PPBPN Gelar Gebyar Suronan 2026 di Depok, Lestarikan Tradisi Leluhur dan Perkuat Nilai Budaya Nusantara

Budaya122 Dilihat

DetikSR.id Depok, Paguyuban Pelestari Budaya Pusaka Nusantara (PPBPN) sukses menyelenggarakan Gebyar Suronan 2026 di Wisata Rumah Kabeda, Kukusan, Depok, Selasa (30/6/2026).

Kegiatan ini menjadi wujud komitmen PPBPN dalam melestarikan warisan budaya leluhur sekaligus mengajak masyarakat untuk memahami makna Bulan Suro sebagai momentum refleksi, spiritualitas, dan penguatan nilai-nilai budaya bangsa.

Mengusung tema pelestarian budaya dan penguatan karakter bangsa, Gebyar Suronan 2026 menghadirkan berbagai rangkaian kegiatan yang sarat makna filosofis.

Acara tersebut dihadiri oleh pegiat budaya, pemerhati pusaka, tokoh adat, tokoh agama, serta masyarakat umum yang antusias mengikuti setiap prosesi.

Tiga agenda utama menjadi inti dari penyelenggaraan Gebyar Suronan 2026, yaitu:

1. Sidhikara Pusaka, Wungonan, dan Siraman Sukerta.
Prosesi Sidhikara Pusaka menjadi simbol penghormatan terhadap pusaka sebagai warisan sejarah, budaya, dan kearifan leluhur yang harus dijaga serta diwariskan kepada generasi penerus.

Melalui prosesi ini, peserta diajak memahami bahwa pusaka bukan sekadar benda bersejarah, tetapi juga mengandung nilai moral, spiritual, dan identitas bangsa.

2. Wungonan dilaksanakan sebagai tradisi doa bersama, tirakat, dan perenungan untuk memohon keselamatan, keberkahan, kedamaian, serta kesejahteraan bagi bangsa Indonesia.

Suasana khidmat mewarnai prosesi ini sebagai bentuk rasa syukur dan harapan agar kehidupan masyarakat senantiasa dilimpahi rahmat Tuhan Yang Maha Esa.

3. Siraman Sukerta menjadi prosesi penyucian diri secara simbolis yang menggambarkan upaya membersihkan lahir dan batin dari berbagai hal negatif.

Ritual ini dimaknai sebagai ikhtiar spiritual untuk memohon perlindungan, keselamatan, dan kehidupan yang lebih baik.

Siraman Sukerta prosesi penyucian diri

Ketua Pelaksana Gebyar Suronan 2026, Purwanto Budi Santoso, menegaskan bahwa Suronan bukan sekadar tradisi tahunan, tetapi juga momentum penting untuk menjaga keberlangsungan budaya Nusantara.

“Momentum Suronan menjadi pengingat bagi kita semua untuk senantiasa menjaga warisan budaya leluhur dengan bijaksana demi kejayaan budaya Indonesia,” ujar Purwanto.

Pada kesempatan yang sama, perwakilan Paguyuban Pelestari Budaya Pusaka Nusantara, Ki Cokro Santri, mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bersama-sama melestarikan budaya sebagai perekat persatuan bangsa.

“Mari bersama-sama merawat warisan budaya Nusantara, memperkuat persatuan, serta menjadikan tradisi sebagai sumber inspirasi dalam membangun kehidupan yang harmonis dan berkarakter melalui Gebyar Suronan PPBPN 2026,” ungkap Ki Cokro Santri.

Melalui penyelenggaraan Gebyar Suronan 2026, PPBPN berharap masyarakat semakin memahami bahwa Bulan Suro bukanlah bulan yang identik dengan hal-hal mistis atau menakutkan.

Sidhikara Pusaka menjadi simbol penghormatan terhadap pusaka sebagai warisan sejarah, budaya dan kearifan leluhur

Sebaliknya, bulan tersebut merupakan waktu yang tepat untuk melakukan introspeksi diri, meningkatkan ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa, mempererat tali persaudaraan, serta menumbuhkan kecintaan terhadap budaya dan tradisi yang telah diwariskan oleh para leluhur.

Panitia PPBPN menyampaikan apresiasi dan ucapan terima kasih kepada WARUNG SOTO KUDUS BOEKIT KENTJANA, Dirgantara 1, Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, atas dukungan dan partisipasinya dalam menyukseskan penyelenggaraan Gebyar Suronan 2026.

Dengan semangat gotong royong dan kebersamaan, Gebyar Suronan 2026 diharapkan menjadi agenda budaya yang terus berkembang dan mampu menjadi media edukasi bagi generasi muda agar semakin mencintai, menjaga, serta melestarikan warisan budaya Nusantara sebagai identitas bangsa Indonesia.

Ervinna

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *