Meriahkan HUT ke-81 RI, Warga Malangjiwan Kidul Berkolaborasi dengan BBPPMPV Seni dan Budaya

Berita93 Dilihat

DetikSR.id BANTUL – Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia tak hanya dirayakan dengan upacara dan berbagai perlombaan. Di Malangjiwan Kidul, Bangunharjo, Sewon, Bantul, semangat kemerdekaan dihidupkan melalui panggung seni bertajuk “Tani Sari (Pentas Seni Sehari)”, Senin (10/8/2026).

Digelar di Lapangan Malangjiwan Kidul RT 06, Bakung, Bangunharjo, Sewon, Bantul, kegiatan ini merupakan kolaborasi Panitia Semarak HUT ke-81 Republik Indonesia Malangjiwan Kidul RT 06 bersama BBPPMPV Seni dan Budaya.

Pentas yang dimulai pukul 18.00 WIB hingga selesai tersebut terbuka untuk masyarakat secara gratis. Beragam pertunjukan seni disiapkan, mulai dari Swara Kursus Band, Tari Anak Caca Marica, Tari Anak Jaranan, Tari Anak Manuk Dadali, Tari Doa, Tari Tanjung Perak, Tari Tombak Prajurit, hingga Tari Simbagi Aruntala.

Namun, salah satu sajian yang menjadi perhatian adalah pertunjukan seni kolaborasi berjudul “Satra”.

Pertunjukan ini membawa penonton masuk ke dalam kisah percintaan yang tidak selalu berjalan sebagaimana harapan. Di balik warna-warni cinta yang tampak cerah, ceria, dan berbunga, terdapat persoalan ketika sebuah hubungan justru berawal dari keterpaksaan.

“Satra” mencoba mengangkat pergulatan rasa dan pilihan hati. Ketika cinta tidak lahir dari kebebasan, akankah hati mampu menemukan arti dan membuka ruang untuk menerima yang lain?

Konflik batin, rasa cinta, keterpaksaan, serta konsekuensi dari pilihan menjadi bagian dari cerita yang dibangun melalui bahasa tubuh, gerak, musik, dan ekspresi seni pertunjukan.

> “Cerita percintaan selalu saja penuh warna. Semua terlihat cerah, ceria, dan berbunga. Namun, apakah demikian adanya ketika cinta itu bermula dari paksa?”

 

Pertanyaan tersebut menjadi pintu masuk bagi penonton untuk menyelami pesan yang dibawa “Satra”. Sebab, cinta tidak dapat dipermainkan. Ketika rasa diterabas dan pilihan dipaksakan, konsekuensinya dapat menjadi petaka.

Disutradarai oleh Bpk.Eko Santoso , S Sn, M.Pd. Sedangkan Penata Iringan BP. Sito Mardowo S.Sn. M.Pd peran utama 1. Wirakrama ( Waket Prasudi Puger S.Pd.)
2. Surawipati ( Wijanarko Lasya S.Sn. M.sn)
3. Ayu Raga ( Valerie Febriana Putri Indra Kusumawati S.Kom.)

Menariknya, karya kolaborasi “Satra” turut dikomentari oleh akademisi dan praktisi seni. Dr. Iwan Dadiono,seorang tokoh seni tari sekaligus akademisi/dosen dari ISI jogjakarta, serta koreografer nasional asal Jogja Agung Yulianto.

Sangat mengapresiasi pementasan yang dilakukan di wilayah perkampungan dan bukan di gedung pertunjukan inklusif yang mengisyaratkan lembaga ini hadir / pemerintahan hadir untuk masyarakat kelas bawah,dan pertunjukan ini memberikan dimensi tersendiri. Seni tidak hanya diposisikan sebagai hiburan, tetapi juga sebagai medium untuk menyampaikan gagasan, merefleksikan persoalan kehidupan, dan membangun ruang dialog dengan masyarakat. Yang di ungkap mas Agung Cendik. Red. Ini terobosan yang baik dan menjadi trend tersendiri di era digitalisasi media karena jejak digital akan selalu melekat dalam proses kreatif yang membumi

Kolaborasi tersebut sekaligus menunjukkan bahwa panggung seni dapat menjadi ruang bertemunya pendidikan, kreativitas, tradisi, dan kehidupan sosial masyarakat.

Dari Kampung, Untuk Merawat Kebudayaan

Gelaran Tani Sari memperlihatkan bahwa perayaan kemerdekaan dapat dikemas melalui kegiatan yang dekat dengan kehidupan masyarakat. Lapangan kampung berubah menjadi ruang ekspresi bagi anak-anak, seniman, pendidik, dan masyarakat.

Kehadiran berbagai tari anak dalam rangkaian acara juga menjadi pesan penting. Generasi muda diberikan kesempatan untuk tampil, belajar percaya diri, sekaligus mengenal kekayaan seni pertunjukan Indonesia sejak dini.

Kolaborasi warga Malangjiwan Kidul dengan BBPPMPV Seni dan Budaya semakin memperkuat posisi kegiatan tersebut sebagai ruang pembelajaran sekaligus apresiasi seni.

Semangatnya sederhana, tetapi memiliki makna yang kuat: kemerdekaan bukan hanya tentang mengenang perjuangan masa lalu, melainkan juga tentang memberikan ruang bagi generasi hari ini untuk berkarya dan menjaga kebudayaan.

Melalui Tani Sari, masyarakat diajak melihat bahwa seni dapat tumbuh dari lingkungan terdekat dari kampung, komunitas, sekolah, sanggar, hingga institusi pendidikan seni.

Seni sebagai Bahasa Kemerdekaan

Pentas seni seperti Tani Sari pada akhirnya bukan sekadar agenda hiburan dalam rangka HUT ke-81 RI. Lebih dari itu, ia menjadi gambaran bagaimana masyarakat dapat merayakan kemerdekaan melalui kreativitas dan kebudayaan.

Dari tari anak hingga karya kolaborasi “Satra”, panggung tersebut menghadirkan beragam wajah seni: kegembiraan, tradisi, pendidikan, kreativitas, hingga refleksi kehidupan.

Kemerdekaan pun menemukan bentuknya di atas panggung ketika setiap orang diberi ruang untuk berekspresi, berkarya, dan menjaga warisan budaya Indonesia.

Dan dari Malangjiwan Kidul, pesan itu disampaikan melalui satu bahasa yang universal: seni.(Red/DJ)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *