DetikSR.id Jakarta, Presiden Prabowo Subianto menginstruksikan Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin untuk mempercepat transformasi sistem kesehatan nasional melalui perluasan Program Cek Kesehatan Gratis (CKG), penguatan penanggulangan Tuberkulosis (TBC), peningkatan kualitas rumah sakit daerah, serta pemerataan layanan kesehatan hingga ke pelosok Indonesia.
Instruksi tersebut disampaikan setelah Menteri Kesehatan melaporkan perkembangan berbagai Program Hasil Terbaik Cepat (PHTC) atau quick wins sektor kesehatan yang telah menunjukkan capaian signifikan dan mulai dirasakan manfaatnya oleh masyarakat di seluruh Indonesia.
Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya menjelaskan bahwa pemerintah terus berupaya memperkuat layanan kesehatan yang berorientasi pada pencegahan, deteksi dini, pengobatan, dan pemerataan akses kesehatan sebagai bagian dari agenda besar pembangunan sumber daya manusia Indonesia.
Menurut Teddy, Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) sebagai salah satu program prioritas pemerintah telah menunjukkan perkembangan yang sangat positif.
Pada tahun 2025, lebih dari 70 juta penduduk telah mengikuti pemeriksaan kesehatan melalui program tersebut.
Sementara pada tahun 2026, pelaksanaan CKG telah menjangkau lebih dari 42,3 juta peserta yang tersebar di 38 provinsi di seluruh Indonesia.
Tidak hanya berfokus pada pemeriksaan kesehatan dan deteksi dini penyakit, pemerintah kini mengarahkan program tersebut agar memberikan manfaat yang lebih nyata melalui layanan pengobatan dan pendampingan kesehatan secara langsung.
“Mulai tahun ini, program CKG memprioritaskan tindak lanjut berupa pengobatan dan penyembuhan oleh petugas Puskesmas, termasuk pemberian obat-obatan dan monitoring kesehatan secara gratis bagi masyarakat yang mengalami hipertensi maupun diabetes,” ujar Teddy dalam keterangan di Jakarta, pada (10/6/2026).
Kebijakan ini diharapkan mampu menekan angka komplikasi penyakit tidak menular yang selama ini menjadi salah satu penyebab utama kematian dan beban pembiayaan kesehatan nasional.
Selain CKG, pemerintah juga memberikan perhatian besar terhadap upaya penanggulangan TBC yang masih menjadi salah satu tantangan kesehatan utama di Indonesia.
Teddy menyampaikan bahwa program penanggulangan TBC yang diluncurkan tahun lalu telah menunjukkan hasil yang menggembirakan. Dengan semakin masifnya kegiatan skrining dan pendeteksian kasus di masyarakat, pemerintah mampu mengidentifikasi penderita lebih cepat sehingga pengobatan dapat dilakukan secara efektif.
Berdasarkan laporan yang diterima Presiden, estimasi jumlah kasus TBC pada tahun 2026 tercatat sekitar 1,08 juta kasus dan terus menjadi fokus penanganan nasional.
Untuk mempercepat eliminasi TBC, pemerintah menghadirkan sejumlah inovasi pelayanan, di antaranya integrasi pemeriksaan TBC dengan Program CKG serta penerapan layanan One Stop Service (OSS) di Puskesmas.
Melalui sistem OSS, masyarakat dapat memperoleh layanan skrining, diagnosis, hingga pengobatan TBC dalam satu kunjungan dan di fasilitas kesehatan yang sama pada hari yang sama.
“Semakin banyak kasus yang berhasil ditemukan sejak dini, maka semakin cepat pula pasien mendapatkan pengobatan sehingga risiko penularan dapat ditekan,” kata Teddy.
Program prioritas lainnya adalah peningkatan kualitas layanan kesehatan melalui pembangunan dan peningkatan status rumah sakit daerah, khususnya di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T).
Pemerintah menargetkan sebanyak 66 Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) mengalami peningkatan kapasitas dari Kelas D menjadi Kelas C sehingga mampu menyediakan layanan kesehatan yang lebih lengkap dan berkualitas.
Pada tahun 2025, sebanyak 20 dari 22 RSUD yang menjadi target pembangunan telah selesai dibangun dan 10 rumah sakit di antaranya sudah mulai beroperasi melayani masyarakat.
Sementara itu, pada tahun 2026, sebanyak 14 dari 20 RSUD yang direncanakan telah memasuki tahap pembangunan. Adapun 24 RSUD lainnya masih berada dalam tahap perencanaan dan akan dilaksanakan pada tahun 2027.
Program ini diharapkan mampu mengurangi kesenjangan layanan kesehatan antarwilayah dan memperkuat kemampuan daerah dalam menangani berbagai kasus medis tanpa harus merujuk pasien ke kota-kota besar.
Dalam laporannya
kepada Presiden, Menteri Kesehatan juga menyampaikan keberhasilan pendistribusian 905 alat kesehatan utama ke 258 kabupaten dan kota di seluruh Indonesia.
Peralatan tersebut meliputi berbagai teknologi medis modern seperti:
* Cathlab (kateterisasi jantung).
* CT Scan.
* Mamografi.
* MRI.
* Linear Accelerator (Linac) untuk terapi kanker.
Distribusi alat kesehatan tersebut merupakan bagian dari strategi pemerintah untuk meningkatkan kualitas diagnosis dan pengobatan penyakit kritis di daerah sehingga masyarakat dapat memperoleh layanan kesehatan modern tanpa harus bepergian jauh ke pusat-pusat layanan kesehatan nasional.
Teddy juga mengungkapkan bahwa pembangunan Rumah Sakit Umum Pusat Jayapura telah selesai dan siap diresmikan oleh Presiden Prabowo dalam waktu dekat.
Rumah sakit tersebut diproyeksikan menjadi pusat rujukan kesehatan utama bagi kawasan timur Indonesia sekaligus berperan sebagai hub layanan kesehatan untuk wilayah Pasifik dan Oseania.
Keberadaan RSUP Jayapura diharapkan dapat meningkatkan akses masyarakat terhadap layanan kesehatan spesialistik dan subspesialistik yang selama ini masih terbatas di kawasan timur Indonesia.
Selain RSUP Jayapura, pemerintah juga melaporkan perkembangan pembangunan Rumah Sakit Umum Pusat Riau yang saat ini telah mencapai progres sekitar 85 persen.
Rumah sakit tersebut ditargetkan selesai dan dapat diresmikan pada Desember 2026.
Pemerintah berharap kehadiran RSUP Riau dapat menjadi pusat layanan kesehatan unggulan di wilayah Sumatra bagian tengah sehingga masyarakat tidak lagi harus mencari pengobatan ke luar negeri untuk mendapatkan layanan medis berkualitas tinggi.
Sebagai bagian dari rencana jangka menengah dan panjang, Menteri Kesehatan juga melaporkan program revitalisasi besar-besaran terhadap 514 RSUD di seluruh kabupaten dan kota di Indonesia, termasuk perbaikan tata kelola layanan kesehatan.
Selain itu, pemerintah menargetkan revitalisasi sekitar 10.000 Puskesmas, Puskesmas Pembantu, dan Laboratorium Kesehatan Masyarakat yang tersebar di berbagai kecamatan dan kelurahan.
Program tersebut diharapkan mampu memperkuat layanan kesehatan primer sebagai garda terdepan pelayanan masyarakat sekaligus meningkatkan kualitas deteksi dini penyakit, pencegahan, dan promosi kesehatan.
Berbagai langkah strategis yang dijalankan pemerintah tersebut merupakan bagian dari komitmen Presiden Prabowo untuk membangun sistem kesehatan nasional yang lebih kuat, merata, modern, dan berkelanjutan.
Melalui perluasan akses layanan kesehatan, penguatan fasilitas medis, modernisasi peralatan kesehatan, serta peningkatan kualitas sumber daya kesehatan, pemerintah berupaya memastikan seluruh rakyat Indonesia, baik yang berada di perkotaan maupun daerah terpencil, dapat memperoleh pelayanan kesehatan yang berkualitas, cepat, dan terjangkau.
Transformasi kesehatan yang tengah berlangsung ini diharapkan menjadi fondasi penting dalam mewujudkan Indonesia yang lebih sehat, produktif, dan berdaya saing menuju visi Indonesia Emas 2045.
Ervinna






