Menuju Kasampurnaning Hurip Melalui Sastrajendra Living Academy (SLA)

Budaya65 Dilihat

DetikSR.id Jakarta – Dalam upaya melestarikan dan menghidupkan kembali nilai-nilai spiritual Nusantara, Sastrajendra Living Academy (SLA) hadir sebagai wadah bagi insan-insan penggemar spiritual yang mencintai, mempelajari, dan menghayati warisan budaya serta kearifan leluhur Nusantara.

SLA diasuh oleh Romo Toni Junus Kanjeng Ngung sebagai Sesepuh SLA, dan Romo DR.
dr. Bambang Dwi Hayunanto sebagai Ketua SLA.

“Mengapa Sastrajendra?”

Sastrajendra Hayuningrat Pangruwating Diyu merupakan salah satu konsep spiritual atau ajaran yang dikenal dalam khazanah kebudayaan Jawa dan kisah pewayangan. Di dalamnya terkandung ajaran tentang upaya manusia mengenali, mengendalikan, dan meruwat sifat-sifat angkara dalam dirinya, sehingga dapat mencapai kehidupan yang lebih selaras, damai, dan bermakna.

“Secara filosofis, istilah tersebut dapat dimaknai:”

Sastra: ilmu, pengetahuan, tulisan, ilham atau pedoman.

Jendra: sesuatu yang luhur dan agung, yang dalam pemaknaan spiritual dikaitkan dengan sifat Ketuhanan.

Hayuningrat: keselamatan, kedamaian diri sendiri dan dunia, serta keharmonisan kehidupan di alam semesta.

Pangruwating Diyu: proses meruwat atau melebur sifat-sifat angkara, keserakahan, dan kejahatan dalam diri menuju sifat yang luhur.

Sastrajendra bukan sekadar pengetahuan atau simbol mistis, melainkan sebuah jalan penghayatan hidup (way of life).
Intinya adalah perjalanan manusia untuk mengenali dirinya, mengendalikan hawa nafsu dan mengubah potensi negatif dalam dirinya menjadi kesadaran dan kebajikan.

Dalam perspektif inilah SLA berusaha menjadikan nilai-nilai Sastrajendra sebagai jalan menuju Kasampurnaning Hurip—kesempurnaan dalam menjalani kehidupan: semakin mengenal diri, semakin selaras dengan sesama, alam semesta, dan Sang Sumber Kehidupan, serta hidup sukses secara keduniawiannya.

“Menghidupkan Nilai melalui Laku”

Nilai-nilai tersebut tidak berhenti pada pemahaman, tetapi diupayakan melalui laku dan pengalaman.
Karena itu, SLA menyelenggarakan berbagai kegiatan budaya dan spiritual, antara lain piwulangan, samadhi, meditasi, serta meditasi gerak Wirasajendra, dan berbagai kegiatan kebudayaan lainnya.

Bagi SLA, melestarikan budaya leluhur bukan semata-mata menjaga bentuk-bentuk tradisi, tetapi juga menghidupkan kembali nilai dan kearifan yang terkandung di dalamnya, agar tetap relevan bagi kehidupan manusia masa kini.

Sebab, mengenal warisan leluhur berarti mengenal kembali jati diri. Dan mengenal jati diri merupakan bagian dari perjalanan menuju manusia yang lebih sadar, berbudaya, dan memiliki tanggung jawab terhadap kehidupan.

Semoga melalui SLA, niat luhur untuk melestarikan dan mengembangkan budaya spiritual Nusantara dapat terus tumbuh, semakin dikenal, dan memberi manfaat bagi kehidupan bersama.(Ervinna)

Rahayu Sagung Dumadi

Sumber: Diana Meutia, S.Sos.
Humas SLA

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *