Menteri Agama Apresiasi Kontribusi Umat Buddha Pada Perayaan Waisak 2570 BE di Wihara Ekayana Arama, Angkat Nilai Perdamaian dan Harmoni

Berita154 Dilihat

DetikSR.id Jakarta, Suasana penuh kedamaian, kekhusyukan, dan semangat persaudaraan mewarnai perayaan Tri Suci Waisak 2570 Buddhist Era (BE) yang diselenggarakan di Wihara Ekayana Arama Indonesia Buddhist Centre, Duri Kepa, Jakarta pada (31/5/2026).

Sekitar 10.000 umat Buddha dari berbagai daerah hadir untuk mengikuti rangkaian ibadah dan kegiatan keagamaan bersama 28 bhikkhu dan bhikkhuni dari Sangha Agung Indonesia.
Perayaan yang menjadi salah satu momentum spiritual terpenting bagi umat Buddha tersebut berlangsung dengan tertib dan khidmat.

Sejak pagi hari, ribuan umat telah memadati area wihara untuk mengikuti berbagai rangkaian acara yang telah dipersiapkan.
Kegiatan diawali pada pukul 08.00 WIB dengan prosesi Pindapata, yaitu tradisi pemberian dana makanan kepada para bhikkhu sebagai bentuk penghormatan dan praktik kebajikan.

Prosesi ini berlangsung dengan penuh ketenangan dan menjadi simbol hubungan harmonis antara umat dan anggota Sangha.

Setelah prosesi Pindapata, umat mengikuti Puja Bhakti Waisak yang berlangsung hingga pukul 12.00 WIB. Dalam suasana yang penuh kekhusyukan, umat bersama-sama melantunkan paritta, melakukan penghormatan kepada Buddha, Dharma, dan Sangha, serta merenungkan nilai-nilai luhur ajaran Buddha yang relevan dalam kehidupan sehari-hari.

Perayaan Tri Suci Waisak merupakan peringatan atas tiga peristiwa agung dalam kehidupan Buddha Gautama yang diyakini terjadi pada tanggal yang sama menurut tradisi Buddhis, yakni kelahiran Pangeran Siddhartha Gautama di Taman Lumbini, pencapaian Pencerahan Sempurna oleh Petapa Gautama hingga menjadi Buddha di bawah Pohon Bodhi, serta Parinirwana atau wafatnya Buddha Gautama di Kusinara.

Sebagai bentuk penghayatan terhadap makna Waisak, Wihara Ekayana Arama tidak hanya menyelenggarakan kegiatan ritual keagamaan, tetapi juga berbagai kegiatan sosial dan pembinaan spiritual yang telah dilaksanakan dalam rangkaian peringatan Waisak.

Kegiatan tersebut meliputi kunjungan kasih kepada masyarakat yang membutuhkan, donor darah, pendalaman Dharma, pelatihan meditasi, upacara pencurahan air bunga pada Rupang Bayi Siddhartha sebagai simbol penyucian diri, hingga upacara wisudhi bagi umat yang memperdalam keyakinan dan praktik Buddhis.

Ketua panitia perayaan menyampaikan bahwa rangkaian kegiatan tersebut bertujuan menumbuhkan nilai-nilai kasih sayang, kepedulian sosial, kebijaksanaan, serta semangat melayani sesama yang menjadi bagian penting dari ajaran Buddha.

Melalui peringatan Waisak, umat diharapkan tidak hanya meningkatkan kualitas spiritual pribadi, tetapi juga memberikan manfaat nyata bagi masyarakat luas.
Peringatan Tri Suci Waisak 2570 BE tahun ini juga mendapat perhatian khusus dari pemerintah.

Menteri Agama Republik Indonesia, Nasaruddin Umar, hadir dan menyampaikan apresiasi kepada umat Buddha Indonesia atas kontribusinya dalam menjaga kehidupan berbangsa yang harmonis dan damai.

Dalam sambutannya, Menteri Agama menegaskan bahwa umat Buddha memiliki peran penting dalam memperkuat nilai toleransi, moderasi beragama, serta kerukunan antarumat beragama di Indonesia. Ia juga mengajak seluruh elemen bangsa untuk terus merawat persatuan dan menjadikan nilai-nilai spiritual sebagai landasan dalam membangun kehidupan masyarakat yang lebih damai dan sejahtera.

Menurutnya, semangat Waisak yang mengedepankan cinta kasih, kebijaksanaan, dan welas asih merupakan nilai universal yang dapat menjadi inspirasi bagi seluruh masyarakat Indonesia dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan sosial.

Perayaan Tri Suci Waisak 2570 BE di Wihara Ekayana Arama berlangsung lancar hingga akhir acara. Kehadiran ribuan umat yang berbaur dalam suasana penuh persaudaraan mencerminkan semangat kebersamaan serta komitmen umat Buddha untuk terus menebarkan nilai-nilai perdamaian, toleransi, dan cinta kasih dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

Momentum Waisak tahun ini menjadi pengingat bahwa kedamaian sejati tidak hanya diwujudkan melalui doa dan ritual keagamaan, tetapi juga melalui tindakan nyata yang membawa manfaat bagi sesama dan memperkuat harmoni di tengah keberagaman Indonesia.

Ervinna

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *