Yusril Tegaskan Bukan Penulis Buku Islam Ala Prabowo: “Saya Hanya Diwawancarai”

Berita116 Dilihat

DetikSR.id Jakarta, Menteri Koordinator Bidang Hukum, Hak Asasi Manusia, Imigrasi, dan Pemasyarakatan (Menko Kumham Imipas) Yusril Ihza Mahendra menegaskan bahwa dirinya bukan penulis buku berjudul Islam Ala Prabowo: Cara Prabowo Subianto Mengamalkan Ajaran Islam yang belakangan menjadi perbincangan publik.

Yusril menjelaskan bahwa keterlibatannya dalam buku tersebut sebatas sebagai narasumber yang diwawancarai oleh tim penyusun. Ia menyatakan tidak pernah terlibat dalam proses penggagasan buku, pembahasan judul, maupun pembiayaan penerbitannya.

“Saya tidak menulis buku itu. Saya hanya diwawancarai oleh tim penyusunnya,” kata Yusril di Jakarta, pada (8/9/2026).

Menurut Yusril, wawancara tersebut dilakukan jauh sebelum dirinya dilantik sebagai menteri dalam Kabinet Merah Putih. Setelah memberikan wawancara, ia mengaku tidak pernah menerima atau melihat kembali transkrip wawancara maupun naskah buku hingga karya tersebut diterbitkan.

Yusril juga mengaku sudah tidak mengingat secara pasti siapa pihak yang mewawancarainya karena wawancara tersebut berlangsung cukup lama. Ia bahkan tidak mengetahui dengan pasti apakah orang yang melakukan wawancara merupakan bagian langsung dari tim penyusun buku.

Setelah buku tersebut beredar, Yusril mengaku baru membaca isinya secara utuh. Ia menilai sebagian besar keterangan yang disampaikannya dalam wawancara telah dituangkan dengan cukup baik oleh penyusun.

Yusril menegaskan bahwa pandangan yang disampaikan dalam wawancara merupakan pemikirannya sendiri dan dapat dipertanggungjawabkan secara akademik.

“Saya baru membaca buku itu secara utuh sampai selesai. Apa yang saya sampaikan dalam wawancara tersebut merupakan pandangan saya dan tentu dapat saya pertanggungjawabkan secara akademik,” ujarnya.

Ia mengatakan tidak keberatan apabila pandangan dan pemikirannya dimuat dalam buku tersebut. Menurut dia, yang perlu diluruskan adalah posisi dirinya agar publik tidak menganggap bahwa ia merupakan penulis atau pihak yang berada di balik penerbitan buku tersebut.

“Saya tidak keberatan pandangan tersebut dimuat dan saya siap mempertanggungjawabkannya secara akademik,” tutur Yusril.

Yusril juga meminta masyarakat tidak terburu-buru memberikan penilaian terhadap sebuah buku hanya berdasarkan judul atau potongan informasi yang beredar.

Menurut dia, sebuah karya, terlebih yang memuat pembahasan akademik dan pandangan sejumlah tokoh, sebaiknya dibaca secara menyeluruh agar konteks pemikirannya dapat dipahami dengan baik.

“Saya kira kita perlu membiasakan diri membaca dan memahami substansinya terlebih dahulu sebelum memberikan penilaian. Jangan sampai kita hanya berdebat mengenai judul, sementara isi bukunya sendiri belum pernah dibaca dengan saksama,” ungkapnya.

Ia menilai perdebatan yang hanya berfokus pada judul berpotensi menimbulkan persepsi yang tidak sesuai dengan isi keseluruhan buku.

Karena itu, Yusril mendorong masyarakat untuk melihat substansi, konteks, serta keseluruhan pembahasan sebelum menarik kesimpulan mengenai sebuah karya.

Buku Islam Ala Prabowo: Cara Prabowo Subianto Mengamalkan Ajaran Islam diluncurkan dalam rangkaian Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) 2025 di Jakarta pada 26 Agustus 2025.

Dalam keterangan BAZNAS dan pemberitaan saat peluncuran, buku tersebut disebut diinisiasi oleh Ketua MPR RI Ahmad Muzani bersama Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH Anwar Iskandar.

Buku tersebut membahas berbagai pandangan mengenai hubungan antara Islam, kehidupan berbangsa, serta praktik keagamaan Presiden Prabowo Subianto. Dalam proses penyusunannya, sejumlah tokoh dan narasumber turut memberikan pandangan melalui wawancara.

Nama Yusril kemudian turut dikaitkan dengan buku tersebut karena keterlibatannya sebagai salah satu narasumber yang memberikan keterangan kepada tim penyusun.

Selain meluruskan statusnya sebagai narasumber, Yusril juga menanggapi pencantuman namanya dalam bagian hak cipta buku tersebut.

Ia mengaku tidak pernah diajak berkomunikasi atau dimintai persetujuan sebelumnya terkait pencantuman namanya dalam bagian tersebut.
Menurut Yusril, pencantuman tersebut kemungkinan berkaitan dengan kontribusi berupa wawancara yang pernah dilakukannya.

Namun, ia menilai persoalan tersebut tidak perlu dibesar-besarkan karena buku tersebut melibatkan banyak penulis dan sumber.

“Kalau pun ada, mungkin berkaitan dengan bagian wawancara saya, tetapi mengenai pencantuman itu saya tidak pernah diajak bicara. Saya sendiri tidak terlalu mempersoalkan soal hak cipta,” ujar Yusril.

Dengan klarifikasi tersebut, Yusril menegaskan bahwa kontribusinya dalam buku Islam Ala Prabowo terbatas pada pemberian pandangan sebagai narasumber.

Ia tidak terlibat dalam penulisan, penentuan judul, proses penggagasan, maupun pembiayaan penerbitan buku.
Yusril juga menegaskan bahwa sepanjang menyangkut pandangan yang ia sampaikan dalam wawancara, dirinya siap mempertanggungjawabkannya secara akademik.

Ervinna

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *