Presiden Prabowo: Bantah Stigma Bangsa Malas Tidak Benar, Tegaskan Rakyat Indonesia Berjuang Keras Demi Kehidupan

Nasional106 Dilihat

DetikSR.id Jakarta, Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto menegaskan bahwa anggapan yang menyebut masyarakat Indonesia sebagai bangsa yang malas merupakan stereotipe yang tidak sesuai dengan kenyataan.

Menurutnya, rakyat Indonesia setiap hari bekerja keras dan berjuang di berbagai sektor demi memenuhi kebutuhan hidup dan memberikan masa depan yang lebih baik bagi keluarganya.

Pernyataan tersebut disampaikan Presiden Prabowo saat memberikan sambutan pada acara groundbreaking proyek LNG Abadi Masela, pada (16/7/2026).

Dalam pidatonya, Prabowo menyoroti masih adanya pihak-pihak yang memandang rendah bangsa Indonesia serta menganggap keramahan masyarakat Indonesia sebagai bentuk kelemahan.

“Memang ada pihak-pihak yang selalu memandang rendah bangsa Indonesia, yang selalu menganggap remeh bangsa Indonesia, yang selalu mengejek bangsa Indonesia di belakang punggung kita. Mungkin karena bangsa kita dikenal baik dan ramah, sehingga dinilai lemah,” ujar Prabowo.

Kepala Negara menilai pandangan tersebut tidak mencerminkan realitas kehidupan masyarakat Indonesia.

Ia menolak anggapan bahwa rakyat Indonesia gemar bermalas-malasan atau tidak memiliki etos kerja yang tinggi.

“Kita dibilang bangsa yang santai, kita dibilang bangsa yang malas, bahwa rakyat Indonesia, para pribuminya hobinya tidur. Padahal rakyat kita berjuang keras dari hari ke hari untuk mencari kehidupan yang layak,” tegasnya.

Prabowo kemudian menggambarkan beratnya perjuangan masyarakat di berbagai daerah. Menurutnya, jutaan rakyat Indonesia menjalani pekerjaan dengan risiko tinggi dan kondisi yang tidak mudah, mulai dari nelayan yang menghadapi gelombang laut, petani yang mengolah sawah sejak dini hari, hingga masyarakat di pedesaan yang harus mencari air, kayu bakar, dan memenuhi kebutuhan hidup dengan kerja keras.

“Mereka yang berlayar di laut mencari makan, mencari ikan itu mempertaruhkan nyawa. Di mana-mana rakyat kita kerja keras. Tapi kalau iklim begitu panas, ya kearifan nenek moyang mengajarkan kita menghindari panas pada saat terik matahari,” kata Prabowo.

Presiden juga menegaskan bahwa kebiasaan masyarakat beristirahat ketika matahari berada di puncak bukanlah bentuk kemalasan, melainkan bagian dari kearifan lokal yang telah diwariskan turun-temurun untuk menyesuaikan aktivitas dengan kondisi iklim tropis.

“Ada bangsa-bangsa yang tidak melihat bahwa rakyat kita bangun sangat pagi. Ada yang ke sawah, ada yang ke ladang, ada yang mencari air, mencari kayu, ada yang berburu, ada yang melaut di saat gelap, dan kembalinya pun di saat gelap,” ujarnya.

Melalui pernyataannya tersebut, Prabowo mengajak seluruh masyarakat untuk menumbuhkan rasa percaya diri sebagai bangsa dan tidak terpengaruh oleh stigma negatif yang merendahkan Indonesia.

Ia menegaskan bahwa kerja keras rakyat merupakan modal utama dalam membangun kemandirian nasional dan mewujudkan Indonesia yang lebih maju.

Pidato Presiden itu sekaligus menjadi bentuk apresiasi terhadap dedikasi jutaan pekerja Indonesia yang setiap hari berjuang di berbagai sektor, mulai dari pertanian, perikanan, perkebunan, hingga sektor informal, sebagai tulang punggung perekonomian nasional.

Pemerintah, menurut Prabowo, akan terus berupaya menghadirkan pembangunan yang mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan memperkuat posisi Indonesia di mata dunia.

Ervinna

Posting Terkait

Jangan Lewatkan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *