Wirasajendra SLA, Memperkenalkan Meditasi Gerak Oleh Nyi Anggrek dan Ajis Larungsukma

Budaya104 Dilihat

DetikSR.id Jakarta – Sastrajendra Living Academy merupakan pengembangan basic spiritual yang dapat dipelajari oleh semua kalangan, tanpa batas latar belakang, usia, maupun pengalaman batin sebelumnya.

Sastrajendra—yang dalam pemaknaan tertentu dipahami sebagai “sastra haryo indra”—bukan sekadar ajaran, melainkan laku batin: sebuah jalan untuk ngasah roso, menajamkan kepekaan terdalam manusia hingga menyentuh kesejatian dirinya. Di dalamnya, manusia tidak hanya berpikir atau merasa, tetapi belajar menyelaraskan seluruh unsur diri—lahir dan batin—dalam satu kesadaran utuh.

Laku ini berangkat dari kesadaran bahwa manusia selalu ditemani dan dijaga oleh empat unsur dasar yang membentuk watak dan geraknya. Unsur-unsur itu adalah bumi, bayu, tirta, dan agni yang bukan sekadar konsep, melainkan kekuatan hidup yang terus berinteraksi dalam diri. Maka, pengolahan diri tidak cukup dilakukan melalui diam, tetapi melalui penghayatan yang hidup dan bergerak, mengikuti karakter alami masing-masing unsur tersebut.

Meditasi Gerak NYI Anggrek, Wakil Sesepuh SLA

Di sinilah Wirasajendra dari SLA menemukan bentuknya. Berbeda dari meditasi duduk diam yang menekankan keheningan statis, Wirasajendra menghadirkan meditasi dalam gerak—di mana tubuh, napas, dan rasa disatukan dalam irama yang selaras dengan alam. Setiap gerakan bukan sekadar fisik, melainkan ekspresi kesadaran; setiap tarikan napas bukan hanya proses biologis, melainkan jembatan antara diri dan semesta.

Dari penghayatan seperti inilah pernah lahir apa yang kemudian dikenal sebagai “tarian semesta”, yang dipopulerkan oleh Mbah Prapto Suryodarmo. Dalam praktiknya, tubuh tidak lagi digerakkan oleh kehendak ego, tetapi oleh kesadaran yang lebih dalam—seakan-akan tubuh menjadi medium bagi gerak alam itu sendiri. Gerak menjadi spontan, namun tetap terarah; bebas, namun tidak liar.

Romo Tony Junus Kanjeng ngGung Sesepuh SLA

Jika ditarik perbandingan, pendekatan ini memiliki kemiripan dengan praktik seperti Tai Chi, yang juga menggabungkan gerak lambat, pernapasan, dan kesadaran oleh para biksu di masa lalu di perguruan Shaolin, dan kemudian dikenal melalui sosok seperti Zhang Sanfeng, seorang pertapa Tao legendaris yang konon hidup di pegunungan Wudang, serta Chen Wangting (sekitar 1580–1660), seorang petarung dan cendekiawan Tiongkok yang dianggap sebagai pendiri aliran Chen dari Tai Chi Chuan.

Namun Wirasajendra memiliki kekhasan tersendiri: ia berakar pada pengolahan roso—rasa yang halus dan intuitif—yang menjadi inti dalam tradisi batin Nusantara.

NYI Anggrek Wakil Sesepuh SLA

Sebagai bagian dari laku yang lebih luas, Wirasajendra dapat dipahami sebagai sebuah metode untuk memasuki penghayatan mendalam terhadap alam, hingga batas antara diri dan semesta menjadi kabur. Pada titik tertentu, yang terjadi bukan lagi sekadar latihan, melainkan peleburan: tubuh, napas, rasa, dan lingkungan hadir dalam satu kesatuan pengalaman.

Dengan demikian, Wirasajendra bukan hanya teknik gerak atau latihan pernapasan. Ia adalah proses kristalisasi kesadaran—
– di mana tubuh menjadi bahasa,
– napas menjadi irama, dan
– rasa menjadi penuntun—menuju pengalaman hidup yang lebih utuh, lebih jernih, dan lebih menyatu dengan asalnya.(Red)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *