MPR RI dan Kemendikdasmen Sepakat Perkuat Pendidikan Pancasila di Sekolah

Berita251 Dilihat

DetikSR.id Jakarta, Fraksi Partai Golkar (FPG) MPR RI bersama Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) sepakat memperkuat pendidikan Pancasila dalam sistem pendidikan nasional. Penguatan tersebut dinilai penting untuk membentuk karakter peserta didik, menanamkan nasionalisme, sekaligus memastikan nilai-nilai Pancasila tidak berhenti sebagai materi pembelajaran, tetapi menjadi budaya dalam kehidupan sehari-hari.

Ketua Fraksi Partai Golkar MPR RI Melchias Markus Mekeng mengatakan penguatan pendidikan Pancasila merupakan bagian dari kepedulian terhadap masa depan generasi muda Indonesia. Menurutnya, generasi penerus perlu mendapatkan bekal yang kuat mengenai dasar dan falsafah negara sejak usia dini.

Mekeng menilai penguatan tersebut semakin penting di tengah agenda Indonesia menuju Indonesia Emas. Dengan jumlah penduduk yang besar dan potensi bonus demografi, pembangunan sumber daya manusia tidak hanya membutuhkan kecakapan akademik, tetapi juga karakter kebangsaan yang kuat.

“Kita ini bangsa besar, sekarang penduduk 280 juta dan kita menyongsong Indonesia Emas. Tapi itu bisa goyah kalau anak didik kita tidak kita bekali dengan dasar dan falsafah negara kita, Pancasila,” ujar Mekeng dalam keterangan tertulis, pada (30/9/2026).

Pernyataan tersebut disampaikan Mekeng seusai mengikuti Lokakarya Akademik FPG MPR RI bertema “Pancasila sebagai Falsafah dan Dasar Negara: Penguatan Pendidikan Pancasila dalam Sistem Pendidikan Nasional” di Ballroom Hotel Harris Bandung, Jawa Barat.

Dalam forum tersebut, Mekeng menegaskan pendidikan Pancasila tidak semestinya hanya ditempatkan sebagai pengetahuan yang dihafalkan peserta didik. Menurut dia, nilai-nilai Pancasila harus diterjemahkan ke dalam sikap, perilaku, dan kebiasaan siswa dalam kehidupan sehari-hari.

Ia mencontohkan penerapan nilai tersebut dapat dimulai dari hal sederhana, seperti membangun sikap santun kepada guru dan orang tua, menghormati sesama, serta membiasakan peserta didik berkomunikasi dengan bahasa dan cara yang baik.

“Kita ingin kembali Pancasila itu masuk ke dalam mata pelajaran utama di sekolah,” kata Mekeng.

Dorong Penguatan Pendidikan Moral Pancasila

Mekeng juga mengingatkan kembali pentingnya Pendidikan Moral Pancasila (PMP) yang pernah menjadi bagian dari sistem pendidikan di Indonesia. Ia berpandangan penguatan pendidikan Pancasila perlu mendapatkan pijakan yang lebih kuat dalam sistem pendidikan nasional, termasuk melalui revisi Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional.

Menurut dia, pendidikan karakter tidak dapat sepenuhnya diserahkan kepada keluarga atau lingkungan sosial. Sekolah sebagai institusi pendidikan memiliki posisi strategis untuk membangun kebiasaan dan karakter peserta didik secara sistematis sejak usia dini.

“Kalau kita ingin membangun Indonesia ke depan, pendidikan karakter ini harus kita mulai dari anak-anak. Jangan sampai kita hanya mengejar kemampuan akademik, tetapi lupa membangun karakter dan nilai kebangsaan,” ujarnya.

Mekeng juga menyoroti pentingnya memasukkan pendidikan mengenai kebersihan dan kepedulian terhadap lingkungan dalam pembentukan karakter anak. Ia menilai kebiasaan hidup bersih harus dibangun sejak jenjang pendidikan paling awal agar menjadi bagian dari perilaku sehari-hari.

“Mindset kebersihan itu harus masuk juga di dalam pelajaran kita, anak-anak mulai dari tingkat paling bawah,” kata Mekeng.

Menurutnya, persoalan kebersihan dan sampah tidak semata-mata berkaitan dengan ketersediaan fasilitas, tetapi juga menyangkut budaya dan kebiasaan masyarakat. Karena itu, pembentukan perilaku hidup bersih dinilai perlu dimulai dari lingkungan pendidikan.

Kemendikdasmen: Pancasila Harus Menjadi Budaya Sekolah

Sementara itu, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti mengapresiasi inisiatif FPG MPR RI yang mendorong penguatan pendidikan Pancasila dalam sistem pendidikan nasional.

Mu’ti mengatakan gagasan tersebut sejalan dengan arah kebijakan Kemendikdasmen, khususnya dalam memperkuat karakter bangsa, nasionalisme, dan kecintaan terhadap tanah air.

“Kami merasa bahwa yang dilakukan oleh Fraksi Partai Golkar ini sejalan dengan apa yang menjadi arah kebijakan Kemendikdasmen di masa depan tentang penguatan karakter bangsa,” ujar Mu’ti.

Mu’ti mengatakan pemerintah akan berkoordinasi dan bersama-sama dengan DPR serta MPR memperjuangkan penguatan pembelajaran Pancasila. Salah satu gagasan yang mengemuka adalah menegaskan kembali pendidikan moral Pancasila dalam sistem pendidikan Indonesia.

Namun, menurut Mu’ti, penguatan nilai Pancasila tidak cukup dilakukan melalui pembelajaran formal di dalam kelas. Pendidikan karakter juga harus hadir melalui berbagai aktivitas sekolah dan lingkungan pendidikan secara keseluruhan.

Karena itu, nilai-nilai Pancasila akan diperkuat melalui kegiatan ekstrakurikuler serta hidden curriculum atau kurikulum tersembunyi, yakni nilai dan kebiasaan yang terbentuk melalui budaya serta praktik sehari-hari di lingkungan sekolah.

Kegiatan seperti Pramuka, Paskibraka, dan Korps Kadet, kata Mu’ti, dapat menjadi ruang bagi peserta didik untuk mengembangkan potensi sekaligus belajar menerapkan nilai-nilai kebangsaan secara langsung.

“Jadi, pendidikan Pancasila bukan hanya apa yang diajarkan, tetapi juga apa yang dilakukan dan dibiasakan oleh anak-anak dalam kehidupan mereka sehari-hari,” ujarnya.

Dari Materi Pelajaran Menjadi Kebiasaan

Mu’ti menilai tantangan utama penguatan pendidikan Pancasila bukan sekadar menambah atau memperkuat materi pembelajaran, melainkan memastikan nilai tersebut benar-benar dipraktikkan oleh peserta didik.

Karena itu, lingkungan sekolah perlu menjadi ruang yang mendukung pembentukan kebiasaan positif. Nilai gotong royong, disiplin, toleransi, tanggung jawab, kepedulian, penghormatan terhadap sesama, serta kecintaan terhadap bangsa dan negara perlu diwujudkan melalui perilaku nyata.

Penguatan tersebut juga perlu diterapkan dalam kehidupan keluarga dan masyarakat. Salah satu pendekatan yang disebut Mu’ti adalah Gerakan Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat, yang diarahkan untuk membangun kebiasaan positif sejak usia dini.

Dengan pendekatan tersebut, pendidikan Pancasila diharapkan tidak berhenti pada kemampuan siswa menjelaskan lima sila atau menghafalkan nilai-nilainya. Lebih jauh, nilai tersebut diharapkan menjadi bagian dari karakter dan kebiasaan peserta didik.

Pendidikan Karakter Untuk Indonesia Emas

Kesepakatan antara FPG MPR RI dan Kemendikdasmen tersebut menempatkan pendidikan karakter sebagai salah satu fondasi penting dalam menyiapkan generasi menuju Indonesia Emas.

Di tengah perubahan sosial, perkembangan teknologi, serta derasnya arus informasi, sekolah menghadapi tantangan untuk memastikan peserta didik tidak hanya memiliki kemampuan akademik dan teknologi, tetapi juga memiliki landasan nilai yang kuat.

Penguatan pendidikan Pancasila menjadi salah satu upaya untuk menjawab tantangan tersebut. Pancasila diharapkan tidak hanya dipahami sebagai dasar negara dan ideologi bangsa, tetapi juga hadir dalam perilaku peserta didik di sekolah, keluarga, dan masyarakat.

Bagi MPR RI dan Kemendikdasmen, penguatan tersebut pada akhirnya bermuara pada satu tujuan: membangun generasi muda yang memiliki kompetensi sekaligus karakter kebangsaan yang kuat sebagai modal menghadapi masa depan Indonesia.

Ervinna

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *