok global.

Pada sektor politik dan keamanan, kedua negara sepakat meningkatkan kerja sama maritim, pengelolaan wilayah perbatasan, serta mempercepat pembahasan delimitasi landas kontinen berdasarkan hukum internasional, termasuk prinsip-prinsip dalam UNCLOS 1982.

Sugiono menambahkan, Indonesia dan Filipina juga berkomitmen memperkuat kolaborasi industri pertahanan.
“Kita juga sepakat memperkuat kolaborasi industri pertahanan, termasuk melalui pengadaan alutsista buatan Indonesia,” katanya.

Isu konsuler turut menjadi perhatian dalam pertemuan tersebut, terutama terkait penyelesaian status warga keturunan Indonesia dan Filipina yang berada di masing-masing negara.

Menlu Filipina Theresa Lazaro secara khusus menyoroti upaya pendataan warga keturunan Filipina di Sulawesi Utara. Program tersebut diharapkan dapat mempermudah penerbitan dokumen resmi sekaligus memperluas akses terhadap layanan sosial.
“Kita membahas upaya pendaftaran orang keturunan Filipina agar mereka dapat memperoleh dokumen resmi dan akses layanan sosial secara cepat dan menyeluruh,” ujar Lazaro.

Ia juga mengapresiasi keberhasilan program serupa yang dijalankan Filipina terhadap warga keturunan Indonesia, yang telah memberikan kepastian kewarganegaraan bagi ribuan orang.

Selain agenda bilateral, kedua menlu juga bertukar pandangan mengenai berbagai isu regional dan global, mulai dari Laut China Selatan, perkembangan situasi Myanmar, hingga dinamika geopolitik di Timur Tengah.

Sugiono menegaskan pentingnya menjaga perdamaian di Laut China Selatan dan mendorong proses politik inklusif di Myanmar.

Terkait Timur Tengah, ia menyebut gencatan senjata yang sedang berlangsung merupakan langkah penting untuk mencegah eskalasi konflik yang lebih luas.
“Stabilitas kawasan Teluk sangat krusial bagi ketahanan energi dan ekonomi kedua negara,” ujarnya.

Ia kembali menegaskan dukungan Indonesia terhadap solusi dua negara sebagai jalan menuju perdamaian berkelanjutan di Palestina.

Theresa Lazaro menyampaikan apresiasi atas sambutan hangat Pemerintah Indonesia dalam penyelenggaraan JCBC ke-8.

Menurutnya, hubungan bilateral kedua negara yang tahun ini memasuki usia ke-77 terus berkembang semakin erat.
“Indonesia bukan hanya tetangga dekat, tetapi juga mitra, sahabat, dan saudara,” kata Lazaro.

Ia menambahkan, Filipina berencana menjadi tuan rumah pertemuan JCBC berikutnya di Manila dan berharap kehadiran Presiden serta Menteri Luar Negeri RI dalam rangkaian KTT ASEAN mendatang.

Menutup pertemuan, kedua negara sepakat memperpanjang rencana aksi kerja sama guna menghadirkan hubungan bilateral yang semakin konkret, produktif, dan bermanfaat bagi masyarakat kedua negara.

Ervinna

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *