Sastrajendra Living Academy (SLA) Perkuat Mental Spiritual dan Tata Organisasi Berbasis Pengabdian

Organisasi40 Dilihat

DetikSR.id Bekasi – Dalam upaya memperkuat kebersamaan serta menyusun langkah strategis untuk membangun mental spiritual masyarakat, Sastrajendra Living Academy (SLA) menggelar sarasehan dan diskusi organisasi di Resto Sauciko, Cikunir, Bekasi, Kamis (25/6/2026).

Kegiatan ini menjadi momentum untuk mengevaluasi berbagai program yang telah dijalankan selama satu tahun terakhir, sekaligus merumuskan arah pengembangan organisasi ke depan. Sebagai lembaga pelestarian budaya dan pengembangan spiritualitas, SLA berkomitmen mengembangkan ajaran Sastrajendra sebagai ilmu kehidupan yang dapat dipelajari oleh seluruh lapisan masyarakat tanpa memandang usia, latar belakang, maupun status sosial.

Dalam sarasehan tersebut, para peserta membahas penguatan tata organisasi yang berlandaskan semangat pengabdian, pembelajaran, dan pelestarian nilai-nilai budaya. Organisasi diarahkan untuk membangun budaya kebersamaan yang tidak bertumpu pada yang bersifat transaksional, melainkan pada kesadaran untuk saling bertumbuh, berbagi manfaat, dan menghidupi nilai-nilai luhur dalam kehidupan sehari-hari.

Selain membahas program kerja mendatang, forum ini juga menjadi ruang refleksi untuk memperdalam pemahaman para pengurus terhadap inti ajaran Sastrajendra, sekaligus menyusun strategi agar nilai-nilai yang terkandung di dalamnya dapat dipahami secara lebih universal dan relevan bagi masyarakat modern.

Evaluasi dan perumusan program berlangsung melalui beberapa agenda penting yang mencakup penguatan visi organisasi, pengembangan sumber daya manusia, serta penataan struktur dan mekanisme kerja yang lebih efektif.

Acara dibuka oleh sesepuh SLA, Toni Junus Kanjeng Gung, dan dihadiri oleh 28 anggota. Kegiatan dilanjutkan dengan pemaparan dari Ketua SLA, Dr. Bambang Hayunanto, yang menekankan pentingnya melakukan evaluasi diri secara berkelanjutan agar setiap individu mampu menjadi pribadi yang memberi manfaat bagi sesama.

“Hurip iku murub,” ungkapnya.

 

Ia juga menjelaskan pentingnya memahami ajaran Sastrajendra sebagai jalan menuju kedewasaan spiritual, dari fase Kanoman, menuju Kasepuhan, hingga mencapai Kasampurnan, sehingga seseorang tidak berhenti hanya pada pencarian dan semangat masa muda saja, tetapi mampu mencapai kematangan batin yang memberi manfaat bagi kehidupan yang lebih luas.

Sarasehan berlangsung secara interaktif dengan memberikan kesempatan kepada seluruh peserta untuk menyampaikan gagasan, kritik, dan masukan. Berbagai usulan tersebut diharapkan dapat menjadi landasan dalam menyusun program kerja yang lebih efektif, berkelanjutan, serta selaras dengan tujuan spiritual dan budaya yang diemban oleh SLA.

Kegiatan ditutup dengan ramah tamah dan sesi foto bersama sebagai simbol kebersamaan dan komitmen untuk terus mengembangkan Sastrajendra sebagai warisan budaya yang hidup dan relevan bagi masyarakat masa kini.(Ervinna)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *