DetikSR.id Jakarta, Pupuk urea produksi Indonesia kini menjadi komoditas yang diperebutkan sejumlah negara di tengah gejolak pasokan global. Lonjakan harga dan terganggunya rantai distribusi internasional menempatkan Indonesia pada posisi strategis sebagai salah satu penopang kebutuhan pupuk dunia.
Kondisi geopolitik global, terutama gangguan distribusi di kawasan Selat Hormuz, telah memicu kelangkaan pupuk di berbagai negara. Dampaknya, harga urea global melonjak tajam.
Pada awal April 2026, harga urea tercatat berada di kisaran USD 690 hingga USD 701 per ton, naik hampir dua kali lipat dibandingkan awal Januari 2026 yang berada di kisaran USD 350 hingga USD 380 per ton.
Situasi ini mendorong sejumlah negara mulai melirik Indonesia sebagai sumber pasokan alternatif.
Wakil Menteri Pertanian, Sudaryono, mengungkapkan bahwa negara-negara seperti India, Australia, dan Filipina telah menunjukkan minat untuk mengimpor pupuk urea dari Indonesia.
“Kondisi ini membuat banyak negara di dunia kini membutuhkan pasokan urea dari Indonesia. Kita adalah salah satu produsen urea terbesar di dunia,” ujarnya pada (15/4/2026).
Di sisi industri, PT Pupuk Indonesia (Persero) menegaskan bahwa ketahanan pasokan nasional tetap terjaga.
Direktur Utama Rahmad Pribadi menyampaikan bahwa total kapasitas produksi pupuk nasional mencapai 14,8 juta ton per tahun, dengan produksi urea sebesar 9,4 juta ton.
Dari total kapasitas tersebut, Indonesia memiliki ruang ekspor sekitar 1,5 hingga 2 juta ton urea per tahun, tergantung pada kebutuhan dalam negeri.
Kebijakan ini memungkinkan Indonesia merespons peluang ekspor tanpa mengorbankan pasokan bagi petani domestik.
“Dari 9,4 juta ton total kapasitas produksi urea, kita bisa ekspor antara 1,5 sampai 2 juta ton tergantung dari kebutuhan dalam negeri,” jelas Rahmad.
Meski peluang ekspor terbuka lebar, pemerintah tetap menempatkan kebutuhan dalam negeri sebagai prioritas utama.
Penyaluran pupuk bersubsidi dan ketersediaan stok untuk sektor pertanian nasional tetap dijaga agar tidak terdampak oleh dinamika pasar global.
Di tengah tekanan pasokan global, posisi Indonesia justru semakin kuat. Kapasitas produksi yang besar, dukungan bahan baku, serta efisiensi industri menjadi faktor utama yang membuat Indonesia mampu memainkan peran strategis di pasar pupuk internasional.
Selain memberikan tambahan devisa negara, peluang ekspor ini juga memperkuat posisi Indonesia sebagai stabilisator pasokan pupuk dunia. Namun demikian, pemerintah menegaskan bahwa peran tersebut harus dijalankan secara seimbang.
“Ini adalah peluang sekaligus tanggung jawab untuk menjaga keseimbangan pasokan global,” tegas Sudaryono.
Dengan kondisi tersebut, Indonesia tidak hanya menjadi pemain utama, tetapi juga berpotensi menjadi penentu stabilitas harga dan pasokan pupuk urea di tengah ketidakpastian global yang masih berlangsung.
Ervinna






