Panglima TNI Agus Subiyanto Perintahkan Pasukan di Lebanon Masuk Bunker, Aktivitas di Luar Markas Dihentikan

TNI / POLRI170 Dilihat

DetikSR.id Jakarta, Panglima Tentara Nasional Indonesia (TNI), Agus Subiyanto, mengeluarkan instruksi tegas kepada seluruh prajurit TNI yang tergabung dalam misi perdamaian di Lebanon untuk menghentikan seluruh aktivitas di luar markas dan segera berlindung di bunker.

Perintah tersebut dikeluarkan menyusul meningkatnya eskalasi konflik di wilayah Lebanon selatan yang dinilai semakin membahayakan keselamatan personel.
Instruksi ini disampaikan langsung oleh Agus saat melakukan komunikasi jarak jauh melalui videocall dengan Komandan Satuan Tugas (Satgas) Batalyon Mekanis TNI Kontingen Garuda XXIII-S yang bertugas di bawah misi United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL), pada (3/4/2026).

Dalam arahannya, Panglima menekankan bahwa keselamatan prajurit menjadi prioritas utama di tengah situasi keamanan yang memburuk.
“Jaga moral prajurit yang ada di sana, tetap melaksanakan pengamanan intern, masuk ke bunker-bunker dan tidak ada kegiatan lagi keluar,” ujar Agus dalam keterangan resminya, (4/4/2026).

Perintah tersebut muncul di tengah meningkatnya ketegangan di wilayah Lebanon selatan, khususnya di sekitar garis perbatasan dengan Israel. Intensitas kontak senjata dilaporkan meningkat tajam dalam beberapa pekan terakhir, melibatkan militer Israel dan kelompok bersenjata lokal di Lebanon.

Situasi ini berdampak langsung terhadap pasukan penjaga perdamaian, termasuk Kontingen Garuda dari Indonesia yang selama ini bertugas menjaga stabilitas kawasan. Kondisi lapangan yang semakin tidak kondusif membuat langkah pengamanan ekstra menjadi sangat diperlukan.

Menanggapi instruksi Panglima, Komandan Satgas menyatakan kesiapan penuh jajarannya untuk melaksanakan perintah tersebut tanpa pengecualian.
“Siap Panglima,” jawab Komandan Satgas singkat namun tegas.

Agus juga menekankan pentingnya menjaga semangat juang prajurit di tengah tekanan situasi konflik.
“Dan jaga moral prajurit supaya tetap semangat. Terima kasih,” tambahnya.

Arahan tersebut disambut kembali oleh Komandan Satgas dengan pernyataan kesiapan penuh. “Siap Panglima, kami laksanakan,” ujarnya.

Di akhir percakapan, Panglima kembali memberikan dorongan moral kepada seluruh prajurit yang bertugas di garis depan. “Tetap semangat,” pesan Agus.

Balasan penuh semangat pun datang dari Komandan Satgas: “Siap. Terima kasih atas arahannya, kami sampaikan salam panggilan kepada semua prajurit. Garuda Prima!”

Instruksi pengamanan ini juga tidak terlepas dari kabar duka yang menyelimuti TNI. Tiga prajurit terbaik bangsa gugur saat menjalankan tugas sebagai penjaga perdamaian di Lebanon.
Ketiga prajurit tersebut adalah:

* Kapten Infanteri Zulmi Aditya Iskandar
* Sersan Satu Muhammad Nur
* Prajurit Kepala Farizal Rhomadhon

Praka Farizal Rhomadhon dilaporkan gugur setelah terkena serangan artileri tidak langsung di wilayah Adchit Al Qusayr pada 29 Maret 2026. Serangan tersebut terjadi di tengah meningkatnya intensitas konflik bersenjata di kawasan tersebut.

Sementara itu, Kapten Zulmi dan Sertu Muhammad Nur gugur akibat kendaraan yang mereka tumpangi terkena ranjau setelah sebelumnya dihujani tembakan. Insiden tersebut menegaskan tingginya risiko yang dihadapi pasukan penjaga perdamaian di lapangan.

Sebagai bentuk penghormatan terakhir, jenazah ketiga prajurit telah menjalani upacara pelepasan di Bandara Internasional Rafic Hariri, Beirut, Lebanon, pada 2 April 2026.

Upacara tersebut dipimpin langsung oleh Komandan Pasukan UNIFIL sebagai penghormatan atas dedikasi dan pengabdian mereka.
Jenazah dijadwalkan tiba di Indonesia pada (4/4/2026) untuk kemudian diserahkan kepada keluarga masing-masing.

Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia menyatakan bahwa proses repatriasi merupakan bentuk penghormatan negara kepada para prajurit yang gugur, sekaligus tanggung jawab moral kepada keluarga yang ditinggalkan.

“Repatriasi merupakan bentuk penghormatan terakhir bagi para prajurit yang gugur, sekaligus wujud tanggung jawab negara kepada keluarga yang ditinggalkan. Doa dan dukungan dari seluruh rakyat Indonesia menjadi penguat dalam mengiringi kepulangan para pahlawan bangsa,” demikian pernyataan resmi Kemlu RI.

Pemerintah Indonesia juga terus berkoordinasi dengan Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk memastikan proses pemulangan berjalan cepat, aman, dan lancar.
Dalam kondisi normal, perjalanan dari Beirut menuju Jakarta memakan waktu sekitar 17 jam. Namun, meningkatnya eskalasi konflik menyebabkan berbagai keterbatasan pergerakan, termasuk akses transportasi dan keamanan jalur penerbangan.

Meski menghadapi situasi yang semakin kompleks, pemerintah Indonesia menegaskan komitmennya untuk terus berpartisipasi dalam misi perdamaian dunia. Keikutsertaan TNI dalam UNIFIL merupakan bagian dari kontribusi aktif Indonesia dalam menjaga stabilitas global.

Pengorbanan para prajurit menjadi pengingat akan besarnya tanggung jawab yang diemban dalam menjaga perdamaian internasional. Di tengah duka, semangat dan dedikasi mereka tetap menjadi inspirasi bagi seluruh rakyat Indonesia.

Dengan kondisi keamanan yang masih fluktuatif, langkah pengamanan seperti perintah masuk bunker diharapkan mampu meminimalkan risiko dan menjaga keselamatan prajurit yang masih bertugas di wilayah konflik tersebut.

Ervinna

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *