Perwira TNI AU Aris Toteles Sufiuddin Resmi Raih Gelar Doktor di Unpad, Angkat Isu Kesetaraan Gender dalam Misi Perdamaian Dunia

Berita34 Dilihat

DetikSR.id Bandung,– Perwira TNI Angkatan Udara (TNI AU), Aris Toteles Sufiuddin, resmi menyandang gelar Doktor setelah dinyatakan lulus dalam Sidang Promosi Doktor (SPD) Program Pascasarjana Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Padjadjaran (Unpad), Rabu (1/7/2026).

Sidang promosi yang berlangsung di Ruang Sidang Program Pascasarjana FISIP Unpad, Gedung A Lantai 2, Jalan Bukit Dago Utara Nomor 25, Bandung, dimulai pukul 09.00 WIB. Sidang dihadiri tim promotor, oponen ahli, serta para penguji. Setelah melalui pemaparan disertasi dan sesi tanya jawab, Aris Toteles Sufiuddin dinyatakan lulus dan berhak menyandang gelar Doktor.

Dalam sidang tersebut, Aris mempertahankan disertasinya yang berjudul “Kemauan Politik Pimpinan TNI AU untuk Membangun Kesetaraan Gender dalam Penempatan Personel pada Misi Perdamaian Dunia.”Penelitian tersebut mengkaji pentingnya komitmen pimpinan TNI AU dalam mewujudkan kesetaraan gender, khususnya dalam penempatan personel pada misi perdamaian internasional.

Sebelum pelaksanaan sidang, FISIP Universitas Padjadjaran melalui Dekan, Prof. Dr. Mohammad Benny Alexandri, telah mengirimkan surat resmi kepada Panglima Kogabwilhan III untuk memohon izin agar Aris Toteles Sufiuddin dapat mengikuti Sidang Promosi Doktor. Permohonan tersebut tertuang dalam Surat Nomor 10305/UN6.G/PK.03.09/2026 tertanggal 25 Juni 2026.

Sidang dipimpin langsung oleh Dekan FISIP Unpad, Prof. Dr. Mohammad Benny Alexandri, selaku Ketua Sidang, didampingi Ari Ganjar Herdiansah, S.Sos., M.Si., Ph.D., sebagai Sekretaris Sidang sekaligus Ketua Promotor, bersama jajaran promotor, oponen ahli, dan guru besar yang memberikan penilaian terhadap disertasi.

Usai dinyatakan lulus, Aris Toteles Sufiuddin menyampaikan rasa syukur atas pencapaian akademik yang diraihnya.

“Alhamdulillah, segala puji dan syukur saya panjatkan ke hadirat Allah SWT atas segala rahmat dan karunia-Nya sehingga saya dapat menyelesaikan studi doktoral ini dengan baik. Saya menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada keluarga, para promotor, dosen penguji, Universitas Padjadjaran, serta pimpinan TNI Angkatan Udara yang telah memberikan dukungan dan kesempatan selama proses pendidikan ini.” Ucapnya.

Menurutnya, gelar doktor bukanlah akhir dari perjalanan, melainkan awal dari tanggung jawab yang lebih besar dalam mengabdikan ilmu pengetahuan bagi institusi, bangsa, dan negara.

“Gelar doktor ini bukanlah akhir dari perjalanan, melainkan awal dari tanggung jawab yang lebih besar untuk terus mengabdikan ilmu pengetahuan bagi kepentingan institusi, bangsa, dan negara. Saya berharap hasil penelitian mengenai kemauan politik pimpinan TNI AU dalam membangun kesetaraan gender pada penempatan personel misi perdamaian dunia dapat menjadi masukan yang konstruktif bagi pengembangan kebijakan organisasi, sehingga semakin banyak personel yang memiliki kesempatan mengabdikan diri pada misi perdamaian internasional secara profesional dan berkeadilan.”tambah Aris.

Ia juga mengajak seluruh prajurit untuk terus meningkatkan kapasitas diri melalui pendidikan.

“Sebagai prajurit, saya meyakini bahwa ilmu pengetahuan harus berjalan beriringan dengan pengabdian. Semoga apa yang saya capai hari ini dapat menjadi motivasi bagi seluruh prajurit untuk terus belajar, meningkatkan kompetensi, dan memberikan pengabdian terbaik kepada TNI Angkatan Udara, bangsa, dan Negara Kesatuan Republik Indonesia.”pungkasnya.

Sementara itu, pengamat pertahanan Prof. Connie Rahakundini Bakrie yang menjadi informan dalam penelitian tersebut menilai disertasi Aris merupakan langkah berani karena mengangkat isu kesetaraan gender saat masih aktif sebagai prajurit TNI AU.

“Sangat membanggakan karena menurut saya ini sebuah keberanian. Beliau masih aktif sebagai prajurit, seorang laki-laki, tetapi justru mendorong isu gender. Penelitian ini tidak boleh berhenti sampai di sini. Penelitiannya sudah sangat mendalam dan jujur. Saya yakin ada risiko yang dihadapi karena beliau masih aktif.”ujar Connie.

Prof. Connie berharap hasil penelitian tersebut dapat menjadi dasar perubahan doktrin di lingkungan TNI sehingga membuka peluang yang lebih luas bagi prajurit perempuan dalam berbagai penugasan strategis.

“Saya berharap penelitian ini diarahkan menjadi bagian dari doktrin sehingga benar-benar terjadi perubahan. Harapan kita, Indonesia memiliki kekuatan angkatan udara dan militer yang semakin profesional, dan perubahan itu bisa dimulai dari titik kecil di Unpad hari ini.”kata Connie.

Ia juga mendorong agar hasil disertasi tersebut disampaikan kepada Komisi I DPR RI dan Kementerian Pertahanan sebagai bahan pertimbangan dalam penyusunan kebijakan.

Senada dengan itu, Anggota Komisi IX DPR RI, Neti, menilai disertasi Aris menghadirkan perspektif baru mengenai kesetaraan gender di lingkungan militer.

Menurutnya, isu perempuan selama ini umumnya diperjuangkan oleh kaum perempuan sendiri. Namun, Aris sebagai seorang laki-laki justru menghadirkan gagasan mengenai pentingnya memberikan kesempatan yang setara kepada prajurit perempuan untuk menempati posisi strategis sesuai kompetensinya.

Neti mengatakan pendekatan yang lebih humanis dalam penempatan prajurit perempuan pada misi perdamaian dunia dapat memberikan nilai tambah bagi Indonesia dalam membangun perdamaian internasional, terutama melalui pendekatan komunikasi, empati, dan persuasi yang sering dibutuhkan di wilayah konflik.

Ia berharap disertasi tersebut tidak hanya menjadi karya ilmiah semata, tetapi dapat diterjemahkan menjadi kebijakan nyata di lingkungan TNI AU maupun pemerintah.

Selain itu, Neti menyarankan agar hasil penelitian tersebut disampaikan kepada Komisi I DPR RI karena komisi tersebut merupakan mitra kerja Kementerian Pertahanan dan TNI.

Menurutnya, bangsa yang kuat bukan hanya diukur dari kekuatan pertahanannya, tetapi juga dari kemampuannya memberikan kesempatan yang adil bagi seluruh kelompok, termasuk perempuan, untuk berkontribusi sesuai potensi dan kemampuannya.

Keberhasilan Aris Toteles Sufiuddin meraih gelar Doktor diharapkan tidak hanya menjadi prestasi akademik pribadi, tetapi juga memberikan kontribusi nyata terhadap pengembangan kebijakan kesetaraan gender di lingkungan TNI Angkatan Udara, sekaligus memperkaya kajian mengenai peran Indonesia dalam misi perdamaian dunia.(Red/NR/aw))

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *