DetikSR.id Jakarta, Indonesia membutuhkan generasi yang tak sekadar unggul secara intelektual, tetapi juga bermental tangguh, berkedalaman spiritual, berkarakter kuat, serta berani menegakkan nilai kemanusiaan.
Gagasan ini menjadi pijakan Sri Eko Sriyanto Galgendu (Romo Eko), Pimpinan Spiritual Nusantara, dalam menginisiasi pembangunan manusia yang utuh melalui Sastrajendra Living Academy (SLA).
Menurut Romo Eko, pendidikan tidak sebatas transfer pengetahuan. Pendidikan adalah proses membentuk manusia yang paham arti kehidupan, mampu mengolah kesadaran, dan berani mengambil tanggung jawab.
“Sastrajendra Living Academy bukan sekadar ruang menambah ilmu, melainkan wadah pembentukan manusia yang mempertemukan intelektualitas, spiritualitas, kebudayaan, kemanusiaan, kepemimpinan, dan kesadaran ekologis,” ujar Romo Eko, Rabu (26/8/2026).
Sinergi Cipta, Rasa, dan Karsa
Romo Eko menegaskan bahwa kemajuan bangsa menuntut manusia yang dapat menggunakan pengetahuan secara bijaksana. Spiritualitas pun tak boleh berhenti pada hafalan norma, melainkan harus terwujud dalam perilaku sehari-hari: kejujuran, kepedulian pada sesama, dan kelestarian alam. Pengetahuan tanpa kebijaksanaan berisiko menjadi instrumen kepentingan, sementara spiritualitas tanpa daya kritis akan kehilangan relevansi nyata.
Dalam kerangka SLA, pendidikan manusia wajib mengembangkan tiga unsur secara seimbang:
Cipta: Melahirkan kemampuan berpikir kritis, meneliti, dan mengembangkan ilmu.
Rasa: Menumbuhkan empati, kepekaan sosial, dan penghormatan pada kehidupan.
Karsa: Memberi keberanian untuk menerjemahkan gagasan menjadi tindakan nyata.
Filosofi Nusantara dan Tantangan Modern
Pembentukan karakter ini juga berpijak pada nilai kebudayaan Nusantara. Konsep Jawa Jagad Gedhe (alam semesta) dan Jagad Cilik (diri manusia) mengingatkan bahwa manusia adalah bagian dari ekosistem yang saling terhubung. Di tengah krisis lingkungan dan konflik sosial modern, ilmu pengetahuan seharusnya mendekatkan manusia pada alam, bukan memisahkannya.
Nilai utama SLA juga berakar pada filosofi Sastrajendra Hayuningrat Pangruwating Diyu bahwa ilmu sejati harus meningkatkan kesadaran, meredam ego, dan memicu kerendahan hati. Prinsip ini berpadu dengan Memayu Hayuning Bawana, yaitu komitmen etis untuk merawat keharmonisan dunia, memperindah kehidupan, dan menjaga kebudayaan.
Menuju Peradaban Baru
Sastrajendra Living Academy hadir untuk melahirkan manusia yang matang, terbuka, dan bertanggung jawab. Sastrajendra Living Academy mengusung arah transformasi yang jelas:
– Dari keyakinan menuju karya.
– Dari pengetahuan menuju kebijaksanaan.
– Dari kesadaran menuju tanggung jawab.
– Dari gagasan menuju peradaban.
Pada akhirnya, kebesaran suatu bangsa tidak diukur dari seberapa tinggi ia menempatkan diri, melainkan seberapa besar manfaat yang ia berikan bagi kehidupan. Melalui SLA, pendidikan menemukan makna terdalamnya:
bukan sekadar membuat manusia semakin tahu, melainkan semakin sadar untuk apa pengetahuan itu digunakan dan bagi siapa manfaatnya dipersembahkan.
Ervinna











