Presiden Timor-Leste Puji Toleransi di Indonesia: Muslim dan Katolik Hidup Berdampingan Damai, Kerukunan di Tengah Keberagaman

Berita164 Dilihat

DetikSR.id Jakarta, Presiden Timor-Leste José Ramos-Horta memuji kehidupan toleransi dan kerukunan antarumat beragama di Indonesia. Menurut dia, kehidupan masyarakat Indonesia yang mayoritas Muslim, tetapi mampu hidup berdampingan secara damai dengan umat Katolik dan pemeluk agama lainnya, merupakan contoh yang patut menjadi teladan bagi dunia.

Hal itu disampaikan Ramos-Horta saat menghadiri pertemuan bersama Presiden ke-5 Republik Indonesia Megawati Soekarnoputri dan sejumlah peraih Nobel serta ilmuwan dunia di Megawati Institute, Menteng, Jakarta, pada (28/8/2026).

Dalam pertemuan tersebut, Ramos-Horta menyoroti karakter Indonesia sebagai negara dengan penduduk Muslim terbesar di dunia sekaligus memiliki komunitas Kristen, termasuk Katolik, dalam jumlah besar.

“Indonesia adalah negara dengan mayoritas Muslim terbesar di dunia, tetapi juga memiliki lebih banyak umat Katolik daripada banyak negara di Eropa,” ujar Ramos-Horta.

Ramos-Horta menyebut jumlah umat Katolik dan Protestan di Indonesia diperkirakan mencapai 30 juta hingga 40 juta jiwa. Secara khusus, jumlah umat Katolik disebut berada di kisaran 10 juta hingga 14 juta jiwa.

Menurut Ramos-Horta, jumlah tersebut bahkan lebih besar dibandingkan populasi umat Katolik di sejumlah negara Eropa.

Namun, besarnya komunitas keagamaan tersebut tidak menjadi penghalang bagi masyarakat Indonesia untuk membangun kehidupan sosial yang rukun.

Ia mengaku terkesan melihat bagaimana masyarakat Indonesia mempertahankan toleransi di tengah keberagaman agama, budaya, dan latar belakang sosial.

“Saya katakan, ya, mereka mayoritas Muslim, tetapi mereka juga punya lebih banyak umat Katolik daripada beberapa negara Eropa, yang hidup dengan cara yang paling damai, saling bertoleransi, dan saling menerima,” kata Ramos-Horta.

Indonesia Dinilai Jadi Contoh Kerukunan

Ramos-Horta menilai pengalaman Indonesia dalam mengelola keberagaman memiliki arti penting, bukan hanya bagi masyarakat Indonesia, tetapi juga bagi masyarakat internasional.

Menurut dia, kehidupan masyarakat yang terdiri atas berbagai kelompok agama dan budaya membutuhkan sikap saling menghormati serta kesediaan untuk hidup berdampingan.

Dalam pandangannya, Indonesia menunjukkan bahwa perbedaan agama tidak selalu menjadi sumber konflik.

Sebaliknya, keberagaman dapat menjadi kekuatan apabila masyarakat memiliki komitmen untuk menjaga toleransi dan saling menerima.

Pujian tersebut disampaikan Ramos-Horta dalam forum yang mempertemukan sejumlah tokoh Indonesia dan dunia. Pertemuan itu juga menjadi ruang dialog mengenai berbagai persoalan global, termasuk tantangan kemanusiaan dan lingkungan.

Puji Ketangguhan Rakyat Indonesia Hadapi Bencana

Selain berbicara mengenai toleransi, Ramos-Horta turut menyoroti ketangguhan masyarakat Indonesia dalam menghadapi berbagai bencana alam.

Ia mengatakan kondisi geografis Indonesia membuat negara kepulauan tersebut menghadapi tantangan alam yang tidak ringan. Indonesia memiliki populasi lebih dari 300 juta jiwa yang tersebar di ribuan pulau.

Dengan kondisi geografis tersebut, Indonesia kerap menghadapi berbagai bencana, mulai dari gempa bumi hingga banjir besar.

Meski demikian, Ramos-Horta menilai masyarakat Indonesia memiliki kemampuan untuk bangkit setiap kali menghadapi bencana.

“Alam tidak begitu bersahabat dengan Indonesia karena terus-menerus mengalami gempa bumi dan banjir yang besar. Namun demikian, setiap kali terjadi, rakyat Indonesia selalu bangkit kembali. Dan setiap kali bangkit, mereka menjadi lebih baik,” ujarnya.

Ramos-Horta menilai daya tahan masyarakat Indonesia menjadi salah satu kekuatan penting bangsa tersebut dalam menghadapi berbagai tantangan.

Ia juga memberikan apresiasi terhadap karakter masyarakat Indonesia yang dinilainya tetap mampu mempertahankan keramahan dan kehangatan di tengah berbagai persoalan.

“Terlepas dari semua tantangan tersebut, rakyat Indonesia selalu tetap menjadi orang-orang yang paling ramah dan paling hangat di dunia,” pungkas Ramos-Horta.

Pernyataan Presiden Timor-Leste itu sekaligus menggambarkan pandangannya terhadap Indonesia sebagai negara yang tidak hanya memiliki keberagaman agama dan budaya, tetapi juga memiliki masyarakat dengan daya tahan sosial yang kuat dalam menghadapi berbagai tantangan.

Ervinna

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *