Rupiah Kembali Tertekan, Gubernur BI Ungkap Ancaman Higher for Longer dan Gejolak Dolar AS

Berita73 Dilihat

DetikSR.id Jakarta, Nilai tukar rupiah kembali menghadapi tekanan di tengah meningkatnya ketidakpastian pasar keuangan global. Penguatan dolar Amerika Serikat (AS), tingginya imbal hasil aset AS, perubahan arah aliran modal global, hingga gejolak harga minyak dunia menjadi sejumlah faktor yang membuat Bank Indonesia (BI) harus memperkuat langkah stabilisasi nilai tukar.

Gubernur Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti mengatakan tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, tidak dapat dilepaskan dari kondisi keuangan global yang masih ketat. Fenomena higher for longer, yakni suku bunga global bertahan pada level tinggi dalam waktu lebih lama, dinilai dapat meningkatkan daya tarik aset keuangan negara maju dan berpotensi mengubah arah aliran modal ke negara berkembang.

Destry menyampaikan hal tersebut dalam rapat bersama Komisi XI DPR RI di Kompleks Parlemen, Jakarta, pada (28/9/2026).

“Kita akan menghadapi situasi atau fenomena yang dinamakan higher for longer, yang pada akhirnya memberikan tekanan kepada negara emerging market, khususnya terkait aliran modal yang masuk ke negara emerging market, termasuk Indonesia,” ujar Destry.

Menurut Destry, kondisi tersebut menjadi salah satu tantangan utama yang harus diantisipasi BI. Pergerakan modal global memiliki keterkaitan erat dengan stabilitas nilai tukar dan kondisi eksternal perekonomian Indonesia.

Ketika investor global menghadapi imbal hasil yang lebih menarik di negara maju, terutama AS, sebagian modal dapat bergeser dari pasar negara berkembang. Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan permintaan terhadap dolar AS sekaligus menambah tekanan terhadap mata uang domestik.

Dolar AS Menguat, Rupiah Kembali Tertekan

Tekanan terhadap rupiah tercermin dalam perkembangan nilai tukar sepanjang September 2026.

Data BI menunjukkan rupiah pada 22 September 2026 berada di sekitar Rp17.855 per dolar AS atau melemah 0,78% secara point to point dibandingkan posisi akhir Agustus.

Rupiah sebelumnya sempat menunjukkan penguatan hingga pertengahan September. Namun, perubahan sentimen di pasar keuangan global kembali menekan mata uang domestik seiring meningkatnya ketidakpastian mengenai arah kebijakan moneter global.

Tekanan tersebut berlanjut dalam perdagangan berikutnya. Berdasarkan Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) BI, rupiah berada di level Rp17.883 per dolar AS pada 22 September, kemudian melemah ke Rp17.898 pada 24 September dan Rp17.917 pada 25 September 2026.

Pergerakan tersebut menunjukkan bahwa tekanan terhadap rupiah masih berlangsung ketika pasar global menghadapi perubahan ekspektasi terhadap kebijakan suku bunga, khususnya di AS.

BI mencatat kondisi moneter global kembali lebih ketat. Sementara itu, Federal Funds Rate AS pada September 2026 berada di kisaran 3,75%-4,00%.

Level suku bunga tersebut membuat aset keuangan berdenominasi dolar AS tetap menjadi salah satu instrumen yang menarik bagi investor global, terutama ketika ketidakpastian meningkat.

Dampaknya tidak hanya terasa di pasar valuta asing. Ketika investor mengurangi eksposur terhadap aset negara berkembang, arus modal masuk ke Indonesia dapat melambat atau bahkan berbalik arah.

Jika kondisi tersebut berlangsung secara bersamaan dengan meningkatnya permintaan dolar AS, tekanan terhadap rupiah dapat semakin kuat.

Harga Minyak Tambah Tekanan

Selain dinamika dolar AS dan arus modal, BI juga mencermati perkembangan harga minyak dunia sebagai salah satu sumber risiko eksternal.

Kenaikan harga minyak menjadi persoalan penting bagi Indonesia karena dapat meningkatkan kebutuhan devisa untuk membiayai impor energi. Apabila harga minyak bertahan tinggi, tekanan terhadap neraca perdagangan dan transaksi berjalan dapat meningkat, terutama jika kenaikan nilai impor energi tidak diimbangi peningkatan penerimaan ekspor.

Dalam perkembangan September, BI mencatat harga minyak dunia sempat menembus US$132 per barel sebelum kembali turun ke bawah US$100 per barel pada 22 September.

Bank sentral juga menilai meningkatnya tensi geopolitik di Timur Tengah menjadi salah satu faktor yang mendorong kenaikan harga energi dan komoditas global.

Dengan demikian, tekanan terhadap rupiah tidak berasal dari satu faktor tunggal. Penguatan dolar AS, tingginya imbal hasil aset AS, potensi pergeseran arus modal, kenaikan harga energi, serta ketidakpastian geopolitik secara bersamaan menciptakan tekanan eksternal yang harus dikelola BI.

Di tengah tekanan tersebut, BI memilih mempertahankan BI-Rate pada level 5,75% dalam Rapat Dewan Gubernur pada 22-23 September 2026.

BI juga mempertahankan Deposit Facility sebesar 4,75% dan Lending Facility sebesar 6,50%.

Kebijakan tersebut diarahkan untuk memperkuat stabilitas nilai tukar sekaligus menjaga inflasi tetap berada dalam sasaran 2,5% plus-minus 1% pada 2026 dan 2027, tanpa mengabaikan kebutuhan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi.

Keputusan mempertahankan suku bunga menunjukkan bahwa BI menghadapi kebutuhan untuk menyeimbangkan beberapa sasaran sekaligus. Di satu sisi, stabilitas rupiah perlu dijaga di tengah tekanan eksternal. Di sisi lain, kebijakan moneter tetap harus mempertimbangkan momentum pertumbuhan ekonomi domestik.

Destry menegaskan BI akan menggunakan bauran kebijakan untuk merespons tekanan eksternal tersebut.

“Bank Indonesia akan merespons tantangan tersebut melalui bauran kebijakan yang adaptif dan terintegrasi,” tegas Destry.

Untuk menjaga stabilitas rupiah, BI tidak hanya mengandalkan instrumen suku bunga. Bank sentral juga mengoptimalkan berbagai instrumen moneter dan pasar keuangan.

Salah satu langkah yang ditempuh adalah memperkuat operasi stabilisasi nilai tukar melalui instrumen di pasar valuta asing, termasuk transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore, serta transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik.

BI juga memperluas insentif untuk transaksi lindung nilai atau hedging. Kebijakan tersebut diarahkan untuk meningkatkan daya tarik arus modal ke Indonesia sekaligus memberikan instrumen bagi pelaku pasar untuk mengelola risiko nilai tukar.

Dalam kebijakan terbarunya, BI memperluas transaksi underlying pendanaan luar negeri yang dapat memperoleh insentif pengurangan premi untuk instrumen lindung nilai.

Jika sebelumnya insentif tersebut terutama mencakup portfolio inflows, cakupannya diperluas hingga pinjaman luar negeri oleh bank dan investasi langsung asing atau foreign direct investment (FDI).

Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya BI mempertahankan daya tarik pasar keuangan domestik ketika imbal hasil aset di negara maju masih relatif tinggi.

Kurangi Ketergantungan Terhadap Dolar AS

BI juga terus mendorong penggunaan mata uang lokal dalam transaksi bilateral melalui skema Local Currency Transaction (LCT).

Kebijakan tersebut diarahkan untuk mengurangi ketergantungan transaksi perdagangan dan investasi terhadap dolar AS.

Hingga saat ini, BI telah mengimplementasikan kerja sama LCT dengan tujuh negara mitra, yakni Jepang, Korea Selatan, Malaysia, Singapura, Thailand, China, dan Uni Emirat Arab.

Penggunaan mata uang lokal diharapkan dapat memperkuat diversifikasi transaksi valuta asing sekaligus mengurangi kebutuhan pelaku usaha untuk selalu melakukan konversi melalui dolar AS.

BI juga memperkuat likuiditas mata uang mitra seperti yuan dan yen di pasar keuangan domestik.

Strategi tersebut menjadi semakin relevan ketika gejolak dolar AS berpotensi meningkatkan biaya transaksi dan risiko nilai tukar bagi pelaku usaha yang memiliki kebutuhan pembayaran dalam mata uang AS.

Tekanan terhadap rupiah pada akhirnya merupakan bagian dari persoalan yang lebih luas di pasar keuangan global.

BI memperkirakan pertumbuhan ekonomi dunia pada 2026 masih relatif lemah, sekitar 3%, sementara inflasi global diperkirakan meningkat menjadi sekitar 4,6%.

Kondisi tersebut membatasi ruang bagi negara berkembang untuk mengandalkan arus modal global sebagai sumber pembiayaan.

Ketika investor menghadapi ketidakpastian tinggi, perubahan ekspektasi terhadap suku bunga, pergerakan imbal hasil obligasi, maupun peningkatan risiko geopolitik dapat memicu perubahan alokasi portofolio secara cepat.

Bagi Indonesia, tantangannya bukan semata-mata mencegah setiap pelemahan rupiah. Yang lebih penting adalah memastikan pergerakan nilai tukar tetap terkendali sehingga tidak berkembang menjadi tekanan yang lebih luas terhadap inflasi, stabilitas keuangan, maupun aktivitas ekonomi.

Karena itu, BI menegaskan akan terus mengoptimalkan seluruh instrumen moneter, memperkuat pendalaman pasar uang dan pasar valuta asing, serta menjaga daya tarik aset domestik.

Bank sentral memperkirakan stabilitas rupiah ke depan tetap dapat ditopang oleh respons kebijakan stabilisasi, imbal hasil aset domestik yang menarik, inflasi yang terkendali, serta prospek ekonomi Indonesia.

Namun, ruang gerak rupiah dalam beberapa pekan mendatang tetap akan sangat ditentukan oleh perkembangan dolar AS, arah kebijakan moneter global, arus modal, harga minyak dan komoditas energi, serta dinamika geopolitik internasional.

Dengan kata lain, tekanan terhadap rupiah saat ini bukan sekadar persoalan pergerakan kurs harian. Di baliknya terdapat pertarungan daya tarik aset global, perubahan arah modal, risiko energi, dan ketidakpastian kebijakan moneter dunia yang menuntut respons BI secara terukur dan berkelanjutan.

Ervinna

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *