Pemprov DKI Mulai Revitalisasi Kota Tua, Perkuat Identitas Jakarta Sebagai Kota Global Berbasis Sejarah

Berita155 Dilihat

DetikSR.Id Jakarta, DKI Jakarta Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta resmi memulai langkah revitalisasi kawasan bersejarah Kota Tua Jakarta sebagai bagian dari upaya mengembalikan identitas ibu kota sekaligus memperkuat posisinya sebagai kota global yang berakar pada sejarah dan budaya.

Rencana besar ini dibahas dalam forum bertajuk “Intimate Dialogue Kota Tua Update” yang dihadiri oleh Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta beserta jajaran terkait.

Dalam kesempatan tersebut, Wakil Gubernur DKI Jakarta Rano Karno menegaskan komitmen pemerintah dalam menata ulang kawasan bersejarah tersebut secara serius dan terarah.
“Di sini kita memberikan keyakinan bahwa Pemprov DKI serius untuk membangun Kota Tua. Kita sudah mempunyai tim revitalisasi Kota Tua dan Insya Allah di saat waktunya tepat, saya sendiri sebagai penanggung jawab akan berkantor di Kota Tua,” ujar Rano dalam keterangannya di Jakarta, (9/4/2026).

Langkah Rano untuk berkantor langsung di kawasan tersebut dinilai sebagai bentuk pengawasan intensif terhadap jalannya proyek revitalisasi. Ia menyebut pendekatan ini penting agar setiap tahapan pembangunan dapat berjalan sesuai rencana dan tepat sasaran.

Sebagai bagian dari strategi pelaksanaan, Pemprov DKI telah membentuk tim revitalisasi serta Kelompok Kerja (Pokja) guna memastikan koordinasi lintas sektor berjalan optimal. Tak hanya itu, revitalisasi ini juga melibatkan para pakar yang sebelumnya sukses menangani pengembangan kawasan Kota Lama Semarang.

Kolaborasi ini diharapkan mampu menghadirkan konsep revitalisasi yang tidak hanya berorientasi pada estetika, tetapi juga keberlanjutan ekonomi, sosial, dan budaya.

Dalam pelaksanaannya, kawasan Kota Tua akan dibagi menjadi tiga zona utama, yaitu zona inti, zona pengembangan, dan zona penunjang.

Fokus awal akan diberikan pada zona inti yang menjadi pusat aktivitas sejarah dan wisata.
“Yang akan kita fokus adalah di zona intinya dulu. Ini luasnya kira-kira hampir 363 hektare untuk keseluruhan kawasan, tetapi zona inti sekitar 80 hektare,” jelas Rano.

Zona inti tersebut mencakup sejumlah titik penting seperti Museum Bahari dan Alun-Alun Fatahillah yang selama ini menjadi ikon wisata sejarah Jakarta.

Selain aspek konservasi bangunan bersejarah, Pemprov DKI juga menaruh perhatian besar pada penataan infrastruktur pendukung, terutama area parkir dan pedagang kaki lima (PKL).

Menurut Rano, keberadaan fasilitas tersebut harus ditata dengan baik agar menciptakan lingkungan yang tertib, nyaman, dan tidak mengganggu aktivitas masyarakat maupun wisatawan.
Penataan PKL akan dilakukan secara terintegrasi agar tetap memberikan ruang ekonomi bagi pelaku usaha kecil, namun dengan konsep yang lebih rapi dan terorganisir.

Revitalisasi Kota Tua merupakan bagian dari visi besar Jakarta untuk menjadi kota global yang tidak melupakan akar sejarahnya.

Kawasan ini diharapkan dapat menjadi pusat kebudayaan, pariwisata, serta ekonomi kreatif yang mampu bersaing di tingkat internasional.

Dengan langkah ini, Pemprov DKI Jakarta ingin menjadikan Kota Tua bukan hanya sebagai destinasi wisata, tetapi juga sebagai ruang hidup yang dinamis, inklusif, dan berkelanjutan bagi masyarakat.

Revitalisasi ini pun menjadi simbol upaya Jakarta dalam merawat warisan sejarah sambil terus bergerak menuju masa depan sebagai kota metropolitan modern.

Ervinna

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *