Theresia Dewi, Project Consultant General Manager Vinoti: Di Era AI, Kantor Bukan Sekadar Beli Teknologi: Ruang untuk Berpikir Jadi Kunci

Berita42 Dilihat

DetikSR.id JAKARTA, — Gelombang adopsi kecerdasan buatan (AI) di dunia kerja tidak hanya mengubah cara perusahaan beroperasi, tetapi juga memaksa pemilik bisnis memikirkan ulang fungsi kantor. Data Steelcase Global Employee Research 2025 dan WorkSpace Futures (Gallup 2024–2025) menunjukkan 78 persen pemimpin di bidang fasilitas dan real estat berencana mendesain ulang tempat kerja mereka dalam dua hingga tiga tahun ke depan akibat integrasi AI.

Namun, di Indonesia, pemaknaan atas “kantor di era AI” masih sering terjebak pada pembelian perangkat teknologi canggih. Padahal, menurut Theresia Dewi, Project Consultant General Manager Vinoti, persoalan mendasar yang perlu dijawab justru bukan soal teknologi, melainkan bagaimana menciptakan ruang yang mampu mengurangi kelelahan kognitif dan mendorong fokus.

“Investasi IT jelas harus dilakukan untuk menggantikan fungsi rutinitas dengan robotik, pengurangan beban, dan efisiensi. Tetapi yang saat ini dilakukan tim Corporate Real Estate (CRE) adalah mencari bentuk yang paling sesuai dengan arah perusahaan dan kebutuhan ruang fokus, ruang kerja, kolaborasi, dan lain-lain,” ujar Theresia

Ia menilai, banyak perusahaan lokal belum sepenuhnya memahami bahwa krisis sesungguhnya bukan pada kurangnya perangkat digital, melainkan pada ruang untuk berpikir. Untuk menjembatani pemahaman itu, Vinoti menggagas wadah Design For Life (DFL) yang akan menggelar event kolaboratif pada Oktober mendatang bersama pakar dari AWS, Zoom, dan desainer Aedas untuk membahas tren workplace ke depan.

Living on Screen dan Krisis Kognitif

Riset Steelcase juga mencatat 59 persen hari kerja karyawan kini habis di depan layar, baik untuk bekerja maupun rapat daring. Fenomena living on screen ini berbarengan dengan apa yang disebut sebagai krisis kognitif: kemampuan untuk fokus menjadi semakin mahal di tengah distraksi tanpa henti dan tekanan kesehatan mental.

Menurut Theresia, Vinoti menerjemahkan kebutuhan “Room to Think” itu melalui pendekatan community-based design. Artinya, ruang kerja tidak lagi dirancang seragam, melainkan menyesuaikan kriteria pekerjaan, komunitas, dan lingkungan masing-masing pengguna.

“Penyesuaian kriteria pekerjaan, komunitas, dan lingkungan akan membentuk pola tersendiri dengan mengadaptasi kebutuhan dari masing-masing usernya,” jelasnya.

Pendekatan ini, lanjut dia, bukan sekadar gimmick desain seperti penambahan tanaman atau material akustik tertentu. Yang benar-benar berdampak adalah bagaimana zonasi ruang dibentuk berdasarkan perilaku dan kebutuhan nyata penggunanya, sehingga kelelahan kognitif bisa ditekan secara signifikan.

Tantangan Kultur Kerja Indonesia

Konsep Workplace Districts yang diperkenalkan Steelcase — meliputi City Center, Neighborhoods, Business District, Urban Parks, dan University District — lahir dari riset di Amerika Serikat. Bagaimana implementasinya di kultur kerja Indonesia yang masih hirarkis dan meeting-oriented?

Theresia menjelaskan, analogi Workplace Districts dari Steelcase sebenarnya menggambarkan kebutuhan ruang yang harus disesuaikan dengan konteks lokal. Ia memberikan pemetaan sebagai berikut:

Untuk culture implementasi di Indonesia lebih disesuaikan dengan cara kerja masing2 company, seperti
1. City centre – lebih ke arah Multi national & national company di CBD area.
2. ⁠Neighborhood/ focus ke arah private company atau Law office yang butuh banyak ruangan tertutup/ focus works.
3. ⁠university – school: perusahaan besar yang mempunyai training in-house , university / institusi, dll

Meski demikian, ia tidak menampik bahwa pendekatan community-based design menghadapi kendala sosial di Indonesia. Salah satu hambatan utama adalah tingkat kematangan pekerja yang belum merata, sehingga konsep Neighborhoods untuk fokus bisa disalahartikan sebagai perilaku antisosial.

“Bagian sosial ini memang menjadi salah satu kendala dari para pemilik perusahaan lokal untuk menerapkan community-based design apabila pekerja mereka belum dewasa atau matang. Maka perlu diimbangi dengan pengembangan dan perubahan kultur dari organisasi perusahaan tersebut,” tegas Theresia.

Ia menambahkan, perusahaan yang mampu bertahan adalah mereka yang mau beradaptasi dan berubah sesuai tuntutan zaman. Ia pun mengingatkan pentingnya belajar dari sejarah.

“Jangan mengulangi kesalahan yang dilakukan salah satu brand ponsel terhadap pesaing smartphone-nya yang berkembang sangat pesat, di mana yang satu akhirnya mati,” pungkasnya.

Talkshow “ROOM TO THINK: Designing Workspaces for the AI Era” yang diinisiasi vinoti | VIVERE COMMERCIAL ini juga menghadirkan Bingah Suseno, Principal of TULA Interiors, dari perspektif desainer. Diskusi ditutup dengan pertanyaan reflektif bagi pemilik bisnis dan desainer interior di Indonesia: ketika AI mengambil alih eksekusi dan otomasi, kantor harus mengembalikan apa yang tidak bisa digantikan AI — ruang untuk berpikir, ruang untuk berdebat sehat, dan ruang untuk menjadi komunitas.(*/Red)

Vinoti | VIVERE Commercial

Vinoti, bagian dari VIVERE Group, merupakan commercial solution provider yang menghadirkan solusi terintegrasi untuk kebutuhan workplace dan ruang komersial. Didukung oleh berbagai global partner brands, termasuk Steelcase, Vinoti menghadirkan solusi yang menggabungkan produk, insight berbasis riset, serta kebutuhan bisnis dan penggunanya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *