Seskab Teddy dan Mensos Gus Ipul Bahas Kesiapan Program Sekolah Rakyat Tahun Ajaran 2026, Pemerintah Bidik 45 Ribu Anak Putus Sekolah dan Keluarga Miskin

Berita88 Dilihat

DetikSR.id Jakarta, Sekretaris Kabinet (Seskab) Teddy Indra Wijaya langsung menggelar rapat bersama Menteri Sosial (Mensos) Saifullah Yusuf atau Gus Ipul di Kantor Sekretariat Kabinet, Jakarta, sesaat setelah kembali dari kunjungan kenegaraan Presiden Prabowo Subianto ke Prancis.

Pertemuan tersebut difokuskan pada pemantapan pelaksanaan Program Sekolah Rakyat yang dijadwalkan mulai menerima peserta didik pada tahun ajaran baru Juli 2026. Program unggulan pemerintah ini menjadi salah satu upaya strategis untuk memperluas akses pendidikan bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu, anak putus sekolah, hingga mereka yang belum pernah mengenyam pendidikan formal.

Dalam keterangannya, Teddy menjelaskan bahwa pemerintah tengah memastikan seluruh persiapan berjalan sesuai rencana agar pembukaan Sekolah Rakyat dapat berlangsung optimal.
“Dalam pertemuan tersebut dibahas pemantapan pembukaan Sekolah Rakyat tahun ajaran baru yang akan dimulai pada Juli 2026,” ujar Teddy.
dikutip dari akun Instagram Sekretariat Kabinet,
Pada (31/5/2026)

Program Sekolah Rakyat yang digagas Presiden Prabowo dirancang sebagai model pendidikan terpadu yang tidak hanya menyediakan layanan pendidikan, tetapi juga fasilitas penginapan, layanan kesehatan, serta dukungan kehidupan yang layak bagi peserta didik.

Pemerintah menargetkan program ini mampu menjangkau lebih dari 45.000 anak dari berbagai kelompok rentan di seluruh Indonesia. Sasaran utama program mencakup anak-anak dari keluarga miskin dan miskin ekstrem, anak putus sekolah, serta anak-anak yang selama ini belum memiliki akses terhadap pendidikan formal.

Menurut Teddy, kehadiran Sekolah Rakyat diharapkan menjadi solusi nyata dalam memutus rantai kemiskinan antargenerasi melalui peningkatan kualitas sumber daya manusia sejak usia sekolah.
“Program ini ditargetkan mampu memberikan akses pendidikan, penginapan, kesehatan, dan kehidupan layak kepada lebih dari 45 ribu anak dari keluarga kurang mampu, anak putus sekolah, maupun anak yang selama ini belum pernah menimba pendidikan formal,” jelasnya.

Selain membahas pelaksanaan program secara nasional, rapat juga menyoroti rencana penyekolahan sekitar 1.000 anak kurang mampu, anak tidak bersekolah, dan anak jalanan di Jakarta melalui 10 Sekolah Rakyat yang telah dipersiapkan pemerintah.

Sejumlah lokasi sekolah tersebut sebelumnya telah ditinjau langsung oleh pemerintah guna memastikan kesiapan sarana dan prasarana menjelang dimulainya kegiatan belajar mengajar.
Langkah ini diharapkan menjadi proyek percontohan yang nantinya dapat diterapkan secara lebih luas di berbagai daerah di Indonesia.
“Rencana penyekolahan 1.000 anak kurang mampu, anak tidak bersekolah, serta anak jalanan di Ibu Kota Jakarta melalui 10 Sekolah Rakyat, termasuk sekolah-sekolah yang telah ditinjau bulan lalu,” kata Teddy.

Teddy menegaskan bahwa Program Sekolah Rakyat merupakan bagian dari komitmen Presiden Prabowo untuk menghadirkan kesempatan pendidikan yang setara bagi seluruh anak Indonesia tanpa memandang latar belakang ekonomi maupun sosial.

Pemerintah ingin memastikan setiap anak memperoleh akses pendidikan yang berkualitas, lingkungan belajar yang aman dan nyaman, serta bekal yang memadai untuk meningkatkan kesejahteraan mereka di masa depan.

“Presiden Prabowo menginginkan seluruh anak Indonesia tanpa terkecuali memiliki kesempatan pendidikan yang sama dengan fasilitas yang layak dan nyaman, serta memberi kesempatan dan bekal bagi setiap anak untuk meraih masa depan yang lebih baik dan lebih sejahtera,” ungkap Teddy.

Sebelum menghadiri rapat tersebut, Teddy diketahui mendampingi Presiden Prabowo dalam kunjungan kenegaraan ke Prancis pada 26–29 Mei 2026.

Kunjungan tersebut menghasilkan sejumlah capaian penting dalam penguatan hubungan bilateral Indonesia–Prancis. Kedua negara sepakat memperluas kerja sama di berbagai sektor strategis, termasuk ekonomi, investasi, perdagangan, energi, dan pertahanan.

Salah satu hasil utama dari kunjungan tersebut adalah peluncuran forum bisnis tingkat tinggi France–Indonesia High Level Business Council, yang mempertemukan para pemimpin dunia usaha dari kedua negara untuk memperkuat kemitraan ekonomi jangka panjang.
Forum tersebut menghasilkan empat kesepakatan komersial baru dengan nilai total mencapai USD 3,5 miliar atau sekitar Rp61,25 triliun.

Kesepakatan itu mencakup kerja sama di bidang ketahanan energi, perdagangan, dan pertahanan yang diharapkan dapat membuka peluang investasi serta memperkuat hubungan ekonomi antara Indonesia dan Prancis.
Dengan fokus pada penguatan kerja sama internasional sekaligus pembangunan sumber daya manusia di dalam negeri melalui Program Sekolah Rakyat, pemerintah berharap berbagai kebijakan yang dijalankan dapat memberikan manfaat langsung bagi masyarakat, terutama kelompok yang selama ini memiliki keterbatasan akses terhadap pendidikan dan layanan dasar.

Ervinna

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *