Operasi Nila Jaya 2026: Polres Jakbar Ungkap Clandestine Lab Etomidate Hingga Sita 40.539 Obat Berbahaya

Berita131 Dilihat

DetikSR.id Jakarta Barat, Satuan Reserse Narkoba Polres Metro Jakarta Barat membongkar jaringan produksi narkotika jenis etomidate yang dikemas menyerupai produk rokok elektrik.

Polisi menggerebek sebuah rumah di kawasan perumahan elite PIK 2, Tangerang, yang diduga dijadikan clandestine lab untuk memproduksi cartridge etomidate dan mengamankan 1 orang pelaku WN China Berinisial CF (27)

Dalam pengungkapan tersebut, polisi menangkap satu warga negara China.

Polisi juga menyita 1.008 cartridge berisi etomidate yang disebut siap diedarkan, bahan baku dan perisa, serta 12.000 cartridge kosong yang diduga disiapkan untuk diisi.

Kapolres Metro Jakarta Barat Kombespol Nasriadi mengatakan pengungkapan tersebut merupakan bagian dari Operasi Nila Jaya 2026 yang berlangsung selama 14 hari, mulai 9 September hingga 23 September 2026.

Namun, dalam pengembangan kasus etomidate, penyidik menemukan adanya aktivitas produksi yang berlangsung hingga sekitar dua bulan. Polisi kini masih menelusuri pihak lain yang diduga berada di balik jaringan tersebut.

“Yang paling menjadi perhatian kita adalah banyaknya beredar cartridge etomidate yang mengandung narkotika yang sangat berbahaya. Dan kita, Polres Jakarta Barat, telah mengungkap pabriknya atau labnya untuk pembuatan etomidate tersebut untuk disebarkan di wilayah Indonesia,” kata Nasriadi.

Polisi Sita Ribuan Cartridge dan Bahan Produksi

Dari lokasi clandestine lab, polisi menemukan sejumlah barang bukti yang menunjukkan adanya aktivitas produksi, bukan sekadar penyimpanan atau distribusi.

Nasriadi merinci, barang bukti yang diamankan antara lain 2.457 gram ganja, 165,15 gram sabu, serta 125,8 gram tembakau sintetis.

Polisi juga menyita 62 botol cairan sintetis, 1.008 cartridge berisi etomidate yang disebut siap diedarkan, serta bahan perisa dengan berbagai rasa.

Selain itu, terdapat puluhan ribu cartridge kosong yang diduga akan digunakan untuk menampung cairan etomidate.

Menurut Nasriadi, bahan dan peralatan yang ditemukan di lokasi dapat digunakan untuk memproduksi jauh lebih banyak cartridge. Berdasarkan hasil pemeriksaan awal penyidik, bahan perisa yang ditemukan diperkirakan dapat diracik menjadi sekitar 20.000 cartridge.

“Kalau botol itu dibuat racik akan menghasilkan 20.000 cartridge etomidate, bayangkan, bisa menghasilkan 20.000 cartridge. Kemudian ada puluhan ribu cartridge kosong yang siap untuk dimasukkan cairan-cairan tersebut,” ujar Nasriadi.

Polisi menilai jumlah tersebut menunjukkan potensi produksi yang jauh lebih besar dibandingkan barang jadi yang telah ditemukan.

Dikemas seperti Rokok Elektrik

Salah satu perhatian utama polisi adalah cara etomidate tersebut dipasarkan. Produk dikemas dalam bentuk cartridge yang secara fisik menyerupai perangkat atau komponen rokok elektrik.

Nasriadi menyebut produk tersebut bahkan dikemas sedemikian rupa sehingga dapat terlihat seperti barang biasa.

Menurut dia, satu cartridge berukuran XXL dapat digunakan oleh sekitar lima hingga 10 orang. Polisi memperkirakan harga satu cartridge di pasaran mencapai Rp5 juta hingga Rp7 juta.

“Eee etomidate ini, ya etomidate ini, bila kita lakukan penyelidikan, harganya sekarang dengan yang size XXL, itu bisa digunakan 5 sampai 10 orang,” kata Nasriadi.

“Dan harganya, harga di pasaran sampai saat ini adalah Rp5 sampai dengan Rp7 juta satu,” lanjutnya.

Dengan jumlah barang dan potensi produksi yang ditemukan, polisi memperkirakan nilai ekonomi barang yang berhasil dicegah beredar mencapai sekitar Rp120 miliar.

Nasriadi mengatakan pengungkapan tersebut dinilai penting karena produk yang secara tampilan menyerupai komponen rokok elektrik dapat membuat masyarakat tidak menyadari kandungan di dalamnya.

WN China Diduga Berperan dalam Produksi

Dalam kasus ini, polisi menangkap seorang warga negara China berinisial CF yang disebut berasal dari Fujian. Penyidik menduga CF tidak bekerja sendirian.

Kasat Narkoba Polres Metro Jakarta Barat AKBP Vernal Sambo mengatakan masing-masing anggota jaringan diduga memiliki peran berbeda, mulai dari kedatangan tersangka ke Indonesia, penyediaan bahan baku, hingga proses produksi.

“Jaringan pembuatan lab clandestine yang lab etomidate ini, tersangka yang kita amankan itu tidak dapat bekerja sendiri. Jadi masing-masing ada perannya,” kata Vernal.

Menurut Vernal, CF diduga datang ke Indonesia dengan jaminan seseorang yang kini masuk dalam daftar pencarian orang (DPO). Polisi masih menyusun rangkaian keterlibatan masing-masing pihak dalam jaringan tersebut.

“Artinya bahwa kami sekarang sedang mengumpulkan puzzle siapa-siapa saja yang terlibat,” ujarnya.

Penyidik juga telah mengantongi sejumlah nama yang diduga berkaitan dengan jaringan tersebut. Beberapa pihak yang diduga mengurus dokumen perjalanan dan dokumen lainnya juga akan dimintai keterangan.

Dua Kali Bolak-balik China-Indonesia

Katimsus 2 Narkoba Polres Metro Jakarta Barat AKP Jimi Farid mengatakan hasil koordinasi dengan pihak Imigrasi menunjukkan CF telah beberapa kali masuk ke Indonesia sebelum ditangkap.

Berdasarkan data perjalanan yang diperoleh penyidik, CF pertama kali datang pada Juli 2026. Setelah itu, dia kembali ke China pada Agustus sebelum kembali lagi ke Indonesia pada September.

“Saudara CF ini kita juga sudah sesuaikan dengan hasil pemeriksaan awal dua kali datang ke Indonesia yaitu pada bulan Juli dan bulan Agustus kembali lagi ke Indonesia. Jadi dia bulan Juli, kemudian bulan Agustus dia kembali ke China, kemudian pada bulan September dia kembali lagi ke Indonesia yang beberapa hari selanjutnya kita amankan,” kata Jimi.

Polisi kini berkoordinasi dengan Imigrasi, Bea Cukai, dan Kedutaan Besar China untuk menelusuri bagaimana jaringan tersebut membawa bahan maupun peralatan ke Indonesia.

Nasriadi mengatakan pihaknya masih menyelidiki jalur masuk barang serta pihak yang membantu tersangka selama berada di Indonesia.

“Bea Cukai, kemudian Imigrasi, kemudian Kedutaan Besar Cina sendiri, ya. Kita masih mencari dari mana barang ini bisa masuk ke sini,” ujar Nasriadi.

Dikendalikan dari China

Dari hasil pemeriksaan terhadap CF, polisi menduga jaringan tersebut memiliki hubungan dengan seseorang berinisial AC yang berada di China dan kini diburu sebagai DPO.

Katimsus 2 Akp Jimi Farid M menjelaskan, CF diduga datang ke Indonesia atas arahan AC dengan tujuan memproduksi etomidate untuk mendapatkan keuntungan.

“Jadi di sana Saudara AC menjanjikan keuntungan-keuntungan yang menurut Saudara CF ini menjanjikan. Namun, belum sempat mendapatkan keuntungan tersebut, sudah kita amankan terlebih dahulu,” kata Jimi.

Penyidik menduga aktivitas produksi etomidate telah berlangsung sekitar dua bulan sebelum penggerebekan.

“Saudara CF ini sudah sekitar 2 bulan beroperasi memproduksi etomidate ini dan dihasilkan sekian ratus cartridge dan masih berproses hingga akhirnya kita amankan,” ujar Jimi.

Polisi masih memburu AC dan pihak lain yang diduga terlibat dalam jaringan tersebut.

Operasi Nila Jaya Ungkap Puluhan Ribu Obat Berbahaya

Pengungkapan lab etomidate tersebut menjadi salah satu bagian dari hasil Operasi Nila Jaya 2026 yang digelar jajaran Polres Metro Jakarta Barat selama 14 hari.

Selain kasus narkotika, polisi mengungkap peredaran obat-obatan berbahaya. Sebanyak 16 tersangka diamankan dari jajaran Polres maupun Polsek.

Dari perkara tersebut, polisi menyita 40.539 butir obat berbahaya dari berbagai jenis, termasuk tramadol, olanzapine, dan obat lainnya. Polisi juga mencatat 14 laporan polisi dalam perkara tersebut.

Dalam salah satu perkara, polisi masih memburu seorang tersangka berinisial AP yang masuk daftar pencarian orang. Dari hasil pengungkapan di wilayah Cakung, Jakarta Timur, polisi menduga AP berkaitan dengan kepemilikan sekitar 21.000 butir obat berbahaya.

Sementara dalam perkara narkotika dan etomidate, total terdapat 12 tersangka, terdiri atas 11 WNI dan satu warga negara China.

Polisi Telusuri Jaringan Internasional

Pengungkapan ini juga menunjukkan bahwa peredaran etomidate dalam bentuk cartridge vape telah menjadi perhatian aparat penegak hukum di Jakarta.

Sebelumnya, pada September 2026, Polres Metro Jakarta Barat juga mengungkap kasus peredaran cartridge etomidate di Kelapa Gading dan mengamankan 458 cartridge. Polisi saat itu menyebut barang tersebut memiliki berat netto 1.145 mililiter dan memburu seorang DPO berinisial D.

Pada periode yang sama, Polda Metro Jaya juga mengungkap kasus lain dengan menyita 518 cartridge etomidate dari dua lokasi di Jakarta Barat dan Serpong.

Sementara Bareskrim Polri kemudian mengungkap kasus lain di kawasan Tanah Abang dengan total 735 cartridge yang diduga berisi etomidate.

Rangkaian pengungkapan tersebut menunjukkan bahwa aparat masih melakukan pengembangan terhadap jaringan distribusi etomidate yang dikemas dalam bentuk cartridge vape.

Dengan terbongkarnya tempat produksi di PIK 2, penyidik Polres Metro Jakarta Barat kini tidak hanya mengejar pengedar di tingkat hilir, tetapi juga berupaya mengungkap pihak yang diduga memasok bahan, mengatur produksi, membiayai jaringan, hingga mengendalikan distribusi dari luar negeri.

Nasriadi menegaskan penyidikan masih terus dikembangkan untuk memutus mata rantai peredaran etomidate yang dikemas menyerupai produk rokok elektrik tersebut.(Red)

( Sumber Humas Polres Metro Jakarta Barat )

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *