DetikSR.id PURWOKERTO — Tradisi membangunkan sahur yang selama ini identik dengan bunyi kentongan kini hadir dalam balutan seni pertunjukan yang memikat. Melalui *Tarian Lur Sahur*, Sanggar Seni Panginyongan menghadirkan inovasi budaya yang tidak hanya menghibur, tetapi juga sarat makna.
Tarian ini dikembangkan oleh Randhi Haryangningtyastomo, yang juga merupakan owner sekaligus koreografer Sanggar Seni Panginyongan di Purwokerto. Ia mengolah tradisi sederhana masyarakat menjadi sebuah karya tari yang penuh nilai estetika dan simbolik.
“Tradisi membangunkan sahur adalah bagian dari kehidupan masyarakat yang sangat dekat. Kami mencoba mengemasnya menjadi pertunjukan yang tetap berakar pada budaya lokal, tetapi bisa dinikmati oleh generasi sekarang,” ujar Randhi.Senin (23/3/2026)
Dalam pertunjukannya, Tarian Lur Sahur menampilkan gerakan dinamis yang terinspirasi dari aktivitas warga saat membangunkan sahur. Para penari bergerak dalam formasi kelompok, membunyikan alat-alat sederhana, serta berinteraksi satu sama lain, menciptakan suasana kebersamaan yang hangat. Ritme yang digunakan pun menyerupai tabuhan kentongan khas dini hari di bulan Ramadan.
Nuansa budaya Banyumasan menjadi kekuatan utama dalam tarian ini. Mulai dari iringan musik hingga gaya gerak, semuanya mencerminkan identitas lokal yang kental. Namun, sentuhan kreatif modern membuat tarian ini tetap relevan dan menarik bagi penonton masa kini.
Tidak hanya sebagai hiburan, Tarian Lur Sahur juga memiliki nilai edukatif. Karya ini menjadi media pembelajaran budaya bagi generasi muda, sekaligus upaya pelestarian tradisi di tengah arus modernisasi. Kehadirannya diharapkan mampu menumbuhkan kembali kecintaan terhadap budaya lokal.
Pengamat seni menilai, karya seperti Tarian Lur Sahur menunjukkan bahwa tradisi dapat terus hidup jika diolah secara kreatif. Transformasi dari aktivitas sehari-hari menjadi seni pertunjukan menjadi bukti bahwa budaya bersifat dinamis dan adaptif terhadap perkembangan zaman.
Melalui Tarian Lur Sahur, Sanggar Seni Panginyongan tidak hanya memperkaya khazanah seni pertunjukan Indonesia, tetapi juga mengangkat kembali nilai kebersamaan yang menjadi ruh utama Ramadan. Tradisi membangunkan sahur pun kini menjelma menjadi identitas budaya yang membanggakan masyarakat.(Red/DJ)






